Jumat, 30 Desember 2016

Kaleidoskop Perpustakaan Ratih Cahaya di 2016



Assalamualaikum semua… 

Nggak nyangka, ya, sebentar lagi 2016 akan segera berlalu. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya di blog ini, saya coba menulis kaleidoskop Perpustakaan Ratih Cahaya selama tahun 2016.

1.       Buku yang Dibaca
Berdasarkan tantangan membaca di Goodreads saya membaca 47 buku selama tahun 2016. Lebih tujuh buku dari target tertulis, dan kurang tiga buku dari target sebenarnya. Lho? Iya, di awal tahun saya memasang target membaca 50 buku. Menjelang akhir November, angkanya masih di 30an dan saya agak pesimis bisa mencapai tantangan itu. Akhirnya angkanya saya turunin jadi 40, dengan syarat tetap memperjuangkan target awal. Yang tercapai 47. Yah, bolehlah. Insya Allah di tahun depan, tidak akan ada pengubahan angka. Benar-benar menyesuaikan target dengan kemampuan yang dimiliki.

2.       Buku yang Didapat
Setelah coba membuat rekapitulasi (tsaaaah bahasanya) buku yang didapat tahun ini, munculah angka 55 buku. Yay! Rinciannya:
·         Beli buku sendiri: 45
Buku-buku ini didominasi buku obralan, kok, hahaha… Makanya koleksi saya jadul semua. Tapi ada juga beberapa buku yang saya beli dengan harga asli.
·         Dari penerbit untuk diulas: 4
·         Hadiah pernikahan: 4
·         Book Swap: 2
Sebenarnya book swap nggak menambah jumlah koleksi. Cuma karena bukunya saya belum punya dan  saya anggap baru (btw, saya memang dapet buku baru dari acara Tukar Buku Festival Pembaca Indonesia), jadi saya masukkan dalam daftar buku yang saya dapat tahun ini, hehehe.

sebagian buku yang kubeli tahun ini
  
3.       Resensi yang Ditulis
Hmmm…bisa dibilang, tahun ini adalah penurunan bagi saya di dunia blogging. Baik di blog ini maupun di blog satunya lagi, tahun ini sedikit sekali tulisan yang saya posting. Total jumlah resensi yang saya tulis tahun 2016 adalah 22. Hiks, sedikit banget, ya! Hampir setengahnya dari tahun 2015 yang mencapai 40an review.

4.       Pertama Kali menjadi Host Giveaway
Walaupun jumlah resensi tahun ini menurun, ada satu hal yang membahagiakan di tahun ini, dan saya anggap sebagai peningkatan bagi blog ini. Saya menjadi host giveaway! Yay!

Yang pertama kali memercayai saya menjadi host adalah Penerbit Spring. Duh, nggak nyangka banget saat dihubungi Hana untuk menjadi host giveaway Landline. Selanjutnya, Spring memercayai saya untuk mengadakan Chain Review Cinder dan host Giveaway The Girl on Paper. Alhamdulillah.

Di tahun ini pula, saya mendapat kepercayaan dari ICCPublisher untuk menjadi host Blogtour Gadis Penenun Mimpi  Nah, cuma saya kebagian tahun 2017. Jadi, tunggu blogtour-nya di blog ini, ya!

5.       Tidak Berpartisipasi dalam Reading Challenge
Tahun ini, saya juga tidak berpartisipasi dalam reading challenge apa pun yang diadakan para blogger buku. Saya hanya ikut reading challenge Goodreads. Tadinya tertarik ikut Read and Keep Challenge dari Mbak Vina. Hmmm… ternyata saya selalu lupa untuk menyisihkan uang setelah membaca buku. Akhirnya, gagal total, deh, challenge ini.

Tahun 2017 saya juga masih berencana untuk hiatus dalam reading challenge. Hmm… tapi kalau ada reading challenge yang menarik dengan kriteria yang nggak begitu sulit, sepertinya saya akan ikut, hehehe (masih labil anaknya).

Yang jelas, saya punya rencana untuk membuat tantangan baca pribadi. Jadi, sengaja saya sesuaikan dengan kemampuan membaca, buku yang saya punya, dan hal-hal lain yang sifatnya personal. Walaupun personal, secara garis besar akan saya buat umum/universal. Karena rencananya ingin saya posting di blog ini dan bagi siapa saja yang tertarik, boleh ikutan. Harap dinanti, ya!

Mungkin itu saja ringkasan untuk tahun ini. Sebenarnya, niat saya membuat postingan ini agar menjadi semacam evaluasi blogging, gitu. Karena melihat tahun ini dan tahun kemarin, semangat nge-blog turun drastis. Insya Allah, di tahun 2017 nanti, ingin menggalakkan kembali semangat membaca, menulis, dan mempostingnya di blog. Mudah-mudahan terlaksana, ya! Amiiin….

Kamis, 29 Desember 2016

O Mungil



Penulis: Edith Unnerstad
Penerjemah: Listiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan Pertama, Mei 1990
Halaman: 160
ISBN: 979-403-890-3


“O Mungil berusia lima tahun. Dia tak kenal takut dan kadang-kadang keisengannya mengejutkan seluruh keluarga.

Suatu hari Mama pergi arisan dan kakak-kakaknya sibuk. O Mungil sudah bosan bermain sendiri. Dia lalu menelepon Papa di pabrik. Tapi karena belum pernah menelepon, tentu saja yang berhasil dihubunginya orang tak dikenal. Betapa kagetnya Mama dan Papa ketika kemudian ada orang mengirim dua ekor anak anjing ke rumah mereka!”

Kisah O Mungil adalah seri selanjutnya dari kisah si Bandel. Meskipun begitu, tanpa membaca kisah si Bandel terlebih dahulu, juga tidak apa-apa. 

Jika dicerita si Bandel, O Mungil saat itu berusia tiga tahun. Di kisahnya sendiri, O Mungil berusia lima tahun, jadi si Bandel berusia sekitar tujuh tahun.

Kisah O Mungil tak kalah lucu dengan si Bandel. Bahkan di cerita pertama saja saya sudah terbahak-bahak karena ulah O Mungil. Di situ dikisahkan O Mungil yang ingin punya adik. Apalagi saat ia menemukan kereta bayi miliknya (dan pernah jadi milik kakak-kakaknya juga). Tak ada yang mau menjadi adik bayi O Mungil, kecuali si Areng, kucing hitam peliharaan keluarga mereka.

Terpaksalah si Areng menjadi adik bayi untuk O Mungil, bahkan didandani dengan baju baptis milik O Mungil juga. Lalu O Mungil berjalan-jalan sambil mendorong kereta bayi yang berisi si Areng sambil bernyanyi-nyanyi. Seorang ibu mendekati O Mungil karena dikiranya ia sedang menjaga adik bayi sungguhan. Si ibu terkejut saat yang melongok dari dalam kereta itu wajah si Areng.


Belum lagi, ada anjing yang mencium aroma kucing. Segera si anjing mengejar O Mungil dan kereta bayinya. Kereta bayinya lepas dan berlari menuruni bukit tanpa kendali dan nyaris ditabrak truk. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa tertegun campur khawatir campur ngeri, sambil berharap bayi di dalamnya selamat. Eh, yang keluar ternyata si Areng!

Masih banyak kisah O Mungil lainnya yang bikin ngakak (sepertinya semua ceritanya bikin saya tertawa, deh!) 


Semua ceritanya saya suka. Sayangnya, kisah O Mungil tidak sebanyak kisah kakaknya, si Bandel.

Dari segi gaya bahasa, ada sedikit perbedaan. Mungkin karena penerjemahnya berbeda. Penggunaan kata slang di O Mungil jauh lebih sedikit daripada di Si Bandel. Kalimatnya juga hampir baku, meski tetap mengalir dan sederhana. 

Kalau di cerita si Bandel, saya kagum dengan tokoh Mama, maka di cerita O Mungil saya suka dengan tokoh Lars, hehehe. Ada dua cerita yang menunjukkan kasih sayang Lars kepada O Mungil dengan manis sekali. Hmm… sebenarnya, kakak-kakak O Mungil yang lebih dewasa itu baik sekali pada O Mungil. Mungkin hanya si Bandel dan Knut saja yang agak-agak rese. Tapi, karena saya punya sindrom Brother Complex, alias nggak bisa tahan kalau ada cerita tentang abang dan adik perempuan, jadi yah begitulah….

Balik lagi ke Lars, ada cerita tentang kesenangan O Mungil mengepang rambut dengan pita-pita miliknya. Rambut Rosalind pernah jadi korban kepangan O Mungil dan dia tidak mau lagi. Begitu juga dengan kakak-kakaknya yang lain. Sedangkan mengepang rambut boneka tidak asyik menurut O Mungil. Hanya Lars yang mengizinkan rambutnya dikepang O Mungil (mungkin karena Lars nggak tega).

Jadilah rambut Lars dikepang O Mungil di sana-sini. Eh, lagi asyik-asyik berkepala landak akibat kepangan O Mungil, datanglah Nottan dan Agneta, teman sekelas Rosalind. Duh, betapa malunya Lars karena Agneta, cewek yang ditaksirnya, melihatnya dalam keadaan seperti itu.

***

Sebagai pembaca baru Edith Unnerstad, saya langsung suka dengan cara bercerita penulis asal Swedia ini. Meskipun namanya tak setenar Astrid Lindgren, tapi ada empat bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain O Mungil dan Si Bandel, ada Tamasya Panci Ajaib dan Tamasya Laut. Semuanya tergabung dalam seri keluarga Peep Larsson. Melihat tahun terbitnya yang sudah cukup lama (bahkan sebelum saya lahir, lho!), saya tidak tahu apakah Gramedia menerbitkan cetakan terbarunya atau tidak. 

Gara-gara membaca dua buku jadul ini, saya jadi ingin membaca dan memiliki buku-buku anak jadul lainnya. Kisah-kisah jaman dulu ternyata seru-seru!

Si Bandel



Penulis: Edith Unnerstad
Penerjemah: Priscilla Tan Sioe Lan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan Kedua, Maret 1990
Halaman: 200
ISBN: 979-403-463-0



“Si Bandel berusia lima tahun dan keras kemauannya. Ketika dia ingin sekali punya anak ayam dan Mama tidak mengizinkannya, dia berkeras mengerami sendiri sebutir telur ayam. Pernah juga dia membuat orang serumah kalang kabut. Waktu dia naik bis sendiri ke luar kota, lalu menyebrang ke danau beku, hanya untuk mengambil bebeknya yang ketinggalan di kapal Rudolfina. 

Masih banyak lagi petualangan di Bandel, semuanya lucu, mengasyikkan, dan sekaligus menegangkan.”

Awal mula saya bisa membaca buku jadoel ini karena Fina, teman sekantor,  bercerita tentang buku-buku lengseran kakaknya. Saya langsung tanya, ada Enid Blyton, nggak? Ada, ada buku Edith Unnerstad juga. Edith Unnerstad, siapa tuh? pikir saya. Ternyata Fina langsung membawakan bukunya untuk saya. Katanya ceritanya lucu. Awal dipinjamkan, saya nggak langsung baca. Saya biarkan di meja kantor, sampai suatu hari saya merasa sedih, karena nggak libur-libur, hiks, akhirnya saya ambil, deh si Bandel.

(Cukup sampai di sini curhatnya)

Cerita si Bandel memang lucuuuuu. Lucu, lugu, polos, khas anak-anak banget. Buku ini menceritakan kisah sehari-hari si Bandel bersama keluarganya. Ada O Mungil, adik perempuannya, Mama, Papa, dan kakak-kakaknya, Lars, Knut, Dessi, Mirre, dan Rosalind. Kalau di cerita si Bandel, anggota keluarga yang paling sering muncul itu O Mungil, Mama, dan Knut. 

Ada 10 cerita di buku si Bandel. 

Saya paling suka cerita Si Bandel Bikin Pesta. Jadi, ceritanya si Bandel ini ‘naksir’ dengan seorang teman ceweknya, namanya Margareta. Ia ingin Mama membuatkan pesta untuk si Bandel dan Margareta. Pesta khusus untuk berdua, dengan kue cantik berwarna putih dan merah jambu, dan minuman yang memakai gelas bagus. Pokoknya pesta mewah, deh, bagi si Bandel. 

Mama setuju membuat pesta itu. Bahkan si Bandel curhat ke Mamanya kalau ia mau menikah dengan Margareta, karena dia anak yang manis. Bahkan sampai membicarakan mau tinggal di mana setelah menikah, apakah di rumah Margareta atau di rumah si Bandel.

Hihihi, lucu nggak sih, denger anak sekecil itu ngomongin nikah? Saya ngikik-ngikik pas bacanya. Tapi, jawaban Mama itulah yang bikin saya terkagum-kagum. Mama sama sekali nggak menertawakan apalagi memarahi si Bandel karena sudah ngomongin nikah di umur sedini itu. Malah Mama menanggapi dengan jawaban yang logis tapi mudah dimengerti oleh anak-anak. Salut, deh sama Mama.

Pada akhirnya, ketika si Margareta datang, anak gadis itu malah terpikat dengan boneka-boneka O Mungil. O Mungil yang senang karena ada yang tertarik dengan permainannya, langsung mengajak Margareta bermain Mamah-Mamahan. Margareta melupakan si Bandel, dan si Bandel pun kesal. Ia akhirnya bermain dengan sobatnya, Pelle-Goran, dan terakhir bilang ke Mama kalau ia tidak mau menikah dengan Margareta.

Terhibur sekali membaca si Bandel. Selain lucu, buku ini secara tidak langsung mengajarkan saya banyak hal. Pertama, tentang bagaimana menjadi orang tua, terutama ibu, yang setiap hari mengurus anaknya. Di cerita ini, saya menangkap sosok Mama yang sangat pengertian terhadap anaknya. Pengertian di sini maksudnya, dia tidak langsung melarang, mengomeli, apa pun kelakuan anak. Tapi, bertanya dulu hingga mendapatkan cerita yang lengkap, baru menasihati.

Misalnya waktu si Bandel nekat pergi mengambil bebek. Tentu saja, apa yang dilakukan Bandel berbahaya, tapi, ia hanya ingin mengambil bebeknya, kan? Tidak ada niatan lain selain itu, maka Mama hanya menasihati agar tidak mengulanginya lagi karena itu berbahaya.

Selain itu, Mama ‘mengikuti’ apa saja khayalan anak-anaknya. Misalnya saat si Bandel dan O Mungil ‘berlayar’ mengarungi Blueviken. Padahal hanya bermain-main di dalam baskom, di atas karpet. Mama sama sekali nggak menganggap mereka hanya ‘ngesot-ngesot’ di atas karpet, tapi benar-benar menganggap mereka sedang berlayar di lautan.


Kedua, saya juga belajar tentang bagaimana menulis cerita anak yang disukai anak. Saya yakin, cerita seperti inilah yang pasti disukai anak. Diceritakan dari sudut pandang anak, tidak ada kutipan hikmah, pesan moral, atau apa pun yang kesannya menggurui, kamu harus begini, kamu harus begitu. Cerita ini juga realistis, nggak bercerita tentang anak baik-baik yang penurut dan manut.

Di buku ini, terasa sekali penulis menuangkan pesan bahwa yang namanya anak-anak, nggak ada niat sedikit pun untuk berbuat nakal. Biasanya mereka hanya ingin tahu, ingin menuruti keinginannya, dan ingin menghibur orang terdekat mereka dengan cara yang mereka tahu.

Dari segi gaya bahasa, hmmm… saya baru pertama kali membaca buku anak yang begitu slang, alias banyak sekali kata-kata ‘tuh’, ‘dong’, ‘deh’, dan kosakata khas Indonesia lainnya. Namun, entah kenapa, itu malah menambah kelucuan cerita ini. Saya sempat mengira-ngira, apakah tulisan asli bahasa Swedia-nya juga begitu atau enggak.

Yang jelas, kisah-kisah si Bandel ini sangat menghibur dan bisa menjadi pelipur lara di kala bosan melanda, hehehe….

 

Jumat, 23 Desember 2016

Fangirl


Penulis: Rainbow Rowell

Penerjemah: Wisnu Wardhana

Penyunting: NyiBlo

Penerbit: Spring

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, November 2014

Halaman: 456



Cath dan Wren, sepasang saudari kembar yang seolah tak terpisahkan. Sepanjang yang Cath ingat, mereka selalu bersama, bahkan menggilai Simon Snow bersama-sama pula. Namun, kali ini Wren berubah. Sejak memulai masa kuliah, Wren memutuskan untuk berpisah dengan Cath. Wren tidak mau sekamar dengan Cath di asrama, dia juga memilih jurusan yang berbeda dengan Cath. Dan yang lebih parah, Wren memutuskan untuk meninggalkan dunia Simon Snow. Wren tidak ingin lagi menulis fanfiksi Simon Snow bersama Cath, ia sudah tidak peduli lagi dengan tokoh cerita yang dulu sangat digemarinya.


Cath memulai hidup baru sebagai mahasiswa dengan perasaan enggan. Teman sekamarnya, Reagan, sering membawa teman laki-lakinya ke kamar. Levi, nama cowok itu. Pada awalnya kehadiran Levi sering membuat Cath risih dan tidak betah di kamar. Namun, lama-kelamaan Cath terbiasa pada kehadiran Levi. Di kelas, Cath sering mengerjakan tugas menulis bersama Nick di perpustakaan.

Begitulah kehidupan Cath di kampus. Ia tidak mencoba berteman dengan siapapun. Bahkan di minggu-minggu pertamanya, Cath tidak pernah menginjakkan kaki ke kantin dan memenuhi perutnya dengan makanan batangan yang dibawanya. Sampai akhirnya Reagan memaksanya ke kantin dan meminta Cath untuk berbaur dengan sekelilingnya.


Meskipun telah ditinggalkan Wren, Cath masih setia menulis fanfiksi Simon Snow. Tokoh utama dari novel berseri karya Gema T. Leslie yang amat dikaguminya. Cath sangat mendalami dunia Simon Snow, hingga tak bisa menulis cerita lain kecuali cerita yang berkaitan dunia magis Simon Snow. Hingga saat Profesor Piper mengatakan jika fanfiksi itu plagiat dan meminta Cath menulis cerita karangannya sendiri. Saat itulah Cath mulai mempertanyakan pilihannya kuliah. Terlebih, ia juga khawatir dengan kondisi ayahnya yang kini tinggal sendirian.

***

Fangirl adalah karya Rainbow Rowell kedua yang aku baca dan salah satu wishlistku yang akhirnya kesampaian. Sudah lama aku penasaran dengan Fangirl, terutama karena sinopsisnya yang menceritakan tentang seorang gadis yang tergila-gila menulis fanfiksi.


Kesan pertamaku membaca Fangirl, cukup seru dan menarik. Aku bisa merasakan seperti apa perasaan Cath. Baru mulai kuliah di kota lain, di saat yang sama, saudari kembarnya memutuskan untuk ‘menjauhinya’. Pasti rasanya bingung dan males banget kuliah. Tentu saja Cath lebih memilih untuk tenggelam dalam dunia fanfiksi Simon Snow.

Oiya, mengenai Simon Snow. Jadi, Simon Snow ini adalah tokoh novel berseri karya Gema T. Leslie di dunia Cath. Simon Snow adalah seorang anak yang mempunyai kemampuan sihir, dan novelnya bercerita tentang Simon Snow melawan Insidious Humdrum yang ingin menghapus sihir dari dunia. Nah, salah satu tokoh antagonis di cerita Simon Snow adalah Basil atau Baz. Meskipun di novel aslinya diceritakan Simon dan Baz tidak akur, tetapi di fanfiksi Cath, mereka adalah sebaliknya. 

Do you recalling something similar?


Yup, Simon Snow ini kalau di dunia nyata kita kemungkinan besar adalah Harry Potter, dan Basil-nya adalah….(isi titik-titik sendiri, ya, soalnya pasti sudah tahu, hehehe).

Sejak buku pertamanya terbit, Cath dan Wren sangat menggilai Simon Snow dan mulai menulis fanfiksi di situs fanfixx.net. Dengan nama pena Magicath, Cath menulis kisah Simon dan Baz yang memenuhi kepalanya dan memiliki banyak fans di situs tersebut.

Balik lagi ke kesanku membaca buku ini, dari awal hingga pertengahan cerita, aku merasa kehidupan Cath menarik untuk diikuti. Namun, setelah itu, aku merasa tidak juga menemukan konflik utamanya. Atau mungkin konflik utamanya terlalu banyak, hingga akhirnya ceritanya jadi lama selesai. Ada persoalan Cath dengan Wren, Cath dengan ayahnya, Cath dengan ibunya, Cath dengan Nick, Cath dengan Levi, Cath dengan Profesor Piper, dan Cath dengan fanfiksi Simon-Baz terbarunya.


Aku hampir-hampir ingin berhenti membaca buku ini karena sudah terlanjur bosan. Hanya saja aku masih penasaran dengan akhirnya. Aku juga nggak tahu, sih, apa yang sebenarnya ingin kuketahui dan ending seperti apa yang kuharapkan. Karena menurutku hampir semua konflik itu sudah bisa kutebak bagaimana akhirnya. Mungkin hanya terdorong semangat untuk menamatkan novel yang cukup tebal ini. Ketika akhirnya sampai di akhir, aku hanya bisa bergumam, “Hmm, seperti yang kuduga.”


Sebelum membaca Fangirl, aku pernah membaca karya Rowell yang lain, yaitu Landline. Terlepas dari kategori umur yang berbeda, aku merasa konflik di Landline lebih jelas. Di Fangirl, aku berharap ceritanya fokus kepada kehidupan Cath di kampus, terutama masalah fanfiksi, dan hubungannya dengan Wren.


Terlepas dari banyaknya konflik, aku tetap bisa merasakan keterhubungan dengan Cath. Perasaannya tentang fanfiksi, keengganannya kuliah, hubungan dengan keluarganya, dan kekhawatirannya terhadap hubungan baru.


Untuk sebuah novel tentang gadis yang menggilai fanfiksi, menurutku Fangirl lumayan. Aku juga cukup terhibur dengan insert cerita Simon Snow, baik yang dikutip dari novel Gema ataupun fanfiksi Cath. Membuatku bernostalgia pada masa-masa aku menggilai fanfiksi juga.