Jumat, 13 Mei 2016

Resensi Buku: Three Weddings and Jane Austen



Penulis             : Prima Santika
Penyunting       : Nana Soebianto
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Cetakan Kedua, Maret 2012
Halaman          : 464


Ibu Sri memiliki tiga anak gadis yang amat dicintainya, Emma, Meri, dan Lisa. Ketiganya telah mencapai usia yang sebenarnya sudah matang untuk menikah. Namun belum ada satu pun dari mereka yang terlihat akan menikah segera. Hal ini tentu saja membuat Ibu Sri ketar-ketir, terutama kepada putri sulungnya, Emma, yang telah berusia 35 tahun. 

Tidak ada yang salah dengan mereka bertiga. Emma, sebagai anak sulung, telah memiliki butik sendiri. Begitu juga dengan kedua adiknya yang telah memiliki pekerjaan masing-masing. Hanya saja, sepertinya jodoh belum juga datang kepada Emma. Berkali-kali Emma dikenalkan dengan berbagai pria, kebanyakan berasal dari kalangan dokter, mengingat suami Ibu Sri bekerja sebagai dokter. Namun, sampai sekarang belum ada satu pun yang ‘nyangkut’.

Berbeda dengan kakaknya, Meri telah memiliki pacar. Mas Bimo namanya. Hubungan mereka baik, meskipun akhir-akhir Meri merasa hubungannya dengan Mas Bimo terasa amat datar. Sudah tiga tahun mereka berpacaran, tetapi Meri belum terpikir untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Salah satu pertimbangannya tentu saja kakaknya, Mbak Emma. 

Sementara itu, si bungsu Lisa adalah tipe perempuan yang tidak peduli dengan hubungan spesial dengan laki-laki. Pekerjaannya sebagai reporter begitu menyita waktunya, sehingga tak terpikir sedikit pun untuk repot-repot mencari pacar. satu-satunya laki-laki yang dekat dengan Lisa adalah Geri, sahabatnya sejak kecil.

Akankah ketiganya berhasil bertemu jodoh masing-masing dan bagaimana usaha Ibu Sri dalam memberikan yang terbaik untuk ketiga putrinya?


Whew…. Jujur saja, sebelum mereview, saya ingin bilang, saya sudah membaca buku ini sejak beberapa bulan yang lalu, tetapi baru ada waktu (dan semangat) untuk menulis reviewnya sekarang, hehehe…

Sebagai pembaca yang tidak terlalu tertarik dengan novel Metropop, entah kenapa buku Three Weddings and Jane Austen ini menarik hati saya. Entah mungkin karena ada Jane Austen yang disebut-sebut, meski saya sendiri tidak terlalu menyukai karya Austen, hehehe.

Yang jelas, saya merasa tidak menyesal membaca buku ini. Kenapa?

Ceritanya seru. Cerita dibuka oleh prolog dari Ibu Sri. Namun keseluruhan isinya diceritakan dari sudut pandang ketiga anaknya secara berganti-gantian. Pertama Emma, Meri, lalu Lisa. 

Baik Emma, Meri, dan Lisa memiliki kisahnya masing-masing dan penulis memberi porsi yang seimbang kepada mereka bertiga. Secara penokohan, setiap tokoh memiliki karakter yang berbeda-beda, dan penulis berhasil membuat saya menyukai ketiganya. Jadi jangan tanya siapa yang paling saya suka.

Selain itu, saat membaca novel ini, saya merasa terhubung dengan kisah masing-masing tokoh. Maksudnya, kisahnya tuh membumi banget, sangat mungkin dialami oleh setiap orang. Tidak ada kebetulan-kebetulan yang dipaksakan dan kehidupan serba ‘indah’.

Jujur saja, salah satu alasan kenapa saya tidak terlalu menyukai novel metropop, karena berpikir kalau isinya bakal penuh dengan taburan barang-barang branded, shopping di mall-mall, ngopi-ngopi cantik di kafe, dan semacamnya. Hahaha… jahat, ya saya. Tetapi saya memang pernah membaca novel metropop yang seperti itu, dan akhirnya jadi malas membaca yang serupanya lagi.

Syukurlah, novel karya Prima Santika ini tidak seperti yang saya bayangkan. Oke, Ibu Sri dan keluarganya memang tinggal di Jakarta dan hidup berkecukupan. Tetapi (menurut saya) tidak norak dan yah… begitulah…

Oya, sampai lupa. Kenapa Jane Austen disebut-sebut? Ya, jadi ceritanya Ibu Sri ini penggemar fanatik Austen, bahkan memberi nama ketiga anaknya dari nama tokoh ciptaan Austen. Dan dalam ‘menangani’ kisah cinta yang dialami ketiga putrinya, Ibu Sri mengambil inspirasi atau pelajaran dari kisah-kisah yang ditulis Austen.

Intinya, saya suka buku ini, dan tidak bisa meletakkannya sampai saya tamat membaca. Buku ini memang buku lama, dan jujur saja, sudah cukup lama juga saya menginginkannya. Bagi pecinta romance yang belum baca, buku ini sangat layak dibaca. Bagi yang nggak terlalu suka romance, buku ini juga bagus untuk dicoba. Just give it a try!