Senin, 29 Juni 2015

Magical Dream from Erin Morgenstern




Omong-omong, ini pertama kalinya saya posting Opini Bareng BBI semenjak resmi jadi anggota BBI bulan Maret lalu, hehehe…

Nah, tema Opini Bareng BBI bulan Juni adalah latar atau setting cerita.  Oleh karena itu, saya memilih novel karya Erin Morgenstern yang berjudul The Night Circus. Kenapa? Karena menurut saya, sepanjang tahun 2015 ini, buku yang telah saya baca dan latarnya begitu indah dan membekas dalam ingatan saya adalah The Night Circus. 



TheNight Circus berkisah tentang sirkus ajaib bernama Le Cirque des Reves. Sirkus yang selalu datang tanpa pemberitahuan. Mampir ke daerah-daerah tanpa kabar sebelumnya dan selalu berhasil memukau setiap pengunjung yang hadir. 

Yang membuat saya menyukai novel ini karena Erin Morgenstern benar-benar apik menggambarkan keajaiaban dan keindahan Le Cirque des Reves. Begitu juga dengan atraksi-atraksi yang mempesona dari para pesulapnya. Ketika saya membaca buku ini, saya benar-benar berharap sirkus itu ada di dunia nyata. Bahkan, saya sempat terpikir, kalau buku ini difilmkan, rasanya saya tidak yakin apakah keindahan sirkus yang tercetak dalam kata-kata bisa diterjemahkan dengan baik secara visual.

Salah satu bagian yang saya suka, yang membuat saya benar-benar berharap bisa mengunjungi Le Cirque des Reves adalah saat Bailey memasuki sebuah tenda bernama Kisah Pengantar Tidur, di mana di dalamnya terdapat botol, stoples, dan wadah-wadah lainnya yang menyimpan aroma hutan, pantai, salju, hingga kastanye panggang. Saya juga suka dengan tenda yang berjudul Taman Es di mana es dan kepingan salju berserakan, menemani dua patung es yang saling mencinta.

Ah, apapun itu, kalau Le Cirque des Reves dan keajaibannya benar-benar ada di dunia nyata, saya rela menghabiskan malam-malam saya menjelajahi sirkus itu, berkeliling dari satu tenda ke tenda lain. Berlama-lama menikmati pesona mimpi dan keajaiban yang tersimpan di sana.

Ini salah satu bagian yang menggambarkan Le Cirque des Reves:

“Kau memasuki arena terbuka yang terang benderang, dikelilingi oleh tenda-tenda bergaris-garis. 

Jalan berkelak-kelok bercabang-cabang dari arena, berbelok menuju beraneka ragam misteri yang tidak terlihat, diterangi lentera-lentera yang berkelap-kelip. 

Para pedagang lalu-lalang di sekitarmu, menjajakan kudapan dan jajanan aneh, pernak-pernik berasa vanili dan madu, cokelat dan kayu manis.

Seorang manusia plastik berkostum hitam mengilap memuntir tubuh di atas panggung, menekuk-nekuk badannya ke posisi mustahil.

Seorang pria melemparkan bola-bola hitam, putih, dan perak tinggi-tinggi ke udara, membiarkannya melayang sejenak sebelum jatuh kembali ke tangannya, diiringi oleh tepuk tangan para penonton.
Semuanya bermandikan pendar cemerlang.

Cahaya memancar dari api unggun besar di tengah arena.

Saat mendekat, kau bisa melihat bahwa api itu menyala di dalam kuali besi hitam besar, yang disangga oleh sejumlah kaki bercakar. Pinggiran kuali terbelah menjadi lajur-lajur besi panjang melengkung, seolah-olah telah dilumerkan dan ditarik seperti gulali. Larik-larik besi itu menjulur ke atas dan melengkung kembali ke bawah, terpilin-pilin, menjadikannya mirip sangkar. Api terlihat dari sela-sela dan membubung ke atas. Bagian bawah kuali itu tertutup, sehingga mustahil untuk menyebutkan bahan bakarnya, apakah kayu atau batu bara atau yang lainnya.

Api yang menari-nari tidak kuning atau jingga, tetapi seputih salju.”

The Night Circus, 130-131.



Senin, 22 Juni 2015

Young Adult Reading Challenge: January - June Summary




Salah satu reading challenge yang saya ikuti tahun ini adalah Young Adult Reading Challenge dengan host-nya Mbak Atria. Sayangnya, akhir-akhir ini, semangat saya untuk membaca Young Adult agak berkurang. Padahal, saya sengaja ikut RC itu biar ada sesuatu yang menggerakkan saya untuk baca buku YA.

Nah, karena sekarang sudah masuk pertengahan tahun, saya ingin membuat daftar buku YA yang sudah dan akan saya baca sepanjang tahun 2015. Mudah-mudahan dengan daftar ini, saya jadi lebih semangat dan rajin baca yaaa…

Januari
  1. Dear Umbrella – Alfian Daniear
  2. Pandemonium – Lauren Oliver
  3. Forbidden Game; The Hunt - L.J. Smith
  4. Forbidden Game; The Chase - L.J. Smith
  5. Forbidden Game; The Kill - L.J. Smith
Maret
  1. The Night Circus - Erin Morgenstern
 Tuh, dikit banget kan...

Nah, inilah daftar buku yang akan dibaca
  1. Along for the Ride – Sarah Dessen
  2. Just One Day – Gayle Forman
  3. Twenty Boy Summer – Sarah Ockler
  4. The Perks of Being a Wallflower – Stephen Chbosky
  5. Boy Meets Boy – David Levithan
  6. After You’d Gone – Maggie O’Farrell
Untuk sekarang sih daftarnya masih segitu. Mungkin nanti bisa nambah kalau beli buku baru, hehehe….

Senin, 08 Juni 2015

The Emerald Atlas (The Books of Beginning)



Penulis             : John Stephens
Penerjemah      : Poppy D. Chusfani
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Juli 2011
Halaman          : 477

Malam Natal itu, Kate terakhir kali melihat kedua orang tuanya. Masih dalam kondisi mengantuk, ia dan kedua adiknya, Michael dan Emma, dibawa pergi meninggalkan rumah dan berpisah dari kedua orang tua mereka.

Sepuluh tahun kemudian, tiga bersaudara itu pindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain, tanpa pernah mengetahui kabar orang tua mereka. Namun Kate percaya, suatu hari nanti, mereka sekeluarga akan berkumpul lagi, dan sekarang tugas Kate adalah menjaga adik-adiknya seperti pesan ibunya di malam terakhir.

Suatu hari, Miss Crumley, pengasuh di panti terakhir mereka mengatakan kalau ada seseorang yang mau mengangkat mereka menjadi anak, di daerah Cambridge Falls, Westport. Tempat itu bukan wilayah yang menyenangkan, setidaknya begitulah yang mereka pikir. Wilayah itu sepi, gelap, berkabut, dengan danau dan pegunungan. Satu hal yang paling aneh, tidak ada anak-anak di sana.

Di Cambridge Falls, ketiga bersaudara tinggal di rumah besar milik Dr. Pym. Ada pengurus rumah tangga bernama Miss Sallow dan Abraham yang membantu anak-anak. Selebihnya, tidak ada siapa-siapa lagi yang tinggal di rumah itu.

Suatu hari, Kate, Michael, dan Emma berjalan-jalan menelusuri rumah. Mereka menemukan sebuah ruang kerja dan buku kosong. Ajaibnya, buku itu mampu membawa mereka ke masa lalu. Masa di mana masih terdapat anak-anak di Cambridge Falls. Masa di mana sang Countess yang cantik dan jahat berkuasa, dan menginginkan sebuah buku sihir bernama Atlas
.
Baik Kate, Michael, maupun Emma, tak mengerti mengapa mereka ada di sana. Dan yang lebih parahnya lagi, mendapati diri mereka sebagai anak-anak terpilih yang bisa menemukan Atlas dan menyelamatkan Cambridge Falls dari kekejaman sang Countess. 



Inti cerita dari Emerald Atlas ini adalah tentang buku-buku permulaan yang dulu dibuat oleh para penyihir, buku-buku yang bisa menjadi alat untuk menguasai dunia. Konon, dahulu kala, para penyihir dan manusia biasa hidup berdampingan. Namun, semakin lama, kedudukan penyihir makin tersisih hingga akhirnya terlupakan. Keberadaan buku-buku tersebut pun menjadi misteri.

Sang Countess, menginginkan buku-buku itu menjadi miliknya. Menurut kabar burung yang beredar, salah satu buku tersimpan di tanah Cambridge Falls. Karena itulah dia memaksa para penduduk Cambridge Falls untuk menggali.

Seperti dongeng-dongeng, ada sebuah ramalan yang menyatakan bahwa ketiga buku tersebut dapat ditemukan oleh ketiga anak. Dan anak-anak itu adalah Kate, Michael, dan Emma. Hanya mereka-lah yang dapat mengakses keberadaan ketiga buku tersebut. Di buku Emerald Atlas, Kate-lah yang menemukan salah satu buku pertama. Berarti masih ada dua buku yang menunggu untuk ditemukan.

Cerita Emerald Atlas sendiri, menurut saya seru banget. Menegangkan dan menyentuh. Terutama dengan ikatan yang terjalin antara Kate, Michael, dan Emma. Tumbuh sendirian tanpa orang tua, membentuk mereka bertiga menjadi pribadi yang berbeda-beda. 

Kate, sebagai yang tertua, merasa paling bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Michael, kurus kecil, sangat suka memotret, mencatat di notes, dan terobsesi pada kisah kurcaci. Sedangkan Emma, terkenal galak dan suka memberontak. Walau bagaimanapun, ketiganya saling menjaga dan menyayangi. Suka terharu sendiri jika membaca bagian di mana ketiganya berusaha menyelamatkan saudara-saudara mereka.

Saya juga suka dengan hubungan Emma dan Gabriel. Gabriel ini seorang lelaki yang menyelamatkan mereka bertiga, di Cambridge Falls masa lalu. Di antara mereka, Emma-lah yang paling dekat dengan Gabriel. Dan saya sukaaaa…. banget, cara Emma dan Gabriel menjaga satu sama lain. Walaupun galak, Emma sangat menyayangi Gabriel, begitupun dengan Gabriel, sudah menganggap Emma seperti putrinya sendiri.

Waktu pertama kali lihat buku ini, saya sempat tertukar dengan cerita Cloud Atlas-nya David Mitchell. Tapi, setelah membaca bukunya, saya merasa beruntung menemukan buku yang keren dan seru ini. Saya nggak sabar mau baca kelanjutan ceritanya, yaitu The Fire Chronicles dan The Black Reckoning.