Sabtu, 21 Februari 2015

About a Boy



Penulis             : Nick Hornby
Penerbit           : Penguin Books
Tahun Terbit    : 2000
Halaman          : 307



Marcus belum lama tinggal di London, setelah sebelumnya tinggal di Cambridge. Orangtuanya bercerai dan kini ia hidup berdua saja dengan ibunya, seorang musik terapis yang tampak tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri akibat perceraiannya dengan sang suami.

Di sekolah, Marcus melalui masa yang berat karena ia terlihat seperti seorang murid aneh dan tidak punya teman. Marcus tidak memakai baju yang sedang trend dan suka bernyanyi sendiri di kelas, di tengah pelajaran. Kerap kali ia ditertawakan teman-temannya, bahkan gurunya sendiri.

Lalu ada Will, pria single berusia 36 tahun, tidak bekerja, dan menghabiskan harinya dengan menonton dan bersenang-senang dari uang royalty lagu buatan ayahnya yang terkenal di seantereo Inggris. Will beberapa kali menjalani hubungan dengan wanita, namun tidak ada yang berhasil dalam jangka panjang. Terakhir kali dengan Angie, seorang single mother, dan itu pun juga tidak berhasil.

Beberapa kali menjalani hubungan dengan single mother, membuat Will ingin mengetahui lebih dalam apa yang sebenarnya para single parents rasakan. Ia pun memutuskan untuk bergabung di perkumpulan single parents (SPAT) dan berpura-pura menjadi ayah satu anak yang ditinggalkan istrinya. Perkumpulan itulah, yang secara tidak sengaja, mempertemukannya dengan Marcus.
Saat iu, Will mengikuti piknik yang diadakan oleh SPAT, di mana di sana ada Marcus yang dititipkan oleh ibunya kepada Suzie. Suzie adalah teman baik ibu Marcus dan juga salah satu anggota SPAT.

Di tengah piknik, Marcus tidak sengaja melempar roti ke seekor bebek dan bebek itu mati. Seorang penjaga taman menanyai Marcus akan hal itu, lalu Will membelanya dengan mengatakan kalau bebek itu mungkin memang akan mati, dan tidak ada hubungannya dengan roti yang dilemparkan Marcus.

Will tidak bermaksud membela Marcus, tapi Marcus jadi menyukai Will sejak saat itu. Maka, dimulailah persahabatan yang aneh antara bocah 12 tahun dan pria yang berumur tiga kali lipat darinya.


Sejujurnya, agak males-malesan waktu baca bagian awal buku ini. Entah kenapa, saya merasa belum dapat bagian seru atau menariknya. Cerita baru terasa hidup dan menarik setelah tokoh Marcus dan Will bertemu. Baru terasa humor-nya Nick Hornby yang disebut-sebut sebagai salah satu kelebihan buku ini.

Marcus, walaupun masih 12 tahun, punya pikiran yang cukup dewasa untuk anak seusianya, tapi masih dengan kepolosan anak-anak. Kalau sedang membaca bagian dia, rasanya seperti tersentil tapi ingin tertawa juga. Tentang bagaimana dia menganggap kehidupannya, ibunya, lingkungannya di sekolah, dan pertemanannya dengan Will.

Di pihak Will, ia sebenarnya tidak berniat berteman dengan Marcus dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Namun, kedatangan Marcus setiap hari ke rumahnya, yang tentu tak bisa diolak, membuat Will makin mengenal anak itu dan menyayanginya. Seperti kata Will, Marcus datang kepadanya tanpa meminta apa-apa sekaligus meminta segalanya.

Saya sangat menyukai hubungan Marcus dan Will di cerita ini. Lucu, menyentuh, dan kadang bikin gemes. Mereka sering terlibat dalam suatu perdebatan, di mana Marcus mendebat dengan polos sekaligus cerdas, dan Will tampak kehabisan akal menghadapi Marcus yang sama sekali tak bisa diprediksi.

Berlatar London tahun 93-94, cerita About a Boy kental dengan suasana Inggris pada era 90an, terutama kultur pop-nya. Bahkan kematian sang vokalis Nirvana, Kurt Cobain, menjadi salah satu bagian yang menggerakkan alur cerita novel ini. 

Well, after all, walaupun bagian awalnya agak membosankan, Hornby memberi saya insight yang mendalam tentang kehidupan lewat novel About a Boy-nya. Novel ini sendiri sudah pernah difilmkan dengan judul yang sama pada tahun 2002, diperankan oleh Hugh Grant dan Nicholas Hoult. Tapi sepertinya cerita di film beda deh dengan cerita di buku....




Jake and Lily



Penulis             : Jerry Spinelli
Penerbit           : HarperCollins Publisher
Tahun Terbit     : EPub Edition 2012
Halaman          : 114


Jake dan Lily Wambold adalah dua anak kembar yang lahir di kereta api dan memiliki kebiasaan aneh setiap malam ulang tahun mereka. Tengah malam sebelum hari ulang tahun, mereka berdua akan sama-sama berjalan ke stasiun kereta api tanpa janjian sama sekali.

Ada hal lain lagi yang membuat mereka yakin kalau mereka bukan anak kembar biasa. Jika Lily sedang terancam bahaya atau kesakitan, Jake mengetahuinya meskipun ia berada jauh dari kembarannya. Begitu juga sebaliknya. Keanehan itu sering terjadi dan membuat Lily sangat yakin kalau ia dan Jake memiliki hubungan yang sangat kuat, lebih dari sekedar saudara kembar.

Sayangnya, keyakinan itu terpatahkan ketika liburan musim panas saat Jake mulai mengenal Bump dan kawan-kawannya. Bump adalah anak laki-laki dari perumahan mereka yang sangat dibenci Lily. Bump dan kawan-kawan menamai diri mereka Death Rays dan kini Jake termasuk di dalamnya.

Kini Jake sudah tidak mau lagi bermain dengan Lily. Setiap hari dia bermain dengan Death Rays, sedangkan Lily hanya meratapi nasibnya karena ditinggalkan Jake. Ditambah lagi, kamar mereka kini dipisah karena mereka semakin bertambah besar. Jake akan pindah ke kamar baru dan Lily akan tidur sendiri.

Semua itu membuat Lily sangat sedih, marah, dan kesal. Ia tidak mengerti mengapa Jake tidak mau bermain lagi dengannya. Satu-satunya orang yang menemaninya selama liburan musim panas adalah Poppy, kakeknya yang tinggal tidak jauh dari rumah Lily. Poppy lah yang berusaha membuat Lily tersenyum lagi. Tapi, bagaimana Lily menjalani hari-harinya tanpa Jake? 
 


Ini pertama kalinya saya membaca karya Jerry Spinelli yang banyak menulis buku untuk middle grade, salah satunya novel Jake and Lily ini. Menurut saya, ceritanya cukup menarik dan mungkin sesuai dengan perkembangan emosi mereka. Saat anak-anak, terkadang kita memang merasa terlalu bergantung dengan saudara, karena mereka-lah yang selalu ada di samping kita. Begitu juga yang dirasakan oleh Lily kepada Jake.

Di sini, Spinelli menggambarkan Lily itu takut sekali kehilangan keterhubungan antara ia dan Jake. Walaupun saya agak sebal dengan tokoh Lily karena terlalu bergantung pada Jake, tapi saya bisa memahami perasaannya.

Sedangkan Jake juga memiliki masalahnya sendiri dengan Death Rays dan orang-orang cupu yang mereka temui di komplek yang mereka juluki Goober. Salah satu Goober yang sering mereka ikuti adalah Ernie, seorang anak laki-laki seumuran mereka yang sibuk membangun rumah kayu di halaman rumahnya

Selama liburan musim panas, Jake dan Lily mempelajari dua hal yang berbeda. Lily dan hari-harinya tanpa Jake. Jake dan penilaiannya terhadap para Goober, khususnya Ernie, yang selama ini selalu ia dan teman-temannya tertawakan.

Kisah Jake dan Lily diceritakan secara bergantian oleh mereka dan mereka menuliskannya seolah-olah sedang bergantian berbicara. Secara bahasa, karena untuk middle grade bahasanya lebih mudah dipahami dan tidak banyak kata-kata rumit. 

Selain itu, apa ya? Hmmm… bagi saya, cerita Jake and Lily adalah cerita ringan yang mengingatkan saya akan masa anak-anak. Tapi mungkin bagi anak-anak usia 7-13 tahun, kisah Jake and Lily bisa memberi penilaian baru atau bahkan dapat memahami masalah mereka dengan baik.

Menurut saya, Jerry Spinelli menggambarkan dengan sangat baik perasaan dan pikiran anak-anak, sehingga selain untuk anak-anak, buku ini juga layak dibaca oleh orangtua atau orang dewasa yang sering salah paham atau tidak mengerti apa yang sebenarnya anak-anak mereka rasakan.


Rabu, 11 Februari 2015

The Jane Austen Book Club


Penulis             : Karen Joy Fowler
Penerbit           : Putnam Adult
Tahun Terbit    : 2004
Halaman         : 288
Format            : E-book



Suatu pagi, Jocelyn mendapat ide untuk membuat klub buku Jane Austen. Jocelyn adalah seorang penulis wanita di usia awal 50an, tidak menikah, dan sangat menyukai karya-karya Jane Austen. Menurutnya, sangat penting untuk mengenal kembali karya Austen dalam hidup kita secara teratur. Maka, dia pun memilih lima orang lainnya untuk menjadi anggota klub buku.

Pertama ada Sylvia, sahabat Jocelyn sejak kecil yang akan bercerai dengan suaminya, Daniel. Lalu ada Allegra, anak perempuan Sylvia, usia 30an, lesbian, dan sangat sensitive. Ada Bernadette, anggota paling tua (67 tahun), menikah beberapa kali (terakhir bercerai), dan kini tidak lagi memperhatikan penampilannya. Ada Prudie, guru bahasa Prancis di SMA, satu-satunya anggota yang paling muda (28 tahun) dan menikah. Terakhir ada Grigg, lelaki usia 40an, tidak ada yang tahu dia telah menikah atau masih single. Pada awalnya, Bernadette meragukan ada laki-laki yang membaca Jane Austen, tapi Grigg membuktikannya.

Pertemuan diadakan sebulan sekali, bergiliran di tempat tinggal para anggota klub buku. Setiap bulan, mereka membaca satu karya Jane Austen yang sudah disepakati. Dari mulai Emma hingga Persuassion, setiap anggota klub buku memiliki kisah Austen-nya masing-masing yang berhubungan dengan kehidupan mereka.


Seperti judulnya, The Jane Austen Book Club adalah novel yang menceritakan bagaimana kisah-kisah Jane Austen mempengaruhi kisah hidup para tokoh di novel ini. Di setiap pertemuan, mereka berdiskusi tentang para tokoh di cerita Austen, tokoh mana yang mereka suka dan tidak suka, pilihan-pilihan yang mereka ambil, dan bagaimana Austen mempelakukan cerita dan para karakternya.

Bagi yang menyukai karya Austen, atau paling tidak sudah membacanya, mungkin bisa memahami lebih jauh dan lebih dalam bagaimana kisah-kisah itu berpengaruh pada kehidupan Jocelyn, Sylvia, Prudie, Bernadette, Allegra, dan Grigg. Tapi, bagi saya yang baru membaca Mansfield Park –itu pun tidak selesai-, banyak lubang yang masih kosong. Banyak karakter Jane Austen yang tidak  sayakenal, jalan cerita yang tidak  saya ketahui, dan akhirnya, pendapat anggota klub buku yang tidak terlalu saya pahami.

Walau bagaimanapun, tetap menarik mengetahui kisah hidup masing-masing tokoh dan bagaimana mereka bertemu Jocelyn. Ya, Jocelyn memang pusat dan tokoh utama di novel ini. Karena Jocelyn-lah, mereka bergabung di klub buku dan saling mengenal. Dan karena karya Jane Austen-lah, mereka memahami dan memaknai hidup mereka.

Dari enam anggota klub buku, saya paling suka dengan Sylvia. Dia tetap tabah dan tegar walaupun suaminya meminta cerai. Sylvia sendiri masih mencintai suaminya, namun tidak ingin memaksa suaminya untuk tetap tinggal bersamanya. I know it’s really hard to let go someone you love when you still love them but they don’t want to stay with you anymore. T.T

The Jane Austen Book Club sangat layak dibaca bagi para pecinta karya Austen atau yang tertarik dan ingin mulai membaca karya-karyanya. Bagi yang tidak tertarik atau tidak suka dengan Jane Austen, kisah hidup para tokoh di Jane Austen Book Club tetap menarik untuk dibaca, dan mungkin suatu hari nanti kamu akan memberi kesempatan pada karya Miss Austen masuk di daftar bacaanmu. ^^

PS: The Jane Austen Book Club pernah difilmkan pada tahun 2007 dengan judul yang sama dan diperankan oleh Hugh Dancy, Emily Blunt, etc. Saya belum pernah menonton filmnya, tapi sepertinya cukup menarik untuk dicari, hehehe.






Kamis, 05 Februari 2015

Master Post Lucky No. 15 Reading Challenge




Satu lagi Reading Challenge untuk tahun ini, yaitu Lucky No. 15 Reading Challenge! Reading Challenge yang di host oleh Mbak Astrid ini termasuk salah satu RC favorit aku, karena membantu mengurangi timbunan dengan kategori-kategori yang seru.

Waktu tahu Mbak Astrid bikin RC yang mirip seperti tahun kemarin, ada beberapa kategori yang aku harap muncul lagi. Contohnya, kategori Book vs Movie karena kemarin cuma post satu review, hehehe. Sayangnya tidak ada. Lagipula, karena memang bukan aku yang bikin RC, jadi nurut aja lah yaaa…

Rules-nya bisa langsung cek di sini ya.

Nah ini dia 15 kategori dari Lucky No. 15 Reading Challenge:
  1. Chunky Brick: Grab that book with more than 500 pages that you’d always been afraid to tackle. You know you can do it!
Dunia Sophie – Jostein Gaarder. Siapapun tahu setebal apa buku ini -___-
  1. Something New: Just purchased a book lately? Don’t let it buried in your stacks, read it now!
Belum beli buku baru, mungkin nanti setelah menepati janji dari Joglosemar Babat Timbunan, hehehe
  1. Something Borrowed: Read a book that you borrowed from someone else. Don’t make the owner waiting forever for you to finish it. (Books borrowed from friends, libraries, or even rental places, are allowed)
Hmm… sejak resmi lulus dari keanggotaan perpus kampus tercinta, (tempat dimana aku biasa pinjam buku) mungkin aku bakal pinjam dari teman atau adik (boleh?).
  1. It’s Been There Forever: Dig your TBR pile and read a book that has been there more than a year. It’s time for you to appreciate it :)
Buku Ini Tidak Baik Untukmu – Pseudonym Bosch. Beli bukunya dari tahun 2013 euy!
  1. Freebies Time: What’s the LAST free book you’ve got? Whether it’s from giveaway, a birthday gift or a surprise from someone special, don’t hold back any longer. Open the book and start reading it now :D
The Kite Runner – Khaled Hosseini. Hadiah dari Workshop Menulis Resensi di Acara Festival Pembaca Indonesia, Desember 2014.
  1. Bargain All The Way: Ever buying a book because it’s so cheap you don’t really care about the content? Now it’s time to open the book and find out whether it’s really worth your cents.
Gadis Korek Api – HC Andersen.
Marvelous Land of Oz – L. Frank Baum.
Emily and Incredible Shrinking Rat – Lynne Jonell.
Tiga-tiganya aku beli di UI Islamic Bookfair dengan harga @ 15 ribu rupiah saja J
  1. Favorite Color: Pick a book from your shelf which has your favorite color for its cover! Is it pink, red or black? You decide.
A Wizard of Earthsea – Ursula K. Le Guin. Warna favoritku sebenarnya hijau, tapi buku ini warnanya biru lembut, dan aku juga suka, hehehe.
  1. First Initial: Read a book that has been written by an author whose first initial is the same with you (Example: My name is Astrid, and I can read anything written by Agatha Christie, Aesop, Arthur Conan Doyle, etc)
The Fabulous Udin – Rons Imawan. Entah kenapa paling susah kalau udah berhubungan dengan kategori inisial. Baik judul maupun penulis, jarang banget aku beli buku yang berawal dari huruf R. L
  1. Super Series: Read one (or more!) books that belong in a series, it can be trilogy, or tetralogy, or anything.
Flyte & Physik – Angie Sage. Dari dulu penasaran sama seri Septimus Heap ini, tapi belum sempet baca. Dan nyari buku pertamanya Magyk, susah banget euy!
  1. Opposites Attract: Read a book that’s been written by a writer whose gender is different from your own.
The Book of Lost Things – John Conolly.
  1. Randomly Picked: Ask someone else (a friend, your spouse, even your kids!) to randomly pick a book from your TBR pile. Don’t complain whatever they choose for you, just read it :)
Ada beberapa buku dari timbunan yang sudah disiapkan untuk kategori ini. Tinggal tunggu pilihan teman/adik, untuk menentukan buku apa yang dibaca lebih dulu. J
  1. Cover Lust: Grab a book from your shelf that you bought because you fell in love with the cover. Is the content as good as the cover?
Along for the Ride – Sarah Dessen. Sebagai orang yang jarang membeli buku karena sampul, kayaknya cuma ini deh buku yang aku beli karena suka banget sama sampulnya. Btw, buku-bukunya Sarah Dessen yang diterbitkan Elex Media memang cantik-cantik banget sih sampulnya. :D
  1. Who Are You Again?: You’ve never read a book from this author, maybe you haven’t even heard his/her name before. But who knows? Maybe he/she will become your new favorite author!
The Night Circus – Erin Morgenstern.
  1. One Word Only!: Read a book that only has one word for its title (number is allowed as long as it’s only consisted of one word, e.g: 1, 2, 11).
Ingo – Helen Dunmore.
Century – Sarah Singleton.
Beastly – Alex Flinn.
  1. Dream Destination: Read a book that has setting in a place you’ve never visited before – but would like to if you have a chance. Could be real places or even fictional!
Just One Day – Gayle Forman. Sebenarnya My Dream Destination selalu UK, tapi cek di timbunan yang ada cuma buku ini. Setidaknya Paris masuk daftar tempat yang ingin aku kunjungi suatu hari nanti, dan mungkin nanti aku bakal cek timbunan lagi, siapa tahu ada buku yang terlewat J
Mudah-mudah tahun ini beruntung seperti tahun 2014 yaa, hehehe….