Sabtu, 11 April 2015

The Fabulous Udin



Penulis             : Rons Imawan
Penerbit           : Bentang Belia
Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, Februari 2013
Halaman          : 379

Udin bukanlah bocah biasa, atau begitulah yang bapaknya pikir selama ia hidup. Emak Udin sendiri menganggap itu karena suaminya terlalu menyayangi Udin. Namun setelah suaminya meninggal, dan Udin terus tumbuh, Emak Udin sadar kalau bocah berusia 14 tahun itu memang istimewa.

Dengan kecerdikannya, Udin berhasil menyelamatkan Apang yang nyaris bunuh diri. Udin juga berhasil mempermalukan Brewok, penjual sate Madura yang terkenal akan kekikirannya. Intinya, kehadiran Udin selalu bisa memecahkan masalah, yang orang dewasa pun belum tentu bisa menyelesaikannya.

Pada suatu hari, di kelas Udin datang seorang murid baru. Namanya Suri. Dia cantik tapi berkepala botak akibat penyakit kanker yang dideritanya. Suri sangat tidak suka jika orang-orang mengasihaninya. Udin-lah yang pertama kali menunjukkan kalau ia menganggap Suri sama dengan teman-temannya yang lain, bukan orang yang tinggal menghitung hari kematian.

Karena hal itu, lama kelamaan Suri berteman akrab dengan Udin dan ketiga sahabatnya, Inong, Jeki, dan Ucup. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, paling banyak dilakukan di rumah Suri karena kondisi tubuhnya yang tidak bisa terlalu lelah. Persahabatan Suri dengan keempat anak itu membuatnya lebih ceria dan semangat hidup. Terutama karena Udin. Namun waktu Suri tidak banyak. Ia ingin tahu apakah Udin memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak, sebelum ia pergi untuk selama-lamanya.


Novel The Fabulous Udin ini sudah saya dengar entah sejak kapan. Penulisnya, yang lebih terkenal dengan panggilan Onyol, sudah lama kicauannya wara-wiri di timeline saya, karena isinya yang kocak dan menohok hati. Namun baru kali ini dapat kesempatan membaca salah satu karyanya.

The Fabulous Udin bercerita sepotong kisah hidup seorang bocah bernama Udin (ya iyalah!). Udin ini digambarkan sebagai seorang bocah yang manis, santun, rajin, cerdas, dan sayang sekali dengan Emaknya. Dan yang paling bikin meleleh, Udin ini pandai membuat puisi romantis tis tis. Pokoknya lovable banget deh. Saking lovable-nya, membuat saya merasa tokoh Udin ini nggak akan pernah ada di kehidupan nyata.

Ceritanya sendiri bertema sangat remaja. Mulai dari menghadapi guru matematika yang killer hingga kisah cinta segitiga yang mengharu biru. Di sela-sela narasi, kadang terselip ‘suara’ Onyol yang seringkali meledek Udin. Membuat cerita yang berpotensi menguras air mata ini tetap membuat orang tertawa.

Saya juga suka dengan pemilihan latar kisahnya, yaitu di daerah Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Entah kenapa, saya selalu suka dengan cerita-cerita lokal yang latarnya tidak di Jakarta. Entah karena terlalu sering dipakai atau menyorot Jakarta dari sisi yang itu-itu saja.

Membaca buku ini tidak membutuhkan waktu lama. Namun banyak pelajaran yang bisa diambil dari lembar-lembar tulisannya. Dan walaupun tokoh Udin terlalu bagus untuk jadi nyata, saya tetap berharap semoga saja Udin benar-benar ada. :)



The Book of Lost Things



Penulis             : John Conolly
Penerjemah    : Tanti Lesmana
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Cetakan ke 4, April 2010
Halaman          : 472

Setelah kematian ibunya, David dihantui mimpi-mimpi aneh. Ia juga mulai mendengar suara-suara asing dari buku-buku cerita di kamarnya. Buku-buku itu bahkan bisa berbicara kepadanya!

Awalnya, David mengira itu akibat kesedihan sepeninggal ibunya. David tidak pernah menceritakan keajdian aneh itu pada ayahnya, yang setelah ditinggal istrinya, menikah lagi dan pindah dari London ke pedesaan. Saat itu, tengah berkecamuk perang. Menurut ayah David, rumah istirinya di desa lebih aman bagi David dan keluarga barunya.

Di rumah Rose, ibu baru David, ia ditempatkan di kamar milik pamannya, Jonathan Tulvey, yang menghilang ketika berumur 14 tahun bersama seorang gadis kecil bernama Anna. Mereka tidak pernah kembali, namun kamar Jonathan tetap dijaga seperti saat ia pergi. Kini, David yang menempati kamar itu karena Rose menganggap David dan pamannya sama-sama menyukai buku, dan kamar itu terasa cocok untuknya.

Buku-buku di kamar baru David juga bisa berbicara. Tapi kali ini David sudah terbiasa dengan kondisi itu.
Mimpi-mimpi aneh itu juga masih menghantui David. Ia bahkan seperti mendengar suara ibunya memanggil-manggil dan mengatakan kalau dia belum meninggal.

Pada suatu hari, David sedang berjalan-jalan di ceruk sebuah kebun. Lalu ia masuk ke dalam sebuah lubang besar di batang pohon yang mengantarkannya pada suatu dunia yang aneh dan asing. Di dunia itu, bunga-bunga seperti memiliki wajah yang sendu dan manusia serigala berkomplot melawan sang Raja untuk menggulingkannya dari tahta.

David dibantu oleh si Tukang Kayu, manusia pertama yang ia temui di dunia itu. David yakin ibunya masih ada di suatu tempat di dunia itu, dan ia harus menemukannya. Sayangnya, jalan pulang di batang pohon yang sudah ditandai si Tukang Kayu dijaili oleh Lelaki Bungkuk.

Satu-satunya cara agar David bisa kembali pulang adalah menghadap sang Raja. Konon katanya, Raja memiliki sebuah kitab sakti yang bisa membawa David kembali pulang ke dunia asalnya. Kitab Tentang yang Telah Hilang.



The Book of Lost Things merupakan sebuah cerita dongeng, Namun dongeng yang gelap dan penuh darah, meskipun tokoh utama cerita itu baru berusia belasan tahun. Mungkin itulah sebabnya penerbit Gramedia memberikan label Novel Dewasa di bagian belakang bukunya.

Kisah ini menceritakan perjalanan David di negeri antah berantah untuk mencari ibunya (yang ia percaya belum mati) dan bertemu Raja agar ia bisa kembali ke Inggris, dunia asalnya. 

Namun, perjalanan David bukanlah perjalanan menyenangkan ala kisah dongeng yang sering kita dengar. Di sana ia bertemu dengan Snow White yang rakus, Putri Tidur yang kejam, dan Gadis Tudung Merah yang mencintai serigala. Ia pun harus menghadapi manusia serigala, troll, harpy, dan makhluk raksasa aneh yang memakan segala.

Benar-benar cerita yang gelap dan penuh darah. Walaupun sebenarnya ada pelajaran moral yang bisa diambil dari cerita ini. Tentang keberanian, keteguhan hati, dan kesetiaan pada keluarga. Sayangnya buku ini lebih cocok dibaca untuk usia 16-17 ke atas, karena hal-hal seram yang digambarkan di dalam cerita. Saya sendiri sampai takut bermimpi buruk setelah tamat membaca buku ini.

Meskipun pada awalnya agak membosankan, tapi setelah sampai pada petualangan David, rasanya sulit untuk meninggalkan cerita ini. Saya dibuat penasaran setengah mati seperti apa Buku Tentang yang Telah Hilang yang konon katanya sakti itu, dan apakah cerita ini berakhir bahagia, mengingat dongeng ini bukanlah dongeng biasa.