Selasa, 23 Agustus 2016

The Girl on Paper (La Fille de Papier)



Penulis                 : Guillaume Musso
Penerjemah         : Yudith Listiandri
Penyunting          : Selsa Chyntia
Penerbit              : Spring


Tom Boyd adalah penulis terkenal yang menerbitkan trilogy novel Trilogie des Anges. Buku pertamanya, La Compagnie des Anges menempati urutan teratas daftar novel terlaris di Amerika Serikat. Begitu juga dengan buku keduanya, De Memoire d’Ange.

Di sisi lain, ada si cantik Aurore Valancourt, pianis cantik, muda, dan berbakat yang namanya juga sedang melambung. Tom dan Aurore bertemu di konser Kings of Leon dan mulai merajut hubungan asmara mereka, yang ternyata tak bertahan lama dan kandas di tengah jalan.

Aurore akhirnya menemukan cinta yang lain. Sedangkan Tom? Beberapa kali ia ditangkap karena mabuk atau bertengkar dengan pelayan restoran. Berita-berita mulai menyebarkan tentang keterpurukannya. Penerbitan buku ketiga dari Trilogie des Anges akhirnya ditunda. Tom mulai mengonsumsi obat-obat penenang secara berlebihan, dan di tepi jurang kehancurannya, seorang gadis muda tiba-tiba muncul di apartemen Tom.

Gadis itu mengaku bernama Billie Donelly. Bukan saja kehadirannya yang tiba-tiba, yang mengherankan Tom, tetapi juga karena Billie adalah tokoh ciptaan Tom dalam Trilogie des Anges. Bagaimana mungkin tokoh fiksi bisa mewujud nyata? Mungkinkah Billie merupakan seorang penggemar fanatik yang ingin mengusik kehidupan Tom? Atau mungkin Tom terlalu banyak mengonsumsi pil penenang sehingga mulai berkhayal yang tidak-tidak? Bagaimanapun, Billie benar-benar terlihat nyata!


Untuk pertama kalinya, saya merasakan mereview ARC (advance reading copy/advance review copy) atau meresensi buku sebelum buku tersebut diterbitkan secara massal.  The Girl on Paper ini akan diterbitkan Penerbit Spring pada bulan September nanti (hmm… sebentar lagi). Dan saya hanya membaca setengah dari cerita The Girl on Paper, jadi harus bersabar sedikit untuk mengetahui akhir ceritanya, hehehe…

The Girl on Paper diawali dengan prolog bermodel kliping berita tentang Tom Boyd dan Aurore Valancourt. Jujur saja, awalnya saya bingung dan nggak mudheng, ini maksudnya apa sih? Tapi saya terus baca, dan semakin dibaca semakin mengerti. Hingga akhirnya masuk di bab pertama yang menceritakan kehidupan Tom setelah ditinggal Aurore.

Ide cerita The Girl on Paper mungkin sudah sering kita jumpai. Tentang penulis yang kehilangan ide dan semangat untuk menulis (alasannya berbagai macam) lalu didatangi oleh tokoh rekaannya sendiri. Di sini, Tom didatangi oleh tokoh ciptaannya yang bernama Billie. Billie menuntut kepada Tom untuk melanjutkan kisahnya, yaitu dengan menulis Trilogie des Anges yang ketiga. Sementara itu, sejak putus dengan Aurore, Tom merasa tidak mungkin menulis lagi. Akhirnya, Billie mengajak Tom untuk menemui Aurore. Saat itu Tom berada di rumah pantainya di California, sedangkan Aurore sedang berlibur bersama pacarnya di Meksiko. 

The Girl on Paper tidak hanya bercerita tentang patah hatinya Tom dan kemunculan Billie, di situ juga diceritakan tentang masa lalu Tom, dan dua sahabat masa kecilnya, Milo dan Carole. Dan ternyata, semakin mendekati pertengahan cerita, pembaca seperti diberi gambaran bahwa Trilogie des Anges ada hubungannya dengan masa kecil Tom dan persahabatan mereka bertiga.

Hmm… waktu awal-awal membaca buku ini, jujur saja saya sedikit agak bosan. terutama saat bagian Tom. Entah kenapa, saya gemas pada Tom. Duh, kok patah hati diratapi sampai sebegitunya sih? (padahal yang meresensi juga pernah patah hati kok, hihihi) Namun, lama kelamaan, kok seru sih, dan akhirnya membuat saya nggak berhenti baca, dan terpaksa berhenti di tengah cerita. Aaaaakk…

Yang paling saya suka dari The Girl on Paper adalah kutipan-kutipan yang ada di bagian awal bab. Saya juga suka Billie. Saya suka Billie yang secara tidak langsung menyadarkan Tom tentang bagaimana menulis yang baik. Saya suka keteguhan hati Billie, yang memaksa dan meyakinkan Tom untuk menulis lagi. Pokoknya, saya penasaran sekali dengan bagaimana kelanjutan nasib Billie. Apakah si Tom mau melanjutkan kisahnya? Hmm… harusnya sih iya. Sudahlah Tom, lupakan si Aurore, lebih baik cari yang lain…

Jumat, 19 Agustus 2016

Purple Eyes



Penulis             : Prisca Primasari
Penyunting       : Cerberus404
Penerbit           : Inari
Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, Mei 2016
Halaman          : 144


Ada pembunuhan berantai di Trondheim, Norwegia. Hades, sang dewa kematian, merasa harus ikut turun tangan menangani kasus yang satu ini. Si pembunuh harus segera tertangkap dan mendapat hukumannya. Bersama asistennya, gadis aristokrat Inggris bernama Lyre, ia turun ke bumi, menyamar sebagai manusia.

Di Trondheim, Hades menyamar sebagai Halstein dan Lyre sebagai Solveig. Mereka mendantangi rumah Ivarr Amundsen untuk memesan souvenir boneka troll. Sebetulnya mereka tidak benar-benar ingin mengoleksi boneka troll, itu hanya penyamaran saja. Mereka mendatangi Ivarr karena salah satu korban pembunuhan berantai adalah Nikolai, adik kandung Ivarr.

Solveig ditugaskan Halstein untuk mendekati Ivarr. Mencari tahu tentang kehidupannya dan mengungkit-ungkit kembali kematian adiknya. Solveig sama sekali tidak tahu apa sebenarnya rencana Halstein. Ia bahkan tidak tahu apakah itu semua ada hubungannya dengan si pembunuh berantai.

Yang Solveig tahu, semakin ia mengenal Ivarr, semakin ia memahami apa yang terjadi dengan pemuda berhati dingin itu. Semakin ia tak ingin meninggalkan Ivarr sendiri. Masalahnya, Solveig dan Ivarr tinggal di dunia yang berbeda. Dan setelah tugasnya selesai, Solveig harus kembali bersama Halstein ke langit.


Saat pertama kali Prisca mengabarkan tentang karya terbarunya, saya langsung bertekad untuk segera membelinya. Purple Eyes adalah novella manis bernuansa fantasi-dongeng dengan suasana sendu bersalju. Jujur saja, saya rindu dengan tulisan Prisca yang bernuansa Eropa. Dan betapa senangnya saya, saat tahu novella-nya kali ini berlatar di Norway, salah satu negara favorit saya.

Tema ceritanya, menurut saya cukup sederhana. Hanya saja, Prisca mengolah alur ceritanya menjadi mengalir tetapi tetap membuat saya penasaran. Serius, saya benar-benar penasaran dengan pembunuh berantai dan apa hubungan rencana Hades dengan mencari si pembunuh. Pokoknya, clueless banget, deh…

Seperti biasa, untuk penggambaran latar, tidak perlu dipertanyakan lagi. Nuansa musim dingin di Norway-nya terasa banget. Saya jadi ingin jalan-jalan ke Trondheim dan bertemu dengan Ivarr dan Solveig.
Mengenai tokoh, Ivarr mengingatkan saya dengan tokoh Vinter di karya Prisca yang berjudul Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Ada beberapa kesamaan di antara mereka berdua, tapi tidak benar-benar mirip. Ivarr dan Vinter sama-sama menyimpan kerapuhan, tapi Ivarr jauh lebih dingin daripada Vinter. 

Sementara Solveig, setelah membaca beberapa karya Prisca, tokoh perempuan di cerita-ceritanya hampir memiliki banyak kesamaan. Florence, Rachel, Aline, Frea, ada sesuatu yang terasa senada dari mereka semua. Mungkin karena lahir dari satu penulis yang sama. Dan bagi saya itu tidak masalah.

Purple Eyes adalah bacaan singkat. Saya selesai membacanya di sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor yang kurang lebih 45 menit. Dan bagian akhirnya, bagaimana si pembunuh berantai itu akhirnya ketahuan, benar-benar sesuatu yang tidak saya sangka.

Bagi yang ingin membaca bacaan ringan, manis, romantis, tapi tetap menarik dan bikin penasaran, Purple Eyes adalah salah satu buku yang bisa dicoba. :)

Saking sukanya dengan penggambaran Trondheim di cerita ini, saya sampai googling beberapa fotonya.

 
lifeinnorway.net

Jumat, 12 Agustus 2016

Love Theft 1 & 2



Penulis             : Prisca Primasari
Penyunting       : Nur Aini & Elly Putri
Penerbit           : Self Publishing by Author
Tahun Terbit    : 2015 & 2016
Halaman          : 190 & 238


Frea Rinata sengaja mengambil cuti kuliah dari kampusnya, karena merasa kehidupannya sebagai mahasiswa jurusan musik sangat payah. Permainan biolanya standar saja, dan kemungkinan besar ia akan gagal di ujian resital. Namun Frea bersyukur karena ia masih memiliki kehidupan lain di samping sebagai mahasiswa, yaitu pencuri.

Ya, Frea memang seorang anggota sindikat gelap yang dipimpin pamannya sendiri, Paman Vito. Kelompok mereka khusus mencuri barang-barang mewah dari para orang kaya, dan hasil curiannya dibagikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Mirip-mirip dengan misi Robin Hood.

Di dalam sindikat itu, Frea akrab dengan dua pencuri lainnya. Night dan Liquor. Dua-duanya adalah nama samaran. Night adalah seorang pria Jepang yang lebih pantas dikatakan cantik daripada tampan. Hewan kesukaannya adalah kupu-kupu. Sedangkan Liquor adalah pemuda Indonesia, lumayan tampan, dan dari penampilannya, Frea yakin Liquor adalah seorang blasteran. Hewan favoritnya ngengat.

Kali ini mereka mendapat tugas dari Paman Vito untuk mencuri kalung berlian merek Tiffany and Co. milik seorang anak pengusaha batu bara bernama Coco Kartikaningtias. Mencuri kalung dari gadis manja yang suka berfoya-foya bukanlah perkara sulit. Apalagi dengan kemampuan mengalihkan perhatian yang dimiliki Liquor, kalung itu segera saja berpindah tangan.

Frea kira, setelah kalung itu dicuri, urusannya dengan Coco yang juga pernah satu SMA dengannya, sudah selesai. Nyatanya, saat mengetahui kalungnya hilang, gadis itu langsung memasang iklan besar-besaran demi mendapatkan kembali kalungnya. Coco bahkan tak tanggung-tanggung memberi hadiah yang begitu besar bagi siapa saja yang bisa menemukan atau mengembalikan kalungnya.

Frea tahu kalung berlian itu memang mahal, tapi untuk orang sekaya ayah Coco, sepertinya mudah saja membeli berlian baru sebagai penggantinya. Namun setelah mendengar kalau kalung itu adalah kalung hadiah pemberian ibu Coco yang sudah meninggal, pemikiran Frea terhadap Coco pun berubah. Pasti ada sesuatu yang spesial dengan kalung itu sehingga gadis manja seperti Coco rela mati-matian mendapatkan kembali kalungnya. Sesuatu yang sentimental mungkin?

Yang jelas, kehidupan Frea, Liquor, Night dan sindikat yang dipimpin Paman Vito berubah setelah kasus pencurian kalung Coco. Ternyata apa yang mereka pikir pencurian biasa, seperti yang selama ini terjadi, membawa banyak tanda tanya dan mungkin memancing bahaya bagi mereka semua. Dan dari kasus itu pula, Frea menjadi semakin mengenal sosok Night, Liquor, bahkan Coco, korbannya. 


Oke, sudah cukup ulasan singkatnya. Mudah-mudahan nggak kepanjangan dan nggak spoiler.
Jadi, Love Theft ini terbagi menjadi dua buku. Tapi saya gabung reviewnya menjadi satu, karena….. malas, hehehe…

Love Theft tidak hanya bercerita tentang kasus pencurian, tetapi juga kehidupan dan hubungan personal antar anggota sindikat Paman Vito. Setiap anggota memiliki alasan masing-masing kenapa memutuskan begabung dan menjalani kehidupan sebagai pencuri. Namun alasan Liquor dan Night-lah yang membuat Frea begitu penasaran. Konon kabarnya mereka sama-sama menjadi pencuri karena wanita.

Ini bukan kisah cinta segitiga antara Frea, Night, dan Liquor. Karena Night sudah punya istri di tanah airnya, Jepang. Hanya saja Frea tidak tahu apa yang terjadi di antara Night dan istrinya. Sedangkan Liquor, Frea memang memiliki perasaan khusus terhadap pemuda misterius itu. Namun tingkah Liquor yang dingin kepadanya, tetapi hangat kepada wanita-wanita lain membuat Frea tak banyak berharap.

Ketika membaca buku pertama, jujur saja saya sempat bosan dan merasa ceritanya begitu-begitu saja. Di buku pertama memang lebih banyak diceritakan tentang saat-saat mereka mencuri, baik mencuri kalung Coco atau mencuri dari korban lainnya. Saya sempat berpikir untuk tidak meneruskan membeli buku kedua. Namun, saat Prisca mengeluarkan Purple Eyes, entah mengapa saya merasa sayang kalau koleksi Love Theft saya hanya setengah. Jadilah saya memesan Purple Eyes dan Love Theft 2.

Di Love Theft 2, baru terasa keseruan-keseruannya. Hal-hal yang terjadi di buku 1, baru muncul titik terang dan bikin penasaran di buku 2. Dan di bagian-bagian akhir, banyak hal menegangkan yang membuat saya salah terus menebak akan seperti apa akhir ceritanya. Dan yah, ada sedikit twist juga di akhir cerita.

Oiya, untuk cerita yang satu ini latarnya di Jakarta, bukan di luar negeri seperti novel-novel Prisca yang lain. Selain itu, ini juga diterbitkan secara pribadi oleh penulis. Kalau melihat desain covernya memang sederhana, dan saya belum bisa menemukan hubungan isi cerita dari si cover. Tapi untuk dikoleksi, warna pink pucatnya lumayan lucu lah… hehehe…

Senin, 08 Agustus 2016

The Tide Knot (Simpul Ombak)



Penulis             : Helen Dunmore
Penerjemah     : Rosemary Kesauly
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Halaman          : 320
Tahun  Terbit   : Cetakan Ketiga, Desember 2013


Setelah hilangnya Dad di laut, Sapphire dan Connor pindah bersama Mum ke St. Pirans. Sebuah kota tepi pantai yang ramai dengan wisatawan. Di liburan musim panas ini, Mum sibuk dengan pekerjaannya sebagai pelayan restoran, sedangkan Sapphire dan Connor melanjutkan petualangan mereka di dunia bawah laut, Ingo.

Suatu hari, ada lumba-lumba yang terdampar dan sekarat di tepi pantai. Sapphire dan Connor ikut datang dan membantu menyelamatkan si lumba-lumba. Sapphire, yang mengerti bahasa Mer, menyadari bahwa lumba-lumba itu mengisyaratkan sesuatu. Ada sesuatu yang buruk yang terjadi di laut. Sapphire berusaha memahami isyarat dari si lumba-lumba tapi tidak berhasil.

Kejadian itu membuat Sapphire dan Connor memutuskan untuk mencari Faro dan masuk kembali ke Ingo. Ada sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang bisa menimbulkan peristiwa buruk, dan itu berhubungan dengan dunia Ingo. Sapphire dan Connor berusaha mencari tahu, dan berharap sesuatu yang buruk itu dapat dicegah. Sayang, mereka belum tahu apa yang menanti di depan mereka.


Sejujurnya, The Tide Knot berjalan lebih seru ketimbang seri pertamanya, Ingo. Petualangan Sapphire dan Connor di Ingo masih berlanjut. Ada sesuatu yang harus mereka lakukan demi menjaga keseimbangan antara dunia tanah dan Ingo. Hal itu yang membuat seri ini jauh lebih seru dan menarik ketimbang seri sebelumnya.

Di seri ini, Sapphire dan Connor juga masih berusaha mencari tahu tentang Dad. Bedanya, Connor sudah mulai bisa menerima kehidupan tanpa ayahnya, dan mulai menjalani kehidupannya di St. Pirans. Sedangkan Sapphire masih terbius dengan dunia Ingo, masih bertanya-tanya tentang Dad, dan membenci Roger, pacar baru Mum. Walaupun di sepanjang cerita terdapat perubahan yang cukup signifikan pada hubungan Sapphire dan Roger.

Aku sendiri cukup menyukai tokoh Roger. Ia bisa mengerti perasaan Sapphire dan bertindak bijak menghadapinya. Kalau bisa dibilang, yang menyebalkan di cerita ini malah Faro. Aku juga suka dengan tokoh Connor yang bisa beradaptasi dan sanggup menerima kenyataan. Tapi tidak juga mengabaikan fakta tentang misteri hilangnya ayahnya, atau kondisi dunia Ingo.

After all, setelah membaca The Tide Knot, sebenarnya saya merasa seri ini bisa saja sudah selesai. Tidak ada suatu hal yang baru muncul di tengah cerita dan belum ada penyelesaiannya. Namun, karena masih ada tiga buku lagi, berarti memang masih ada yang perlu diceritakan dari petualangan Sapphire dan Connor di Ingo.

Beberapa kutipan yang saya garis bawahi di The Tide Knot:

“Kau tidak bisa memutar waktu kecuali dengan menjadi buta. Maju terus, Nak. Di depan sana ada hal-hal baik dan buruk yang takkan bisa diubah dengan menengok ke belakang.”

“Semua orang akan mati suatu hari nanti, dan cinta serta kesedihan ikut mati bersama kita. Masalah pribadi kita, tidak sepenting yang kita kira. Kita tidak sepenting yang kita kira.”

“Kadang ada satu-dua kejadian dalam hidup yang tak bisa dijelaskan. Tak ada penjelasan yang masuk akal karena sebagian besar masih… misteri.”

“Kita pasti bisa menata hidup kita lagi, adik kecil. Kau tahu, kita saling memiliki. Apa pun yang diperbuat ombak, itu tak akan mengubah siapa kita.”