Jumat, 06 November 2015

The Candy Makers (Para Pembuat Permen)




Penulis            : Wendy Mass
Penerjemah     : Maria Lubis
Penyunting      : Jia Effendie
Penerbit          : Atria
Tahun Terbit    : Juli 2011
Halaman         : 556


Asosiasi Pengusaha Gula-Gula kembali mengadakan kontes tahunan mereka. Tiga puluh dua anak berumur dua belas tahun akan bertanding membuat permen terbaik dan permen pemenang akan diproduksi secara massal di seluruh negeri. Setiap empat orang anak akan belajar membuat permen di pabrik permen region masing-masing.

Pabrik permen Life is Sweet adalah salah satu pabrik yang tergabung dalam kontes permen tahunan. Empat orang peserta yang akan belajar di sana adalah Logan Sweet, Miles O’Leary, Daisy Carpenter, dan Philip Ransford III. Keempatnya sama-sama ingin memenangkan kontes. Hanya saja setiap orang memiliki alasan yang berbeda. Salah satu dari mereka bahkan ingin mencuri Bahan Rahasia milik pabrik Life Is Sweet. Siapakah dia??


Wow…wow…wow... buku ini seru banget! Meskipun saya telaaaat banget bacanya, tapi nggak menyesal sudah beli dan baca bukunya. Keren!

Inti kisah The Candy Makers adalah tentang empat orang anak yang mengikuti kontes permen tahunan. Uniknya, setiap anak memiliki karakter, latar belakang, dan alasan masing-masing kenapa mereka ingin mengikuti dan memenangkan kontes tersebut.

Salah satunya Logan. Logan adalah anak laki-laki dari pemilik pabrik permen Life is Sweet, Richard Sweet. Sebagai anak pemilik pabrik permen, tentu saja dia ingin menang untuk menunjukkan kalau ia tidak kalah hebat dengan kakek dan ayahnya yang pernah menjuarai kontes tersebut.

Sisanya masih ada Miles, Daisy, dan Philip yang juga punya kisah masing-masing. Saya tidak akan menuliskannya di sini karena takut menjadi spoiler. Saya hanya akan menyebutkan apa saja yang membuat saya jatuh cinta dengan tokoh dan cerita The Candy Makers.

The Candy Makers diceritakan dari sudut pandang setiap anak. Tentu saja yang pertama dimulai dari Logan. Saat pertama kali membaca bagiannya, saya merasa tidak ada yang istimewa dengan Logan, kecuali gambaran kalau ia adalah anak yang gugup, jarang bergaul dengan anak seumurannya, dan sangat mencintai permen. Kehebatannya adalah pada indra pengecap. Setiap kali dia mencoba sebuah permen, dia tahu bahan apa yang kurang, salah komposisi, dan sebagainya.

Saya sempat merasa tidak nyaman membaca bagian Logan di bab-bab awal. Entah kenapa bahasa terjemahannya terasa aneh atau memang penulisnya masih belum ‘masuk’ ke dalam cerita. Namun karena deskripsi kehidupan di pabrik permen yang begitu menggoda iman dan takwa, saya berhasil melanjutkan membaca bagian Logan sampai selesai.

Setelah Logan adalah Miles. Sebenarnya kejadian yang diceritakan sama saja, hanya saja ini dari sudut pandang Miles. Di sini bagian menariknya dimulai. Saya baru menyadari, ketika kita melihat tindakan seseorang, mungkin kita tidak banyak tahu apa yang menyebabkan dia melakukan itu. Kita hanya bisa mengira-ngira tanpa tahu pasti alasan di baliknya. Contohnya seperti yang dialami Miles. 

Miles memiliki alergi yang aneh. Dia alergi warna merah muda, perahu kayuh, komedi putar, pretzel, dan lebah. Tidak ada yang mengerti mengapa Miles memiliki alergi seaneh itu. Ia juga biasa berceletuk tentang ‘kehidupan berikutnya’ yang tentu saja dianggap aneh oleh ketiga anak lainnya. Ketika cerita Miles dimulai, perlahan-lahan saya mengetahui alasan di balik keanehan Miles. Ketika sampai di Daisy dan Philip, wow! Benar-benar nggak menyangka apa yang terjadi sebenarnya.

Selain gaya bercerita, saya juga suka, ah bukan, saya jatuh cinta dengan Logan! Entah mengapa saat membaca bagian Logan, saya merasa anak itu biasa-biasa saja. Namun saat kisah berlanjut pada Miles, Daisy, Philip, baru terasa betapa istimewanya Logan.

Ketiganya sama-sama melihat Logan sebagai anak yang istimewa, baik hati, dan semuanya ingin akrab dan membela Logan. Seolah-olah Logan memiliki daya tarik khusus, yang anehnya, tidak disadari sama sekali oleh Logan! Pandangan ketiganya kepada Logan membuat saya sadar bahwa Logan memang benar-benar istimewa.

Ah, beneran deh… saya nggak bisa menutup buku ini kemarin malam. Bukunya lumayan tebal, awalnya saya pikir butuh berhari-hari untuk membacanya. Ternyata saya salah kira. Banyak hal menarik, menyenangkan, dan penuh nilai di dalam kisah The Candy Makers. Bahkan saya jadi berpikir tentang permen-permen yang beredar di Indonesia.

Kenapa ya, kok di sini permen-permen yang ada modelnya begitu-begitu saja? Permen keras, permen kenyal, permen gummy, paling banter marshmallow. Nggak ada permen yang terlalu aneh, yang benar-benar bisa merebut perhatian, apalagi kontes membuat permen. Iya, kan??

Senin, 02 November 2015

The Evolution of Calpurnia Tate





Penulis             : Jacqueline Kelly
Penerjemah      : Berliani M. Nugrahani
Penyunting      : Nadya Andwiani
Penerbit           : Matahati
Tahun terbit     : Cetakan Pertama, November 2010


Calpurnia Virginia Tate, atau biasa dipanggil Callie Vee, adalah gadis berusia 12 tahun di Caldwell County, Texas. Saat itu tahun 1899, setiap anak-anak perempuan dituntut untuk siap menjadi seorang istri dan ibu. Mereka harus bisa memasak, merajut, serta berkelakuan baik dan sopan. Bukan berarti Callie tidak sopan, hanya saja merajut atau memasak bukan kegiatan favoritnya. Ia lebih suka bersama kakeknya, Kapten Tate. Seorang laki-laki tua yang lebih senang menghabiskan waktu di laboraturium sambil mengamati hewan-hewan dan tumbuhan.

Kapten Tate dianggap aneh oleh sebagian besar keluarga serta orang-orang di sekitar rumah mereka. Setelah pensiun dari perusahaan kapas miliknya –yang sekarang dipimpin oleh ayah Callie- Kakek lebih suka meneliti hewan dan tumbuhan. Callie juga menyukai hal seperti itu. Bersama Kakek, Callie pergi ke sungai, mengunjungi liang luak, hingga memperhatikan kehidupan mikro organisme dari balik kaca mikroskop.

Meneliti hewan dan tumbuhan merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi Callie. Dia mencatat semua penelitiannya di Buku Catatan pemberian Harry, kakaknya. Callie berharap dia bisa menjadi naturalis ketika besar nanti. Namun, apalah daya, di masa itu, peran perempuan masihlah sangat terbatas. Callie tidak tahu apakah mungkin mimpinya menjadi naturalis bisa menjadi kenyataan, di tengah lingkungan yang menganggap perempuan hanya tumbuh untuk menjadi istri dan ibu.


The Evolution of Calpurnia Tate adalah salah satu bacaan yang menyenangkan. Novel ini meraih banyak penghargaan, salah satunya adalah Newberry Honor Award pada tahun 2010. 

Kehidupan Callie di akhir abad 20 memiliki daya tarik sendiri bagi saya. Termasuk juga kisah tentang jaringan telepon Graham Bell yang mulai merambah ke kota-kota di Amerika, yang disambut dengan semarak oleh para penduduk. Begitu juga dengan kemunculan Coca Cola hingga mobil pertama.

Hal yang paling saya sukai dari cerita ini adalah gaya bercerita Callie yang sangat apa adanya. Dia menceritakan keseharian hidupnya, mulai dari persahabatannya dengan Lula Gates di sekolah, kehidupannya di rumah bersama enam saudara laki-lakinya, ketidaksukaannya terhadap memasak dan merajut, hingga keresahan hatinya karena merasa tidak akan sanggup menggapai mimpinya.

Saya tidak terlalu tahu sejarah kota Texas serta ilmu hewan dan tumbuhan. Tapi saya sangat menikmati cerita ini. Bahasa terjemahannya nyaman dibaca dan mudah dipahami. Cerita Callie sendiri kadang mengundang senyum-senyum tertahan karena komentarnya yang polos. Namun, meski di cerita itu disebutkan usia Callie adala 12 tahun, entah mengapa, membaca ceritanya membuat saya merasa Callie lebih dewasa dari itu. 

Salah satu hal yang paling saya suka dari kisah ini adalah cerita tentang Callie dan enam orang saudara laki-lakinya. Callie anak keempat dan perempuan satu-satunya. Ada Harry, Sam Houston, dan Lamar di atasnya. Lalu ada Travis, Sul Ross, dan Jim Bowie di bawahnya. Masing-masing saudara memiliki karakter yang berbeda. Saya sendiri paling suka dengan hubungan Harry dan Callie, serta J.B dan Callie. Mungkin karena mereka anak pertama dan terakhir, sedang Callie anak tengah.

Cerita ini juga cukup menggambarkan kehidupan Amerika saat itu, terutama di daerah perkebunan kapas. Kala itu, orang-orang berkulit hitam dianggap rendah, hanya bisa bekerja menjadi budak. Sedangkan orang-orang berkulit putih adalah orang kaya yang memiliki kedudukan terpandang. 

Ada satu bagian ketika Callie mencoba menggunakan cangkul di ladang kapas, dan salah seorang pengurus rumahnya melihat Callie dengan penuh ketakutan. Ia langsung menghampiri Callie dan menyuruhnya melepaskan cangkul itu. Bagi mereka, aib jika orang-orang kulit putih, apalagi orang kaya, turun ke ladang, terlebih untuk mencangkul.

Secara keseluruhan, membaca The Evolution of Calpurnia Tate adalah pengalaman yang menyenangkan bagi saya. Yang disayangkan hanya satu, saya tidak telalu suka sampulnya. Ilustrasi Callie di situ terlihat gemuk dan saya membayangkan Callie adalah gadis yang ramping dan lincah. Selebihnya, buku ini adalah buku yang layak dibaca, bagi anak-anak maupun orang dewasa.

Ini adalah kutipan yang paling saya suka:

“Pada suatu hari nanti, aku akan memiliki semua buku yang ada di dunia ini, rak demi rak berisi banyak sekali buku. Aku akan tinggal di dalam sebuah menara buku. Aku akan membaca seharian dan memakan buah persik. Dan jika para kesatria muda berbaju zirah berani memanggilku dari atas kuda putih mereka dan memohon padaku untuk menurunkan rambut, aku akan melempari mereka dengn biji persik sampai mereka pulang.”