Kamis, 21 Desember 2017

Dissapointing Books I Read in 2017

 
1. Brida, Paulo Coelho


Buku ini bercerita tentang Brida yang ingin mempelajari sihir (atau seperti itulah yang saya pahami). Saya membeli buku ini karena pernah membaca resensi yang mengatakan buku ini bagus. Ditambah dengan nama Paulo Coelho yang juga dianggap sebagai penulis berkualitas. 

Ternyata, setelah membaca buku ini beberapa halaman, saya merasa buku ini “nggak saya banget”. Namun, saya mencoba untuk terus membaca hingga bagian pertengahan buku. Tetap saja saya merasa nggak nyambung, nggak ngerti, dan nggak tertarik dengan kisah si Brida. Entah mengapa, buat saya kisahnya aneh sekali.

Mungkin saya yang nggak bisa memahami bahasa tinggi dari Paulo Coelho atau memang buku itu tidak cocok untuk saya, yang jelas saya merasa buku Brida ini mengecewakan sekali. Saya pikir saya akan terpesona dengan buku ini. Ternyata tidak sama sekali.

2. Toriad, Ziggy Z.


Setelah membaca Lucid Dream dan terpukau karenanya, saya penasaran dong dengan karya Ziggy lainnya. Jadi, waktu ada obralan buku dan menemukan Toriad dan Saving Ludo di antara tumpukan buku itu, saya langsung membelinya tanpa pikir panjang.

Ternyata eh ternyata, saya benar-benar tidak paham dengan jalan cerita di Toriad ini. Awalnya sih bagus, cerita tentang petualangan seorang anak dan gerombolannya. Tetapi pas sampai di negeri Toriad inilah saya nggak mengerti, sebenarnya cerita ini konflik utamanya di mana sih. Kok tiba-tiba kita dihadapkan pada masalah Toriad.

Saya memaklumi kalau ini karya Ziggy di lini Fantasteen, yang berarti sewaktu menulisnya, dia masih muda. Toh, selama produktif menulis, karya-karya yang dihasilkan akan semakin bagus.

Baca juga ulasan saya tentang karya Ziggy di sini.

3. Memorabilia, Sheva


Sebenarnya agak berat juga saya meletakkan Memorabilia di list ini. Karena sebenarnya, ceritanya tidak mengecewakan-mengecewakan amat. Hanya saja, saya merasa ada yang kurang di novel ini. Seperti kurang sesuatu yang membuat pembaca benar-benar merasa tersentuh dan bersimpati dengan tokoh-tokoh di novel ini.

Saya membayangkan Memorabilia semacam novel istimewa yang cocok dibaca di kala hujan sambil menyeruput kopi. Apalagi gaya menulis si penulis yang saya baca di blognya mendukung hal itu. Tetapi, ketika membaca novelnya, saya merasa sedikit kecewa. Mungkin karena ekspektasi saya juga yang terlalu tinggi terhadap Memorabilia.

Meskipun begitu, saya tetap menunggu dan ingin membaca karya-karya Sheva selanjutnya.

4. Orange, Windry Ramadhina


Sejak membaca Montase, lalu dilanjut dengan London dan Walking After You, saya semakin mantap menjadi Windry Ramadhina sebagai salah satu penulis lokal favorit saya. Oleh karena itu, saya ingin membaca semua karya-karyanya, terutama yang temanya menarik bagi saya.

Orange adalah novel pertama Windry yang katanya laris di pasaran dan dicetak ulang dengan cover baru dan beberapa perbaikan dan tambahan di isinya. Nah, suatu hari di blognya, si penulis menjual buku-bukunya yang sudah agak susah didapatkan di toko buku. Salah satu judul buku yang ditawarkan adalah Orange. Tanpa pikir panjang saya pun ikut memesan

Saya tahu Orange adalah novel perdananya. Tetapi saya berpikir, yang saya beli kan versi cetak ulang yang katanya sudah dipoles lagi. Pastilah seharusnya lebih bagus dari Orange versi pertama dan novel-novel sebelumnya.

Ternyata setelah saya baca, ceritanya biasa saja dan cukup klise. Saya nggak terlalu bersimpati dengan tokoh Faye apalagi dengan Diyan. Entahlah. Padahal hampir semua tokoh Windry saya suka, lho. Kecuali pasangan ini saja.

5. The Truth about Forever, Sarah Dessen


Setelah membaca Along for the Ride dan menyukainya, saya penasaran dengan karya-karya Sarah Dessen lainnya. Salah satu yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia adalah The Truth about Forever. Omong-omong, saya beli buku ini sudah lama, tetapi baru bacanya tahun ini.

Saya tidak tahu sih, apakah ada beda jika saya membacanya dulu, sebelum saya menikah dengan sesudah menikah. Yang jelas, saya benar-benar suka sekali dengan Along for the Ride dan seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Auden. Sementara, di The Truth about Forever saya merasa ada yang kurang. Entah di bagian mana yang kurang. Mungkin karena alur ceritanya datar dan kurang bergejolak kali ya. Atau karena alur ceritanya yang cukup lambat, padahal untuk beberapa hal sudah dapat ditebak.

Meskipun begitu, saya tetap suka dengan latar belakang tokoh Macy. Tipikal anak baik-baik yang selalu menurut perintah orang tua tetapi sebenarnya merindukan petualangan atau sesuatu yang berbeda dalam hidupnya.

Itulah lima buku yang mengecewakan saya tahun ini. Bukan berarti kelima buku tersebut berkualitas jelek. Tetapi mungkin ekspektasi saya yang terlalu tinggi terhadap buku-buku tersebut. Atau selera saya yang ternyata tidak cocok dengan buku-buku itu. Yah, sekali lagi ini masalah selera.

Semoga tahun 2018 banyak buku menyenangkan dan mengesankan yang saya baca. Bagaimana denganmu, apa buku yang paling mengecewakan yang kamu baca tahun ini?

Best Books I Read in 2017


1. The Life-Changing Magic of Tidying Up, Marie Kondo


Isi buku ini bagus banget. Meskipun terkesan sebagai buku tips beres-beres, menurut saya buku ini lebih dari itu. Berbagai hal yang ditulis Marie Kondo tentang beberes rumah ternyata berpengaruh kepada kehidupan kita sehari-hari. Pokoknya, layak baca banget, deh! Benar-benar buku yang layak dibaca bagi siapa pun yang ingin mengubah hidupnya dan kesehariannya menjadi lebih baik.

2. Jejak-Jejak Cinta, Tony Raharjo


Buku ini termasuk buku underrated. Buku yang kurang terkenal. Saya pun membaca buku ini boleh pinjam dari koleksi perpustakaan kantor. Walaupun sampulnya tampak sederhana, isinya sangat istimewa. Tulisan-tulisan di dalamnya menasihati saya dengan cara yang lembut dan tanpa merasa digurui. Silakan baca selengkapnya di sini.

3. Sadar Penuh Hadir Utuh, Adjie Silarus


Buku ini juga boleh pinjam punya teman sekantor saya. Saya tertarik membaca buku ini karena judulnya. Entah mengapa, setelah membaca judulnya, saya merasa saya butuh membaca buku ini. Ternyata apa yang saya pikir benar. Buku ini sangat bagus dan memang dibutuhkan saya di masa-masa seperti ini. Masa di mana segala fokus dan perhatian terbagi ke mana-mana. Terjebak rutinitas tanpa menikmati momen yang terlewati. 

Baca juga ulasan saya tentang buku ini di sini

4. Lukisan Dorian Gray, Oscar Wilde


Salah satu dari sedikit buku klasik yang saya baca tahun ini dan membuat saya ingin membaca lebih banyak buku klasik lagi tahun depan. Meskipun di dalam buku ini terdapat banyak paragraf panjang, yang bisa jadi membosankan bagi sebagian orang, bagi saya tidak sama sekali.

Saya suka dengan setiap kalimat yang ditulis Oscar Wilde di buku ini. Bagaimana ia mengungkapkan perasaannya, pikirannya, pendapatnya terhadap kehidupan lewat tokoh-tokoh yang ada di buku ini. Saya berharap Oscar Wilde menerbitkan novel lain selain Lukisan Dorian Gray. Sayangnya, harapan saya tidak akan terkabul karena Lukisan Dorian Gray adalah satu-satunya novel yang ditulis Oscar Wilde. 

Baca juga ulasan saya tentang buku ini di sini

5. Awe-Inspiring-Me, Dewi Nur Aisyah 


Awalnya, saya tidak terlalu tertarik membaca buku ini karena menyangka buku ini diperuntukkan bagi muslimah muda. Usia sekitar SMA hingga kuliah. Tetapi karena buku ini juga salah satu koleksi perpustakaan kantor, saya iseng-iseng membacanya.

Ternyata isinya bagus dan nggak hanya untuk remaja muda. Meskipun memang jauh lebih cocok untuk mereka, tetapi buat saya juga masih cocok. Masih banyak hal-hal yang sering saya lupakan atau abaikan,  diingatkan kembali di buku ini. Dan cara penulis menyajikan tulisannya itu enak sekali, seperti sedang diajak ngobrol tanpa merasa digurui. Menurut saya, untuk buku-buku self-help, membuat pembaca tidak merasa digurui adalah syarat mutlak. 

Baca juga ulasan saya tentang buku ini di sini.


Baiklah, itu lima buku terbaik yang saya baca di tahun 2017. Sebenarnya masih ada beberapa lagi, sih. Tetapi kan judulnya “Best Books”, jadi saya pilih benar-benar yang menurut saya “The Best”.

Empat dari lima buku yang saya sebutkan adalah non-fiksi. Keempatnya sangat layak dibaca siapa saja yang ingin hidupnya lebih baik dari hari-hari kemarin. Sedangkan satu novel klasik itu tergantung selera masing-masing.

Semoga tahun 2018, makin banyak buku bagus yang saya temukan dan baca. Bagaimana denganmu, apa buku terbaik yang kamu baca di tahun 2017?

Senin, 04 Desember 2017

7 Novel yang Cocok Dibaca di Musim Hujan



1. Angel in the Rain – Windry Ramadhina


Dari judulnya saja, sudah memakai kata hujan. Angel in the Rain cocok untuk pecinta cerita cinta yang manis dan romantis, tetapi dengan kadar gula yang tidak berlebihan sehingga tidak menimbulkan diabetes, hehehe. Angel in the Rain adalah kisah yang dimulai di musim hujan, berakhir di musim hujan, dengan keajaiban payung merah dan kehadiran malaikat yang turun saat hujan. 

2. Heartwarming Chocolate – Prisca Primasari


Cerita ini memang tidak berlatar di musim hujan. Tetapi ada minuman cokelat lezat di dalamnya. Dan minuman cokelat paling enak diminum saat musim hujan. Jadi, bagi saya ini cerita yang cocok dibaca di musim hujan. Masih cerita cinta juga, kalau yang ini, manis dan malu-malu dengan sedikit teka-teki yang bikin penasaran. Novelnya tidak terlalu tebal. Mungkin akan tamat dibaca sampai hujan reda. Kecuali kalau hujan turun semalaman, hehehe.

3. Chocolat – Joanne Harris


Cokelat lagi? Iya, bagaimana dong, saya suka cokelat, sih, hehehe. Kali ini ceritanya tentang wanita pengembara yang pandai membuat cokelat. Cokelat buatannya sangat enak dan dia bisa memilihkan cokelat yang cocok untuk kepribadianmu atau masalahmu saat itu. Membaca novel ini sungguh dapat membuatmu mengidam cokelat. Jadi, saya sarankan sebelum membaca novel ini, siapkanlah setidaknya sebatang cokelat atau segelas minuman cokelat sebagai teman. Oke?

4. Gadis Korek Api – Hans Christian Andersen


Musim hujan adalah waktu yang tepat untuk melamun atau berkelana di dunia peri. Atau setidaknya begitulah menurut saya. Jadi, salah satu buku yang cocok untuk dibaca saat musim hujan adalah kumpulan dongeng H.C. Andersen. Nomor ini merupakan pengecualian dari nomor-nomor lainnya, ya, karena bukan novel.

5. Night Circus - Erin Morgenstern

 
Masih dari dunia khayalan, Night Circus adalah novel yang sooo dreamy. Cerita tentang sirkus dan segala keajaibannya yang menakjubkan dan memukau. Ditambah dengan gaya bahasa indah yang dipakai penulisnya, sangat membantumu membayangkan hal-hal yang ditulisnya.

6. Dash and Lily’s Book of Dares – David Levithan & Rachel Cohn


Kembali lagi ke novel romantis, kali ini dengan kategori Young Adult alias pembaca muda. Yang membuat novel ini sangat cocok dibaca di musim hujan adalah karena latarnya bulan Desember, dan di Indonesia, bulan Desember adalah musim hujan. Jadi, yah, mereka cocok. Cerita tentang dua remaja yang dipertemukan oleh sebuah notebook merah berisi pertanyaan dan tantangan. Apakah yang selanjutnya pada dua remaja dan notebook merah itu? Lebih baik baca sendiri….

7. Heidi – Johanna Spyri


Kisah klasik tentang gadis cilik bernama Heidi dan kehidupannya di Pegunungan Alpen ini dapat menghangatkan hati-hati yang dingin di musim hujan. Jika kamu ingin membaca buku yang menyenangkan sekaligus menghangatkan hati, tanpa bumbu patah hati atau cinta bertepuk sebelah tangan, novel Heidi sangat cocok untukmu.

Itulah 7 novel yang menurut saya cocok dibaca di musim hujan. Bagaimana denganmu? Novel atau buku-buku apa yang menurutmu cocok dibaca musim hujan? Haruskah kisah sendu atau romantis, atau malah kisah thriller dan misteri? Share, yuk di komentar….

Kamis, 23 November 2017

Call from an Angel - Blogtour & Giveaway



Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Penerbit: Spring
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Oktober 2017
ISBN: 978-602-6682-08-6

  
Semua itu terjadi di bandara John F. Kennedy, New York. Madeline baru saja menghabiskan liburan bersama pacarnya, Raphael, dan hendak pulang kembali ke Paris. Sementara itu, Jonathan menjemput anaknya, Charly, untuk menghabiskan liburan Natal bersamanya di San Fransisco.

Restoran di bandara itu penuh sesak. Madeline dan Jonathan sama-sama memburu satu-satunya meja kosong yang masih tersisa. Mereka bertubrukan dan saling memarahi seperti yang bisa dipastikan akan terjadi. Malas berdebat dengan Madeline, Jonathan pun memilih pergi bersama Charly, tanpa menyadari bahwa ia salah mengambil ponsel.

Ketika Madeline telah tiba di Paris dan Jonathan di San Fransisco, mereka baru sadar kalau ponsel mereka tertukar. Kesamaan jenis dan bentuk ponsel membuat mereka tidak menyadari bahwa ponsel yang mereka bawa bukanlah ponsel milik masing-masing.

Jonathan dan Madeline pun bersepakat untuk saling mengirim ponsel ke alamat masing-masing. Namun, sebelum itu, mereka tak bisa menahan godaan untuk tidak membongkar isi ponsel tersebut. Melihat foto-foto, agenda, percakapan, email, pesan suara, dan segala sesuatu yang biasa disimpan orang di ponsel mereka. Masing-masing ponsel itu menyimpan rahasia yang ditutup rapat oleh pemiliknya. Rahasia yang membawa mereka berdua ke dalam penyelidikan penuh kejutan dan bahaya. 

Berhasilkah Madeline dan Jonathan mengungkap rahasia tersebut? Apakah ponsel mereka akan kembali ke tangan masing-masing?

My Review

Ketika melihat sampulnya dan membaca sinopsis di bagian belakang bukunya, yang pertama ada di pikiran saya adalah sebuah kisah romansa yang berawal dari tertukarnya ponsel. Begitu juga saat membaca bab pertama novel ini, saya semakin yakin bahwa novel ini adalah novel romantis penuh cinta. Mungkin kedua tokoh utama kita akan melalui jalan yang rumit dulu sampai akhirnya mereka berdua bertemu lagi dan saling jatuh cinta. Begitulah dugaan saya.

Ternyata saya salah besar. Novel Call from an Angel tidak seromantis kelihatannya. Semakin dibaca, pembaca semakin dibawa ke dalam rahasia misterius yang menegangkan. 

Pada bagian permulaan, Musso menceritakan secara umum keseharian dua tokoh utama kita, Madeline dan Jonathan. Madeline, perempuan Inggris yang tinggal di Paris dan sehari-hari bekerja sebagai floris. Ia memiliki pacar bernama Raphael yang sangat ia sayangi dan menyayanginya. 

Jonathan, seorang duda beranak satu, mantan chef terkenal di Amerika. Tadinya ia memiliki bisnis kuliner yang sangat maju dan berkelas, tetapi semua itu berakhir karena pengkhianatan istrinya, Francesca. Setelah bercerai dengan Francesca, Jonathan meninggalkan hiruk pikuk dunia gastronomi yang telah melambungkan namanya, lalu membuka restoran kecil sederhana bernama French Touch.

Peristiwa tertukarnya ponsel mereka di bandara, membuat Jonathan dan Madeline mengulik kehidupan pribadi masing-masing. Mereka membongkar rahasia yang dikubur rapat-rapat oleh pemilik ponsel dan tanpa disangka, rahasia itu malah membawa mereka pada sebuah takdir yang lain.

Secara keseluruhan, jalan cerita novel ini benar-benar tidak disangka-sangka. Seharusnya saya sudah bisa menebak gaya Musso, mengingat saya telah membaca Girl on Paper yang juga memiliki plot twist tak terduga. Namun, Call from an Angel bukan hanya memiliki plot twist tak terduga, melainkan Musso seolah-olah sengaja membiarkan pembaca mengira ini novel romansa biasa, lalu diam-diam, pelan-pelan, membawa pembaca pada konflik yang benar-benar mengejutkan.

Musso berhasil membuat saya penasaran dengan siapa Madeline dan Jonathan sebenarnya. Takdir apa yang membuat mereka terhubung satu sama lain dan apa yang akan terjadi pada mereka akhirnya.

Dalam novel ini, Musso menekankan tema masa lalu yang akan selalu menghantui kita selama kita tak benar-benar melepaskannya. Masa lalu itu akan terus menghantui kita, mengikuti ke mana kita pergi, mengendalikan kita dalam membuat keputusan yang mungkin saja merusak masa sekarang bahkan masa depan kita. 

Dengan latar waktu bulan Desember, gambaran Paris dan New York di musim salju, berbagai macam bunga di toko bunga Madeline, beraneka macam makanan enak karya Jonathan, dan kasus misterius yang menegangkan, Call from an Angel sangat cocok menjadi teman liburan akhir tahunmu.

Giveaway!

Kamu bisa mendapatkan novel Call from an Angel yang keren dan seru ini secara cuma-cuma dari Penerbit Spring dengan syarat yang mudah sekali. Silakan mampir ke blog-blog peserta blogtour yang ada di banner dan follow IG Penerbit Spring


Penerbit Spring akan mengadakan lomba photoqutoe dari kutipan-kutipan yang tertera di resensi setiap blogger. Karena blog ini adalah blog terakhir dalam rangkaian blogtour, lebih baik kamu segera kunjungi IG Penerbit Spring supaya tahu detil perlombaannya.

Selamat mengikuti giveaway. Semoga beruntung! 

Kutipan-Kutipan


 Mengapa sejak usia muda, manusia selalu mengabaikan saran para ahli?” p. 83

… Cinta itu seperti candu. Awalnya, kau pikir bisa mengendalikannya, tapi kemudian, suatu hari kau sadar bahwa candu itulah yang mengendalikanmu.” p. 114

 Aku selalu menghadapi hidup dengan berani, selalu berdiri tegak dengan hal yang kupercayai. Aku selalu berjuang dalam setiap pertarungan, menulis takdirku sendiri dan menciptakan kesempatanku sendiri, tapi hari ini berbeda. Aku harus menghadapi musuh yang tangguh: diriku sendiri. Musuh utama. yang paling berbahaya.” p. 227

Kalau kau benar-benar merasa ingin lebih baik, kau harus menyingkirkan hantu masa lalu yang terus membebanimu.
Hantu seharusnya tidak terlalu berat, kan?
Tidak, tapi rantai yang mereka seret di belakang mereka sangat berat.” p. 198

Kadang-kadang cinta itu menghancurkan, tapi kadang juga mengkristal dalam karya seni yang menakjubkan.” p. 215