Jumat, 20 Oktober 2017

Resensi Buku: Corat-Coret di Toilet



Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Halaman: 125
ISBN: 9786020303864


Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Eka Kurniawan, salah satu penulis yang karyanya memenangi banyak penghargaan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Saya tidak berekspektasi tinggi saat hendak membaca kumpulan cerpen ini, karena saya tidak terlalu terpengaruh dengan gembar-gembor pujian yang diberikan kepada sang penulis. Meskipun begitu, saya tetap penasaran, memang seperti apa, sih, tulisannya?

Ada sebelas cerita dalam kumcer ini. Saya tidak menangkap adanya benang merah dari seluruh cerita yang ditampilkan, jadi mungkin memang tidak ada tema khusus yang ingin disampaikan. Di resensi kali ini, saya akan mengulas beberapa cerpen yang menurut saya menarik.

Pertama, Corat-Coret di Toilet, yang dipilih menjadi judul utama kumcer ini. Awal membaca, rasanya biasa saja, tentang dinding kamar mandi yang tak pernah bersih dari tangan-tangan usil yang suka numpang curhat. Dari satu tulisan dibalas tulisan lainnya dan terus berbalas. Balas-membalas coretan itu sempat berhenti karena ada sebuah tragedi di toilet (you know lah ya, ‘tragedi’ semacam apa yang bikin orang males masuk toilet), tetapi berlanjut lagi karena ada seorang pahlawan yang kebelet dan harus masuk toilet tersebut. Terus-terus berbalas, hingga sampai di balasan terakhir yang menjadi penutup cerita. Pesannya dapet banget!

Kedua, Siapa Kirim Aku Bunga? Menurut saya, ini sebuah cerita yang romantis, manis, tetapi agak tragis. Tentang Meneer Belanda yang selalu mendapatkan buket bunga dan penasaran dengan si pengirim. Ceritanya sederhana, tetapi entah kenapa, bikin saya ingin menulis cerita tentang gadis penjual bunga juga. Hehehe….

Ketiga, Teman Kencan. Membaca cerita ini seperti kembali ke zaman 90an. Mungkin karena si tokoh utama menelepon dari telepon umum. Saat membacanya saya tidak berpikir keras untuk menebak akan dibawa ke mana cerita ini. Ternyata akhir ceritanya seperti yang sudah sering dialami orang-orang, baik di dunia nyata maupun di dunia fiksi. Yang unik adalah kalimat pertama di cerita ini, “Presiden yang menyebalkan itu tumbang sudah.” Cerita ini ditulis tahun 1999. :)

Ketiga cerita itulah yang paling menarik dan membekas bagi saya. Yang lainnya saya tidak mau berkomentar apa-apa, karena tidak tahu apa yang ingin dikomentari pula. Mungkin kapan-kapan saya akan membaca karya Eka Kurniawan yang lainnya, terutama novelnya. Jujur saja, saya masih penasaran.

Resensi Buku: Mayat dalam Perpustakaan



Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Ny. Suwarnia A.S.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan Ketujuh, April 2012
Halaman: 288
ISBN: 978-979-22-8285-6


Mrs. Bantry sedang bermimpi indah saat pelayannya membangunkannya dan mengabarkan ada mayat di dalam perpustakaan. Awalnya, Mrs. Bantry mengira itu masih termasuk mimpinya. Karena penemuan mayat di dalam perpustakaan persis sekali dengan cerita-cerita detektif yang suka dibacanya. Suaminya, Kolonel Bantry, sepakat bahwa Mrs. Bantry bermimpi dan mayat dalam perpustakaan itu hanya ada di kisah-kisah belaka.

Kenyataannya, Mrs. Bantry tidak bermimpi. Benar ada mayat di dalam perpustakaan. Mayat seorang gadis muda berambut pirang dengan gaun tidur. Gadis itu sepertinya bukan penduduk daerah itu. Entah bagaimana caranya ia bisa ada di dalam perpustakaan dalam kondisi mati dicekik. 

Inspektur Slack dan Polisi Palk datang untuk menyelidiki kejadian. Akan tetapi, Mrs. Bantry punya rencana lain. Ia lebih memilih meminta bantuan Miss Marple, perawan tua yang mahir dalam mengungkap misteri-misteri pembunuhan dan jeli melihat berbagai peristiwa di desa. Mrs. Bantry harus tahu siapa pembunuh gadis itu, mengapa ia dibunuh, dan bagaimana ia bisa sampai ke dalam perpustakaannya. Karena bagaimanapun, reputasinya dan suaminya bisa tercemar dengan adanya kasus ini. 

My Review

Salah satu penulis yang karyanya bikin saya penasaran adalah Agatha Christie. Apa sih yang membuat orang nge-fans banget dengan tulisan-tulisannya? Bukunya diterbitkan berseri-seri, dicetak ulang berkali-kali, bahkan diadaptasi ke dalam film juga.

Buku Agatha Christie yang pertama kali saya baca adalah And Then There Were None atau Sepuluh Anak Negro. Meskipun saya tidak ingat detil ceritanya, tetapi saya masih ingat bagaimana saya dibuat penasaran dan menebak-nebak siapakah pembunuhnya dan bagaimana caranya. Dan saya berhasil dibuat terkejut setelah tahu siapa pembunuhnya dan cara dia membunuh. 

Setelah itu, saya tidak membaca karya Agatha Christie yang mana pun sampai akhirnya sekarang membaca Mayat dalam Perpustakaan. Saya memilih buku ini hanya karena ada kata perpustakaan-nya dan berharap ceritanya cukup menarik dan menegangkan untuk dibaca. Ternyata harapan saya terlalu tinggi.

Saya sempat merasa bosan membaca buku ini. Saya tidak merasa bersimpati maupun berempati dengan gadis misterius yang dibunuh tadi. Apakah dia benar-benar dibunuh atau bunuh diri, apakah dia benar-benar orang asing atau kenalan Kolonel Bantry. Untuk yang terakhir, sejak awal saya yakin Mr. dan Mrs. Bantry tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Bahwa perpustakaan mereka hanya sedang bernasib nahas menjadi TKP pembunuhan misterius. Setelah cerita bergulir sekian lama, setelah Inspektur Slack bertanya ke sana kemari, dan setelah ditemukan satu mayat lagi, saya baru penasaran mengapa dan bagaimana gadis itu dibunuh. 

Kisah Mayat dalam Perpustakaan mungkin bukan kisah yang istimewa dari Agatha Christie. Beliau menulis cerita ini karena terinspirasi dari kisah-kisah di buku detektif yang seringkali mengangkat tentang penemuan mayat di perpustakaan. Tokoh-tokohnya terinspirasi saat beliau berada di sebuah hotel dan melihat sekumpulan orang, salah satunya adalah lelaki tua di kursi roda. 

Tokoh-tokohnya tidak ada yang berkesan, alur pemecahan misterinya juga agak membosankan. Mungkin saya harus membaca karya Agatha Christie yang lain lagi. Murder on Orient Express mungkin? Yang sebentar lagi akan tampil dalam bentuk film. Atau ada saran dari para pecinta Agatha Christie?



Review ini untuk BBI Read and Review Challenge


Resensi Buku: Anne of Green Gables



Penulis: Lucy Maud Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penyunting: Dyah Agustine
Penerbit: Qanita
Tahun Terbit: Edisi Ketiga, Cetakan 1, Maret 2017
Halaman: 512
ISBN: 978-602-402-070-5


Marilla dan Matthew Cuthbert, sepasang suami istri yang sudah berumur, bermaksud mengasuh anak laki-laki yang bisa membantu mereka mengurus pertanian. Mereka meminta tolong kepada Mrs. Spencer untuk membawakan satu anak laki-laki berusia sekitar 11 tahun dari panti asuhan. Entah bagaimana kesalahan itu terjadi, nyatanya Mrs. Spencer malah membawakan anak perempuan berambut merah.

Matthew yang datang menjemput gadis itu di stasiun tentu saja merasa kaget. Namun, saat pertama kali bertemu gadis itu dan berbicara padanya, Matthew merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatnya tak mungkin menelantarkan gadis itu begitu saja dan berpikir untuk membawanya terlebih dahulu ke Green Gables, tempat tinggalnya bersama Marilla, untuk dibicarakan.

Sepanjang perjalanan pulang, Matthew tahu gadis cilik ini bukanlah gadis biasa. Matthew yang amat pemalu dan sangat kikuk terlebih dengan para perempuan, merasa nyaman bersama dengan Anne. Ya, gadis berambut merah itu bernama Anne Shirley dan dia tak henti-hentinya berbicara.

Sudah dapat ditebak, Marilla tak setuju dengan kehadiran anak perempuan yang dianggapnya tidak membantu dan malah merepotkan. Meski demikian, Matthew memiliki keinginan lain. Ia ingin mengasuh Anne. Setelah melalui pemikiran panjang, akhirnya Marilla setuju mengasuh Anne dengan syarat pendidikan Anne berada di tangannya.

Sejak saat itu, Anne Shirley yang yatim piatu dan tinggal berpindah-pindah, memiliki tempat tinggal tetap. Ia amat senang bisa tinggal di Green Gables, bersama dengan Matthew yang amat menyayangi dan memanjakannya, Marilla yang perhatian tetapi enggan menunjukkannya, Diana Barry, sahabat barunya, dan segala sesuatu di Avonlea yang membuatnya bahagia.

My Review

Akhirnya, kesampaian juga membaca kisah Anne of Green Gables. Setelah sebelumnya membaca Gadis Dongeng dan Emily of New Moon, kurang afdhal rasanya kalau belum membaca karya best seller Montgomery yang satu ini.

Hal menyenangkan dari membaca Anne of Green Gables (dan mungkin karya-karya Montgomery lainnya) adalah bagaimana ia memandang dan memahami lingkungan sekitarnya. Baik Anne maupun Emily memiliki kebiasaan memberi nama tumbuhan dan tempat-tempat di sekitar mereka. Mereka tidak memandang tetumbuhan dan tempat-tempat itu hanya sekadar tempat, tetapi sesuatu yang lebih dari itu. 

Anne sendiri adalah gadis yang ceriwis, kalau tidak mau disebut bawel atau banyak bicara. Jika dalam teks, Anne bicara sampai sekitar sepuluh baris kalimat bahkan lebih, entah bagaimana jika itu diungkapkan dalam pembicaraan. Berapa menit yang dibutuhkan Anne dalam sekali berbicara? Hehehe… 

Anne of Green Gables adalah kisah ringan yang menghangatkan hati dan mengademkan pikiran. Tidak ada plot twist yang menggetarkan, tokoh antagonis yang amat sangat jahat dan busuk, tokoh protagonis yang terlalu baik hati hingga menderita, atau lingkungan super ajaib yang bisa kau bayangkan. 

Kisah Anne adalah kisah sehari-hari gadis cilik dengan segala kecerobohan, keingintahuan, keluguan, dan ketulusan hatinya, di sebuah desa yang sederhana, dengan berbagai macam karakter penduduknya. Semua itu terjalin dengan baik dan indah, sehingga novel tebal ini bahkan tidak terasa tebal apalagi membosankan.

Dari ketiga cerita Montgomery yang pernah saya baca, tetap seri Emily yang menurut saya paling kece. Mungkin karena beberapa hal, saya merasa ada kesamaan dengan Emily. Tetapi, bagaimanapun saya tetap ingin membaca dan memiliki seluruh seri Anne of Green Gables dan berharap Penerbit Qanita menerbitkan seluruh serinya dengan desain cover sebagus ini. Saya juga sangaaaat sangat berharap seri Emily of New Moon diterbitkan ulang dengan cover yang bagus, dan sampai tamat seri ketiga. Please… please…please….

Bagi yang belum pernah membaca karya Lucy M. Montgomery, saya sarankan bacalah setidaknya satu karyanya sekali seumur hidup. Entah itu kisah Sara Stanley si Gadis Dongeng, Emily of New Moon, Anne of Green Gables, atau yang lainnya. Tiga yang saya sebutkan adalah karya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia dan Qanita. 

Mengapa saya menyarankan untuk membaca karya Montgomery? Karena menurut saya, Montgomery adalah salah satu penulis yang mampu menyajikan kisah indah dan bermakna dari hal-hal paling biasa yang terjadi di kehidupan kita. 

Selamat membaca!



Review ini untuk BBI Read and Review Challenge

 

Rabu, 18 Oktober 2017

Wishful Wednesday - Cover Baru Seri St. Clare & Buku-Buku Lainnya

Assalamualaikum...

Sudah hampir setengah Oktober berlalu ya. Dan baru sadar kalau saya belum menulis review apa pun sejak September akhir. Padahal sudah bertekad untuk lebih semangat menulis review karena ikutan Read and Review BBI Challenge 2017. Tetap saja kalau malas mah, susah....

Saya malah ingin memposting Wishful Wednesday lagi. Meskipun meme ini sedang hiatus oleh pemiliknya, tetapi nggak apa-apa ya, saya numpang nama Wishful Wednesday, hehehe...

Beberapa hari lalu, saya melihat Instagram GPU menampilkan sampul baru seri St. Clare Enid Blyton. Waaaaa!!! Beneran, saya seneng, kaget, mupeng, rusuh sendiri lihatnya. Ini salah satu serial kesukaan saya selain Seri Mallory Towers dan Si Paling Badung. Tiga seri tersebut adalah seri khusus kehidupan sekolah asrama yang ditulis Enid Blyton. Sedikit berbeda dari seri petualangan yang jenisnya lebih banyak, ada Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Seri Petualangan, dll.

Saya baca seri St. Clare ini zaman SD. sekitar kelas 5 dan 6. Waktu itu, saya dipinjamkan banyak buku oleh wali kelas saya yang juga suka membaca. Seri St. Clare dan Seri Mallory Towers adalah seri yang saya baca sampai tuntas dan bikin saya ingin sekolah di asrama. Alhamdulillah, keinginan itu terkabul meskipun nggak persis seperti sekolah asrama di Inggris sana, hehehe....

Cover barunya cantik-cantik. Meskipun -entah mengapa- saya lebih suka cover lama. Karakter tokoh yang diilustrasikan di sampul baru terkesan anak-anak banget. Kalau di cover yang lama, kesannya sudah agak remaja. meski demikian, pemilihan warna dan ilustrasi backgroundnya cantik. layak dikoleksi pokoknya!


Selain seri St. Clare cover baru, saya juga ingin banget punya seri Winnie the Pooh. 


Daaann.... dua buku ini. Dari dulu tertarik banget sama kisah King Arthur. Terus, kalau cerita Jules Verne, nggak ada alasan khusus, sih. Cuma penasaran aja. Sebelumnya, saya pernah membaca bukunya yang berjudul Berkeliling Dunia di Bawah Laut atau Twenty Thousand Leagues Under the Seas. Saya penasaran saja dengan karyanya yang lain.


Semoga saya bisa memiliki semua buku ini, ya. Amiin...

Kalau kamu, apa buku yang paling diinginkan akhir-akhir ini? :)

Senin, 25 September 2017

Resensi Buku: Puisi-Puisi Cinta



Penulis: W.S. Rendra
Penyunting: Edi Haryono
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: September 2015
Halaman: 100
ISBN: 978-602-291-114-2


Inilah pertama kali saya membaca kumpulan puisi dari sastrawan yang dijuluki si “Burung Merak”. Di dalam catatan editornya, disampaikan bahwa puisi-puisi dalam buku ini belum pernah diikutkan dalam kumpulan-kumpulan puisi sebelumnya.

Puisi-Puisi Cinta dibagi ke dalam tiga bagian. Puber Pertama, yaitu puisi-puisi yang ditulis Rendra pada masa kuliahnya di UGM. Puber Kedua, yaitu puisi-puisi yang ditulis Rendra selepas ia kuliah di New York. Terakhir, Puber Ketiga, yaitu puisi-puisi yang ditulis Rendra dalam masa reformasi 1998.

Saat membaca puisi-puisinya di Puber Pertama, saya langsung meleleh. Manis dan romantis sekali. Puisinya kebanyakan singkat, ditulis dengan bahasa yang sederhana, tetapi sangat menunjukkan perasaan orang yang sedang dilanda cinta.

Kekasih
Kekasihku seperti burung murai
Suaranya merdu.
Matanya kaca
Hatinya biru

Kekasihku seperti burung murai
Bersarang indah di dalam hati.

Sementara itu, puisi-puisi di Puber Kedua dan Puber Ketiga cukup berbeda jauh dengan puisi di Puber Pertama. Jika di Puber Pertama lebih menekankan pada muda-mudi yang dilanda cinta, maka di Puber Kedua dan Ketiga pada hal yang lebih kompleks lagi, yakni kehidupan.

Meskipun saya tidak terlalu memahami semua puisi-puisi Rendra, saya cukup menikmati buku ini. Saya menjadi lebih mengenal salah satu sosok sastrawan Indonesia karena di dalamnya diulas profil Rendra dengan cukup lengkap. Termasuk cerita tentang beliau yang berpindah agama (meskipun hanya diangkat sekilas). Saya juga menjadi tertarik untuk membaca karya-karya Rendra yang lainnya.


Review ini untuk 
kategori Poetry