Jumat, 26 Februari 2016

Paper Towns (Review Film)



Sutradara            : Jake Schreier
Produser             : Martin Bowen, Wyck Godfrey
Screenplay          : Scott Neustadter, Michael H. Weber
Pemain                : Cara Delevingne, Nat Wolff, Austin Abrams, Justice Smith, Halston Sage
Diangkat dari       : Paper Towns karya John Green
Rilis                     : Juli 2015

wikipedia.com

[Review ini sepertinya mengandung spoiler, berhati-hatilah, hehehe]

Sama seperti di dalam buku Paper Towns, film dibuka dengan adegan saat flashback tentang Margo dan Quentin ketika masih kecil. Saat itu mereka menemukan seorang mayat pria di dekat danau, dan Margo dengan berani memperhatikannya dari jarak dekat.

Meskipun bertetangga, ketika remaja, Margo dan Quentin memiliki pergaulan yang berbeda. Margo bersama teman-teman keren dan populernya, dan Quentin dengan dua sahabat karibnya, Ben dan Radar.

Secara singkat, apa yang diceritakan di film tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam buku. Oleh karena itu, aku akan menulis apa-apa saja yang berbeda di film, dan kesanku terhadap film Paper Towns ini.

Yang pertama, Cara Delevingne sangat cocok memerankan Margo. Entah kenapa ada sesuatu yang ganjil di mata Cara dan bagaimana cara ia menatap seseorang , sehingga menurutku ia cocok memerankan Margo yang katanya penuh misteri itu. Sementara Nat Wolff, okelah dia jadi Quentin. 

Cara Delevingne as Margo (youtube.com)

Bagaimana dengan dua temannya, Ben dan Radar?

Radar, Quentin, and Ben (thefandom.net)
Ben (yahoo.com)
Jujur, waktu aku membaca novelnya, aku belum tahu siapa yang memerankan Ben dan Radar, jadi aku membayangkan Ben itu sosok yang agak gemuk dan cupu, hahaha. Kalau Radar, aku membayangkan dia cowok bertubuh tinggi kurus dan kelihatan intelek gitu. Ternyata di film, yang jadi Ben kiyut abis! Hahahaha… Aduh, mukanya itu kayak anak-anak banget menurutku. Kalau yang jadi Radar, lumayanlah cukup menggambarkan. Walaupun pas baca aku nggak ngeh kalau Radar ini berkulit hitam, hehehe.

Berlanjut ke aksi pembalasan yang dilakukan Margo yang ditemani oleh Q. Di buku, aksinya ada 11 sedangkan di film cuma sembilan. Ternyata adegan mereka menyelinap masuk ke Seaworld dihilangkan. Padahal aku cukup penasaran seperti apa adegan di film saat mereka Quentin digigit ular. Adegan dansa antara Q dan Margo tetap ada, tapi jadinya pindah di dalam gedung Suntrust, setelah berbicara tentang kota kertas kepada Quentin.

Margo and Quentin (popsugar.com)

Beberapa hal lain yang terlihat cukup berbeda yaitu saat perjalanan menemukan Margo. Di buku, yang pergi hanya berempat, Quentin, Ben, Radar, dan Lacey. Di film, pacar radar, Angela juga ikut serta. Di buku mereka pergi tepat setelah wisuda. Radar dan Ben masih menggunakan toga tanpa pakaian seperti janji mereka sehingga di jalan Quentin membelikan kaos untuk mereka, hanya saja kaosnya bergambar tulisan konyol. Di film, adegan beli kaos itu tetap ada, hanya saja itu karena air seni yang dibuang Ben di botol soda tumpah dan mengenai bajunya dan baju radar. Di buku, insiden air seni tumpah memang ada, tapi yang terkena adalah jok mobil.

Quentin & friends going to find Margo (jeremykho.com)
Di film, Quentin atau teman-teman lainnya sama sekali nggak menyebut-nyebut tentang kemungkinan Margo bunuh diri. Padahal menurutku itu salah satu hal penting yang bisa bikin film ini jauh lebih menegangkan. Di buku, Margo digambarkan (terutama oleh orangtuanya) sebagai gadis yang bandel dan susah diatur, dan ada banyak hal yang bisa menjadi alasan kepergian Margo. Pergi yang benar-benar pergi. Di film, Quentin hanya merasa harus menemukan Margo, sedangkan di buku, Quentin merasa harus menemukan Margo baik hidup maupun mati (lebay amat, ya?)

Terakhir, saat akhirnya Quentin menemukan Margo. Di buku, Quentin menemukan Margo di dalam bangunan, Margo sedang duduk sambil menulis di buku catatan hitamnya dan agak marah saat Quentin datang. Di film, Quentin bertemu Margo yang kebetulan sedang lewat saat ia membeli tiket bus. Karena ngotot ingin menemukan Margo, Quentin ditinggal teman-temannya yang tidak ingin melewatkan pesta prom.

Akhirnya tetap sama kok dengan yang di buku, Margo tetap tinggal di Agloe, dan Quentin pulang sendiri ke rumahnya. Dan saat itu ia menyadari, selama ini ia melihat Margo sebagai sesuatu yang begitu langka dan special, padahal sebenarnya Margo hanyalah gadis biasa.

Quentin and Margo farewell (usatoday.com)
Aku cukup suka dengan filmnya, walaupun aku tidak menjamin apakah kesanku akan sama jika aku belum membaca bukunya. Aku memang sengaja membaca bukunya dulu baru menonton film, karena kapok beberapa kali menonton film dulu baru membaca bukunya. Banyak hal-hal menyebalkan terjadi ketika urutan itu yang kulakukan. Seperti saat ini, aku masih kesel setelah menonton The Scorch Trial dan sekarang sedang mengebut baca novel The Maze Runner dan selanjutnya The Scorch Trial untuk mengerti apa maksud semua ini (lho kok jadi curhat?)

Oya, di film Paper Towns aku pertama kalinya mendengar suara Nat Wolff yang juga seorang penyanyi. Selama ini aku sudah tahu sih kalau Nat itu punya duo bareng saudaranya, Alex Wolff. Tapi belum tergerak untuk mendengarkan lagu-lagu mereka. nah, salah satu soundtrack Paper Towns ini diisi oleh mereka. lagunya berjudul Look Outside. Enak deh lagunya, coba aja dengerin.

Margo and Quentin dancing (cambio.com)



Rabu, 24 Februari 2016

Paper Towns



Penulis             : John Green
Penerjemah      : Angelic Zaizai
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit     : Cetakan keempat, Agustus 2015
Halaman          : 360



Paper Towns bercerita tentang petualangan Quentin Jacobsen alias Q dalam menemukan sahabat kecilnya, Margo Roth Spiegelman yang tiba-tiba menghilang, setelah malam sebelumnya mengajak Q melakukan aksi pembalasan kepada teman-teman akrab Margo.

Q dan Margo bertetangga sejak kecil, rumah mereka bersebelahan, hanya saja di sekolah Q dan Margo memiliki grup pertemanan yang berbeda. Q memiliki dua sahabat akrab, Ben dan Radar, sedangkan Margo, yang populer di sekolah, memiliki pacar bernama Jase, dan dua sahabat karib, Lacey, dan Rebecca.

Selama masa sekolah, Q dan Margo tidak terlalu akrab, walaupun diam-diam Q menyukai Margo. Oleh karena itu, Q kaget sekali ketika suatu malam, Margo mengetuk jendela kamarnya dan meminta Q menemaninya melakukan aksi pembalasan.

Setelah aksi pembalasan, Margo mengajak Q menyelinap ke sebuah gedung tinggi dan melihat kota tempat tinggal mereka dari atas. Margo mengatakan kalau mereka semua seperti tinggal di kota kertas, yang diisi oleh orang-orang kertas yang rapuh.

Esoknya, di sekolah Margo tidak tampak batang hidungnya. Begitupun hari-hari selanjutnya. Q mulai cemas. Margo memang pernah melakukan kabur dari rumah dan melakukan petualangannya sendiri. Namun, kali ini, Q mencemaskan gadis itu karena selalu teringat dengan kata-kata Margo tentang kota-kota kertas.

Jadi, selama masa ujian akhir sekolah hingga menjelang wisuda, Q mencoba menyelidiki ke mana perginya Margo berdasarkan petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan gadis itu. Tidak lupa Q juga mengajak kedua sahabatnya, Ben dan Radar untuk membantunya. 

Ah, sepertinya kemampuan meresensiku semakin buruk ya? Hehehehe…

Kesanku setelah membaca buku ini, aku merasakan sedikit kemiripan di antara tokoh Q dan Miles ‘Pudge’ di cerita Looking for Alaska, begitu juga dengan karakter Margo dan Alaska.

Margo, cewek cantik, populer, namun misterius. Q, cowok biasa-biasa saja, yang diam-diam menyukai Margo.

Aku menangkap kesan bahwa John Green ingin menyampaikan pesan tentang betapa rapuhnya manusia dalam cerita Paper Towns ini. Hanya saja, aku merasa pesan-pesan moral nan bermaknanya kurang nancep. Cerita lebih dipenuhi dengan pemecahan petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan Margo untuk Q. 

Yah, kuakui itu juga seru sih. Membaca Paper Towns membuatku ingin mengelana juga, hehehe. Aku cukup suka dengan cara John Green bercerita, karena selalu ada humornya. Tapi untuk bagian alur cerita dan penyampaian pesan atau makna, sepertinya masih agak kurang. 

Membaca Paper Towns juga membuatku tertarik tentang kota kertas alias kota yang hanya ada di dalam peta, jebakan hak cipta, juga puisi-puisi Walt Whitman dan musik-musik favorit Margo. Walaupun aku tidak bersimpati penuh kepada Q maupun Margo, aku cukup suka dengan karakter mereka. Karakter favoritku sendiri, entah kenapa malah jatuh kepada Radar, si pengisi laman Omnictionary.

Beberapa kutipan favoritku dari Paper Towns

“Pergi terasa begitu menyenangkan, begitu kita pergi.”

“Kepergian terasa menyenangkan dan murni hanya ketika kita meninggalkan sesuatu yang penting, sesuatu yang berarti bagi kita. mencabut kehidupan hingga ke akarnya. Tetapi kita tidak bisa melakukan itu sampai kehidupan kita berakar.”

Selasa, 02 Februari 2016

Looking for Alaska



Penulis              : John Green
Penerjemah       : Barokah Ruziati dan Sekar Wulandari
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit       : Cetakan ketiga, September 2014


Miles Halter. Seorang cowok remaja biasa-biasa saja, hafal banyak kata-kata terakhir tokoh terkenal dan  tak punya teman dekat. Berniat meninggalkan rumahnya di Florida untuk sekolah asrama di Culver Creek, Alabama karena ingin mencari ‘Kemungkinan Besar’nya.

Di Culver Creek, Miles tinggal sekamar dengan Chip Martin yang lebih sering dipanggil Kolonel. Miles sendiri mendapat nama panggilan, Pudge, dan akhirnya lebih sering dipanggil dengan nama itu ketimbang nama aslinya. Lewat Kolonel, Miles berkenalan dengan Takumi, seorang cowok Jepang, dan Alaska, cewek cantik yang terlihat serampangan namun seksi dan pintar.

Hari-hari mereka di Culver Creek diisi dengan (tentu saja) belajar, merokok diam-diam, minum alkohol diam-diam, melakukan kejailan, dijaili, dan membalas kejailan. Perlahan tapi pasti, Miles makin mengenal sahabat-sahabatnya, dan diam-diam mencintai Alaska, yang sikapnya impulsif dan tak bisa ditebak.

Pada suatu hari, Alaska menghilang begitu saja dalam kehidupan mereka, tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Apa yang sebenarnya terjadi pada Alaska?

Ini kali ketiga aku membaca karya John Green, setelah The Fault in Our Stars dan Will Grayson,Will Grayson. Entahlah, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu memfavoritkan John Green, tapi ada rasa penasaran untuk membaca karya-karyanya yang lain.

Looking for Alaska, jika melihat copyright-nya, diterbitkan tahun 2005. Berarti lebih dulu dibanding The Fault in Our Stars. Dalam kisahnya kali ini, John Green menceritakan kehidupan anak SMA yang bersekolah di asrama. (Hmmmm… jadi kangen hk, hehehe)

Ceritanya dibagi menjadi dua bagian. Sebelum dan Sesudah Alaska pergi. Sepanjang membaca bagian Sebelum, aku terus bertanya-tanya, ‘Apa sih yang akan dilakukan Alaska?’ Dan ketika sampai di bagian Sesudah, aku cuma bergumam, ‘Oh ini’.

Kalau dari segi cerita, menurutku Looking for Alaska tergolong biasa-biasa saja. Nggak ada sesuatu yang membuatku merasa terguncang, sedih, kaget, atau apa. Memang sih, kalau dari segi penceritaan, gaya John Green ini enak, mengalir, dan tidak membosankan. 

Aku sendiri tidak terlalu simpati pada Miles maupun Alaska, yang menjadi tokoh sentral di cerita ini. Entah mengapa aku nggak terlalu suka pada Alaska, yang aneh dan nggak jelas itu. Miles kadang-kadang lucu, tapi aku nggak terlalu suka karena dia mudah ikut-ikutan. Aku lebih suka dengan Chip/Kolonel. Dia galak, tapi punya pendirian, setia kawan, berani, dan memiliki mimpi-mimpinya sendiri. Sedangkan Takumi, dia yang paling pendiam di antara mereka berempat, dan hanya mengikuti rencana-rencana Kolonel dan Alaska tanpa banyak suara.

Salah satu hal yang menjadi pertanyaan besar di dalam novel ini adalah kata-kata terakhir Simon Bolivar, “Bagaimana caraku keluar dari labirin ini!” Miles dan Alaska berusaha mencari tahu apa yang dimaksud labirin oleh Bolivar. Apakah itu kehidupan? Kematian? Penderitaan? atau yang lain?

Sedangkan niat Miles pergi mencari Kemungkinan Besar terinspirasi dari kata-kata terakhir Francois Rabelais, “Aku pergi mencari Kemungkinan Besar.”

Ini yang dikatakan Miles,

“Jadi pria ini,” kataku berdiri di ambang pintu ruang tamu, “Francois Rabelais. Dia penyair. Dan kata-kata terakhirnya adalah ‘Aku pergi untuk mencari Kemungkinan Besar’. Itulah alasanku pergi. Agar aku tak harus menunggu sampai mati untuk mulai mencari Kemungkinan Besar.”


Aku juga suka kata-kata Alaska di bagian ini

“Ya Tuhan, aku tak ingin jadi orang yang hanya duduk-duduk sambil mengoceh tentang apa yang ingin dia lakukan. Aku akan langsung melakukannya. Membayangkan masa depan sama saja seperti bernostalgia. Kau menghabiskan seumur hidupmu terperangkap dalam labirin, berpikir tentang bagaimana suatu hari nanti kau akan keluar dari sana, dan betapa hebatnya saat itu terjadi. Membayangkan masa depan membuatmu bertahan hidup, tapi kau tak pernah melakukannya. Kau hanya menggunakan masa depan untuk menghindari masa sekarang.”
 

Terakhir, kutipan favoritku dari Miles.


“Menurutku, manusia menginginkan jaminan. Mereka tak sanggup membayangkan bahwa kematian hanya berwujud kehampaan besar dan gelap, tak sanggup membayangkan orang-orang terkasih tiada, dan bahkan tak sanggup membayangkan diri mereka sendiri tiada. Aku akhirnya memutuskan manusia memercayai kehidupan setelah kematian karena tak sanggup berbuat sebaliknya.”