Rabu, 13 April 2016

Ingo



Penulis             : Helen Dunmore
Penerjemah      : Rosemary Kesauli
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit      : Cetakan ketiga, Desember 2013
Halaman          : 312



Ayah Sapphire, Matthew Trewhella, menghilang ketika berlayar di laut. Kapal yang digunakannya berlayar ditemukan tertelungkup di antara batu karang. Tim pencari berusaha mencari Matthew, tetapi hasilnya nihil. Bahkan mayatnya tidak ditemukan. Pada akhirnya, semua orang menganggap Matthew Trewhella telah meninggal dunia, kecuali kedua anaknya, Sapphire dan Conor.

Sapphire dan Conor percaya ayah mereka belum meninggal, meski mereka tidak tahu ke mana perginya Matthew. Mengenai laut, Sapphire teringat dongeng yang sering diceritakan ayahnya tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta pada putri duyung dan lebih memilih meninggalkan istrinya untuk tinggal di dunia bawah laut. Konon dunia bawah laut di mana para duyung itu tinggal bernama Ingo. Dan nama lelaki yang menghilang itu Matthew Trewhella, persis seperti nama ayahnya. 

Sapphire penasaran, apakah kesamaan nama tersebut hanya kebetulan semata, ataukah mungkin ada hubungannya dengan ayahnya. Apalagi, ayah Sapphire sering sekali bercerita tentang Ingo dan putri duyung.
Ingo, novel yang sudah lama sekali aku incar. Sejak dulu aku cukup penasaran dengan kisah putrid duyung yang satu ini, terlebih warna sampulnya yang biru kehijauan sangat menarik mataku, hehehe…


Ingo berkisah tentang kehidupan Sapphire dan keluarganya yang tinggal di tepi pantai. Sapphire sangat suka laut, persis seperti ayahnya, Matthew. Mereka berdua sangat dekat dan akrab. Sehingga saat Matthew dinyatakan menghilang, Sapphire tak bisa menerima kenyataan tersebut dan yakin kalau ayahnya masih hidup.

Cerita terus berlanjut tentang perubahan hidup keluarga Sapphire setelah Matthew tiada dan perkenalan kakak beradik tersebut dengan Ingo. Sebagai sebuah pentalogi, cerita di Ingo bisa dibilang benar-benar baru permulaan. Benar-benar masih perkenalan tentang dunia Ingo dan tokoh-tokohnya. Itu pun untuk Ingo, menurutku masih belum rinci, seperti apa bentuknya.

Aku cukup suka dengan kisah ini. Ceritanya tidak terlalu cepat, tapi tidak bisa dibilang lambat juga. Penggambaran Dunmore tentang apa yang dirasakan dan dialami Sapphire sebagai sudut pandang pertama, membuat aku bisa merasakan dan memahami apa yang dirasakan oleh Sapphire.

Aku belum pernah membaca cerita yang berkaitan dengan dongeng atau mitos putri duyung (kecuali putri duyung-nya Andersen) sehingga cukup tertarik dengan kisah ini. Selain mengangkat tema putri duyung (atau kaum Mer), Ingo juga menyelipkan pesan tentang kerusakan lingkungan yang dilakukan manusia kepada laut.

Masih ada empat buku lagi, tiga yang sudah kumiliki. Walaupun di akhir buku pertama, menurutku kurang menegangkan dan memiliki kemungkinan untuk ditinggal pembaca, tapi karena aku terlanjur beli, dan menurutku kisah ini berharga untuk dilanjutkan, jadi aku memutuskan untuk membaca keseluruhan sisa seri yang aku punya. 

Sebenarnya masih ada satu buku lagi yang belum dibeli, yaitu Stormswept. Sayangnya, sebagai anak diskonan dan obralan, buku itu sepertinya belum diobral. Soalnya tiap kali melihat obralan buku, buku Stormswept seperti nggak pernah ada wujudnya.

Yah, mudah-mudahan saja aku bisa segera menamatkan serial Ingo dan selalu memposting resensi tiap bukunya. Amiiin….

Oya, ada beberapa kutipan yang aku suka dari novel Ingo:

"Kadang hal yang nyata dan tidak nyata sulit dibedakan, kehidupan jadi lebih mudah kalau kau membelokkan fakta, sedikit saja..."

"Kalau seseorang tiba-tiba meninggalkanmu tanpa sebab, seperti itulah rasanya. Ada yang robek dalam dirimu."  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar