Minggu, 29 Maret 2015

Wonderstruck



Penulis             : Brian Selznick
Penerjemah      : Marcalais Fransisca
Penerbit           : Mizan Fantasi
Tahun Terbit    : Cetakan 1, November 2013
Halaman          : 620


Ben terus dihantui mimpi dikejar-kejar serigala. Terutama sejak kecelakaan yang menimpa ibunya, yang membuatnya menjadi anak yatim piatu. Kini, ia tinggal di rumah bibinya dan tidur sekamar dengan sepupunya Robby, yang kerap kali mengejeknya tuli.

Ben memang terlahir dengan kondisi tuli sebelah. Namun ia masih bisa mendengar dengan satu telinganya yang sehat. Sebelum ibunya pergi, Ben hidup dengan damai di rumah pondoknya di Gunflint Lake, Minnesota.

Suatu malam, Ben kembali ke rumah ibunya dan menemukan sebuah buku berjudul Wonderstruck yang diperuntukkan untuk seseorang bernama Danny. Ketika Ben membacanya, dia menemukan sebuah pembatas buku yang berisikan pesan untuk ibunya dari seseorang bernama Danny. Tidak hanya itu, Ben juga menemukan kalung ibunya dengan bandul yang berisi sebuah foto laki-laki. Di balik foto itu, tertulis sebuah nama, Daniel.

Ben menatap foto dan pesan di pembatas buku berkali-kali. Mata laki-laki itu mirip dengan mata Ben. Ia bertanya-tanya apakah mungkin Danny adalah ayahnya. Selama ini ibunya tidak pernah bercerita tentang ayahnya, sehingga Ben kerap membayangkan seperti apa ayahnya dan di mana ia sekarang.

Pembatas buku itu mungkin bisa jadi petunjuk. Ada alamat toko buku di New York yang tertera di sana. Mungkin ayahnya tinggal di sana. Mungkin Ben bisa ke New York dan bertemu ayahnya. Ben melihat nomor telepon di pembatas buku dan mencoba menghubungi nomor itu. Tiba-tiba kilat menyambar dan Ben tidak mendengar apa-apa lagi.


Another brilliant book from Brian Selznick!

Setelah terpukau dengan The Invention of Hugo Cabret, saya melihat Wonderstruck dipajang di rak toko buku dan bertekad untuk memilikinya juga.

Khas Brian Selznick, Wonderstruck tidak hanya bercerita melalui tulisan, melainkan juga lewat ilustrasi yang digambar oleh Selznick dengan begitu indah dan hidup.  Berbeda dengan kisah Hugo Cabret di mana ilustrasinya merupakan kelanjutan dari cerita yang ditulis, di Wonderstruck, ilustrasi yang mengiringi kisah Ben memiliki cerita sendiri.

Ilustrasi itu berkisah tentang seorang gadis yang juga tuli dan pergi sendiri ke New York untuk mencari ibunya. Meskipun berbeda tokoh, apa yang dialami Ben dan gadis misterius itu hampir sama. Mereka sama-sama mengunjungi American Museum of Natural History dan menemukan apa yang mereka cari di sana.

Kisahnya sangat keren. Sejak awal membaca saya sudah jatuh hati dengan Ben yang suka mengumpulkan benda-benda unik di sekitar rumahnya. Saya juga suka dengan ibunya Ben, Elaine, yang sangat menyayangi Ben dan sangat memfasilitasi keingintahuan Ben terhadap banyak hal.

Ketika sampai di bagian ucapan terima kasih, Selznick menceritakan apa yang menjadi inspirasi lahirnya Wonderstruck dan berbagai riset yang dilakukan saat mengerjakan buku tersebut. Dan saya benar-benar terpukau dengan keseriusan Selznick. Tidak heran jika hasil karyanya sangat menakjubkan. Membuat saya tidak sabar menanti karya Selznick selanjutnya.

Satu hal yang sedikit disayangkan, Mizan menerbitkan Wonderstruck dengan kertas buram yang lebih tipis. Kalau saja diterbitkan seperti buku The Invention of Hugo Cabret yang menggunakan kertas lebih terang dan lebih tebal, pasti lebih bagus (dan mungkin lebih mahal, hehehe).



Senin, 23 Maret 2015

The Night Circus



Penulis             : Erin Morgenstern
Penerjemah      : Berliani Nugrahani
Penerbit            : Mizan Fantasi
Tahun Terbit    : Cetakan 1, Januari 2013
Halaman          : 607


Sejak usia 6 tahun, Celia telah ditakdirkan untuk mengikuti permainan milik ayahnya, Hector Bowen atau lebih dikenal dengan nama Prospero Sang Pesulap, dan seorang laki-laki bersetelan abu-abu bernama Alexander. Celia tidak tahu permainan seperti apa yang dimaksud ayahnya. Ia hanya tahu kalau ia telah diikat dengan sebuah cincin emas yang meninggalkan luka bakar di jarinya dan ditakdirkan untuk memainkan permainan itu sampai selesai.

Di sisi lain, Alexander juga memiliki seorang murid yang dijadikannya sebagai lawan Celia. Seorang anak laki-laki bernama Marco Alisdair yang diambilnya dari sebuah panti asuhan di London. Baik Marco maupun Celia, keduanya disiapkan untuk saling bertanding suatu hari nanti, tanpa pernah tahu dan bertemu siapa lawan masing-masing.

Jika Celia dilatih oleh ayahnya dengan terus menerus melakukan trik sulap yang hampir seperti sihir, maka Marco menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku-buku yang diberikan Alexander. Setiap buku yang diberi, dipelajari oleh Marco dan bagian-bagian pentingnya ia salin. Kondisinya terus seperti itu hingga mereka dewasa.

Sepuluh tahun kemudian, seorang pria bernama Chandresh Lefevre mengadakan jamuan tengah malam dan memiliki ide untuk membangun sebuah sirkus. Sirkus yang penuh keajaiban dan hal-hal mempesona dan hanya buka dari tengah malam hingga fajar tiba. Dibantu asistennya Marco, seorang ahli desain bernama Mr. Ethan Barris, seorang ahli mode bernama Mme. Padva, dan si kembar Laini dan Tara Burgess, Chandresh pun membangun sebuah sirkus yang diberi nama Le Cirque de Reves.

Kini saatnya membuka audisi untuk menentukan siapa saja yang akan mengisi tenda-tenda sirkus. Tentu saja, orang-orang itu harus memiliki bakat luar biasa untuk diterima di Le Cirque de Reves. Ketika Celia mengikuti audisi tersebut, Marco langsung tahu, gadis itulah lawannya, dan sirkus itulah arena pertandingannya.


The Night Circus, sebuah kisah yang indah dan mempesona dari Erin Morgenstern. Ceritanya cukup panjang, dan penuh berisi deskripsi mendetail mengenai keindahan sirkus dan trik-trik yang dilakukan para pesulapnya. Morgenstern juga memberi kesempatan kepada para pembacanya untuk mampir ke setiap tenda yang dimiliki sirkus, dengan penjelasan yang rinci, hingga seolah-olah benar-benar mengunjungi tenda tersebut.

Inti ceritanya sendiri berpusat pada pertandingan antara Marco dan Celia. Keduanya bertanding kemampuan sulap, yang sebenarnya tidak bisa dikatakan sulap melainkan seperti sihir. Tidak ada trik-trik kecepatan gerak tangan atau mekanik yang tersembunyi, semuanya dilakukan dengan pemusatan pikiran dan bakat.
Sayangnya, kedua tokoh yang diharapkan saling tanding ini malah saling jatuh cinta. Terpesona pada bakat yang dimiliki masing-masing. Sedangkan permainan itu tidak akan berakhir sampai salah satu dari mereka mati. Nah, untuk sampai bagian ini, kita harus membaca lebih dari setengah buku, alias sekitar tiga ratusan halaman.

Kalau bukan karena kepiawaian Morgenstern dalam menuliskan pesona sirkus, saya mungkin sudah menyerah membaca novel ini, karena tidak juga bertemu dengan konfliknya. Dan yang sangat disayangkan, perasaan jatuh cinta Marco dan Celia terkesan dipaksakan. Sebelumnya, tidak ada kedekatan sama sekali di antara mereka berdua, lalu tahu-tahu jatuh cinta, dan memutuskan untuk segera menyelesaikan permainan itu.

Lalu kemunculan tokoh bernama Bailey, yang dianggap bisa menyelamatkan Le Cirque de Reves juga kurang kuat alasannya. Memang sih Bailey sudah muncul di bagian awal cerita, namun saya tidak mendapatkan alasan yang benar-benar kuat sehingga Bailey-lah yang layak muncul menjadi ‘penyelamat’.

Walau bagaimanapun, kisah The Night Circus ini benar-benar indah. Kalau mahir menggambar, saya ingin sekali melukiskan kembali apa yang dituturkan oleh Morgenstern saat mendeskripsikan wujud Le Cirque de Reves dan tenda-tenda penuh keajaibannya. Dan kalau sirkus itu benar-benar ada di dunia nyata, tak seorang pun yang boleh melewatkannya.

Satu lagi, sampul bukunya juga benar-benar cantik, menjadikan buku ini layak dikoleksi ^___^

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 15 Reading Challenge kategori Who Are You Again]

Jumat, 13 Maret 2015

Dunia Sophie



Penulis             : Jostein Gaarder
Penerjemah      : Rahmani Astuti
Ilustrastor Isi   : Guntur
Penerbit           : Mizan Pustaka
Tahun Terbit    : Edisi Gold, Cetakan X, Oktober 2013
Halaman          : 785


Sophie baru saja pulang sekolah ketika menemukan surat misterius di kotak posnya. Surat itu tidak ada nama pengirim, hanya disebutkan untuk Sophie Amundsend, 3 Clover Close. Isi suratnya pun sangat aneh, hanya pertanyaan ‘Siapakah kamu?’ yang ditulis tangan dengan tanda tanya besar.

Lalu, ada surat lain yang tak kalah aneh. Surat seorang ayah yang mengucapkan selamat ulang tahun  ke 15 untuk anak gadisnya yang bernama Hilde Moller Knag. Tapi kenapa surat itu ditujukan ke alamat Sophie? Sophie merasa bingung sendiri. 

Belum hilang rasa keheranan Sophie, besoknya ia mendapat surat misterius lain, yang menjelaskan apa itu filsafat dalam tulisan yang diketik rapi di atas tumpukan kertas. Bukan itu saja, Sophie juga diberitahu akan mengikuti sebuah kursus filsafat dari seseorang yang mengirimkan pelajaran-pelajarannya lewat setumpuk surat. Dengan rasa penasaran yang besar, Sophie bertekad untuk mencari tahu siapa pegirim misterius itu dan di mana ia tinggal.


Dunia Sophie merupakan salah satu novel Jostein Gaarder yang terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Novel tebal yang mengangkat tema filsafat ini diterbitkan pertama kali di Norwegia pada tahun 1991 dengan judul Sofies Verden, dan sampai sekarang masih dinikmati para pembaca buku di berbagai penjuru dunia.

Jujur saja, saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan filsafat. Saya masih beranggapan kalau filsafat itu rumit, abstrak, dan tidak perlu. Apa sih untungnya memikirkan hal-hal yang malah membuat makin pusing? Itulah yang ada di pikiran saya kalau ditanya tentang filsafat.

Namun, entah kenapa tulisan Gaarder yang satu ini menarik minat saya. Entah karena kemahsyurannya, entah karena filsafatnya, atau malah karena tebalnya yang ampun-ampunan, yang membuat saya penasaran, buku itu isinya apa aja sih?

Well, Dunia Sophie berisi penjelasan dan sejarah filsafat, mulai dari zaman Yunani Kuno, Abad Pertengahan, Renassains, hingga zaman modern awal tahun 90an. Tidak hanya itu, tokoh-tokoh filsafat dari setiap zaman pun dibahas satu persatu, mulai dari Socrates, Plato, Aristoteles, Locke, Hume, Kant, hingga Freud, Marx, dan Darwin. Dan karena tokoh-tokoh itu tidak hanya bersinggungan dengan filsafat, maka di dalamnya pun terdapat berbagai macam teori, seperti teori evolusi Darwin, teori sosialis Marx, hingga psikoanalisis Freud.

Jadi, jelaslah alasan yang membuat novel Dunia Sophie begitu tebalnya!

Di dalam novel, semua penjelasan itu dijelaskan oleh seorang laki-laki bernama Alberto Knox yang mengirimkan surat-surat panjang kepada Sophie. Belakangan, akibat rasa penasaran Sophie yang begitu tinggi, ia pun bertemu dengan laki-laki itu, dan mendapat pelajaran filsafatnya secara langsung melalui obrolan-obrolan panjang dengan Alberto.

Karena usia Sophie masih 15 tahun, tentu saja Alberto menjelaskan semua pelajarannya dengan bahasa yang mudah dan contoh-contoh yang ada di kehidupan sehari-hari. Bagi saya, itulah kelebihan novel ini. Gaarder dapat menerjemahkan sesuatu yang rumit ke dalam bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Dan yang lebih hebat, ada banyak sekali yang dijelaskannya. Ckckck….

Lalu, apa sih maksud Gaarder panjang-panjang menulis novel filsafat dan merangkum hampir seluruh sejarah peradaban manusia yang terwujud dalam Dunia Sophie? Saya mendapat jawabannya di paragraf ini:

“Penyair Jerman Goethe pernah berkata, ‘Orang yang tidak dapat belajar dari masa tiga ribu tahun berarti dia tidak memanfaatkan akal sehatnya.’ Aku tidak ingin kamu berakhir dengan keadaan yang begitu menyedihkan. Aku akan melakukan apa yang dapat kulakukan untuk memperkenalkanmu dengan akar sejarahmu. Itulah satu-satunya cara untuk menjadi manusia. Itulah satu-satunya cara untuk menjadi lebih dari sekedar seekor kera telanjang. Itulah satu-satunya cara agar kita tidak hanya melayang-layang di ruang hampa.”

Bagi saya, Dunia Sophie merupakan jenis buku yang membuat kita ingin membaca lebih banyak buku setelah membacanya. Ada begitu banyak pengetahuan yang dijelaskan dan banyak hal menarik untuk dipelajari lebih lanjut. 

Diterbitkan oleh salah satu penerbit besar di Indonesia, menurut saya terjemahan Dunia Sophie dari Mizan sangat nyaman untuk dibaca. Kondisi fisik bukunya pun bagus, mulai dari ukuran font huruf yang tidak terlalu kecil, warna kertas yang tidak terlalu terang, dan bagian yang paling saya suka, adanya ilustrasi wajah tokoh-tokoh yang dijelaskan oleh Alberto. Bahkan ada ilustrasi wajah Sophie juga.

Dunia Sophie merupakan karya Gaarder yang benar-benar brilian dan mengagumkan. Sebuah buku yang sangat layak dibaca dan dikoleksi. Bagi yang belum membacanya, cobalah beri satu kesempatan dan kamu tidak akan menyesal ^__^

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 15 Reading Challenge kategori Chunky Brick]

Selasa, 03 Maret 2015

Buku Ini Tidak Baik Buatmu



Penulis             : Pseudonymous Bosch
Penerjemah      : Andi Kurniawan
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit    : 2012
Halaman          : 385


Di liburan musim panas, Cass dan Max Ernest, menemukan majalah We yang berisi gossip tentang kunjungan Skelton Bersaudari ke sebuah panti asuhan sekaligus perkebunan cokelat di Afrika. Tapi yang menarik bagi kedua anak itu bukanlah kunjungan atau panti asuhannya, melainkan adanya Nona Mauvais, salah satu anggota Matahari Tengah Malam, di foto itu sebagai seorang biarawati.

Sebagai anggota Perkumpulan Terces, sangat penting mengetahui keberadaan para anggota Matahari Tengah Malam yang biasanya memiliki rencana jahat. Kali ini Matahari Tengah Malam menginginkan sebuah Garpu Tala warisan Suku Aztec yang konon katanya dapat melezatkan makanan apapun yang diaduk dengan benda tersebut. Untuk mendapatkan Garpu Tala itu, Matahari Tengah Malam tidak segan-segan menculik ibu Cass agar Cass dan Perkumpulan Terces-nya menemukan garpu itu dan memberikannya pada mereka.

Di Perkumpulan Terces sendiri, Cass, Max Ernest, dan Yo Yoji-lah yang ditugaskan untuk mencari Garpu Tala tersebut. Mereka harus menemukannya dalam dua hari jika mau ibu Cass tetap selamat. Maka, dimulailah petualangan ketiga sekawan tersebut mencari Garpu Tala dan memecahkan misteri di mana sebenarnya ibu Cass disembunyikan.


Ternyata agak susah ya, mereview buku serial, sedangkan aku tidak membacanya dari awal. Ya, Buku Ini Tidak Baik Buatmu adalah buku ketiga dari Serial Rahasia dari penulis yang namannya Rahasia juga, hehehe…

Karena tidak membaca dari awal, aku pun tidak bisa menjelaskan secara pasti, apa sebenarnya Perkumpulan Terces dan Matahari Tengah Malam serta apa yang mereka inginkan. Tapi kalau inti cerita dari buku ketiga ini adalah tentang petualangan Cass dan dua sahabatnya mencari Garpu Tala dan menyelamatkan ibunya dari tiga anggota Matahari Tengah Malam yang menculiknya.

Seunik judulnya, maka di dalamnya banyak hal-hal unik dan menarik. Seperti catatan kaki dari penulis yang lucu, informatif, tapi kadang menyebalkan. Atau bab dengan tulisan sepotong-sepotong, dan di akhir ada kamus 100 kata ‘Halo’ dari berbagai bahasa milik Max Ernest, dan Cokelarium, yang isinya resep-resep menikmati cokelat dengan berbagai cara.

Kalau ditanya, apakah buku ini lucu, maka jawabannya, ya. Salah satu alasannya karena penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, di mana si penulis-lah yang menceritakan kisah itu, dan seringkali memasukkan opini-opininya terhadap apa saja yang terjadi dalam cerita. Tapi barangkali, bagian yang paling menarik dan lucu bagiku adalah catatan kakinya. Selain itu, aku juga suka dengan desain sampulnya yang bernuansa gemerlapan. Setiap bab juga ada ilustrasinya yang menggambarkan apa yang terjadi pada bab tersebut.

Satu-satunya yang aku sesalkan dari buku ini adalah aku tidak membacanya dari buku pertama. Jadi, di awal agak malas-malasan membacanya karena belum ‘kenal’ dengan masalah dan tokoh-tokohnya. Nah, saranku bacalah Serial Rahasia ini dari buku pertama yaa…

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.15 Reading Challenge kategori It’s Been There Forever]