Kamis, 29 Januari 2015

Pandemonium



Penulis             : Lauren Oliver
Penerjemah      : Vici Alfanani Purnomo
Penerbit           : Mizan
Tahun Terbit    : Cetakan 1, Maret 2013
Halaman          : 496 


Setelah berhasil melintasi pagar pembatas Portland, Lena memulai kehidupan barunya di Alam Liar. Tentu saja, tanpa Alex. Ia ditemukan oleh Raven, pemimpin sebuah kelompok Invalid yang tinggal tidak jauh dari tempat di mana Lena terdampar setelah pelariannya.

Sejak itu, Lena memulai kehidupan baru sebagai seorang Invalid. Tinggal berdesakan dengan anggota lain, makan seadanya, dan bertahan hidup dari makanan dan perlengkapan yang dikirim dari perbatasan. Selama itu pula, Lena berusaha mengubur kehidupan lamanya di Portland. Melupakan sahabatnya Hana, keluarganya, dan Alex, orang yang menularkan deliria padanya.

Kehidupan tidak berhenti di situ. Lena kini harus memulai hidup barunya di New York. Berpura-pura menjadi orang yang telah disembuhkan dan bergabung dalam organisasi Deliria Free America. Organisasi yang menginginkan prosedur penyembuhan dilakukan lebih dini. Tentu saja Lena ditempatkan di situ demi sebuah misi. Menghancurkan DFA dari dalam.

Kenyataannya, tidak hanya kelompok Invalid saja yang tidak menyukai DFA. Ada kelompok Burung Bangkai, pemberontak yang juga tidak setuju pada prosedur penyembuhan, hanya saja yang ini lebih beringas dan tak kenal ampun. 

Pada sebuah kampanye akbar DFA, sekelompok Burung Bangkai membuat kekacauan. Mengakibatkan putra pemimpin DFA, Julian Fineman, hilang diculik. Lena mengikuti ke mana Julian dibawa, dan akhirnya ikut terperangkap bersama pemuda yang belum disembuhkan itu. Lena harus berjuang keras, untuk mengeluarkan dirinya –dan mungkin juga Julian- dari sarang Burung Bangkai, atau dia akan mati dalam kegelapan bawah tanah yang mengurungnya.


Setelah membaca Delirium, rasanya tanggung kalau tidak membaca lanjutannya. Meskipun saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan genre dystopia yang akhir-akhir ini sedang trend.

Kali ini Lena menuturkan kisahnya dengan alur maju-mundur. Yang mana sebenarnya cukup menarik, hanya saja, di beberapa bagian jadi mengurangi ketegangan. Lena menjadikan kisah hidupnya ketika pertama kali tinggal di Alam Liar sebagai Masa Lalu, dan kehidupannya di New York sebagai Masa Kini. Dan hal-hal menegangkan di Masa Lalu jadi tidak terlalu menegangkan lagi karena saya tahu apa yang terjadi di Masa Kini. Sesuatu yang membuat saya berpikir, “Oke, tenang saja, dia akan sampai pada titik ini. Tidak mungkin mati di sini.” Hal semacam itu.

Mungkin penulisnya, memang tidak menitikberatkan ketegangan pada Masa Lalu Lena. Tapi lebih pada perjuangan Lena keluar dari sarang Burung Bangkai yang mengurungnya. Dan yah, saya mengakui bagian itu memang menarik dan menegangkan, rasanya seperti menonton dan merasakan apa yang Lena rasakan di saat bersamaan.

Jujur saja, saya kurang suka dengan Lena yang ini, (Lena yang di Pandemonium, bukan Lena yang di Delirium). Setelah meyakini Alex telah mati, dan terkurung berhari-hari bersama Julian, Lena mulai kesulitan membedakan perasaannya pada Alex dan Julian. Ia masih selalu ingat dengan Alex, tapi kedekatannya dengan Julian memberi kehangatan yang nyata. Sedangkan saya inginnya, Lena tetap mencintai Alex, hehehe…

Baiklah, secara keseluruhan saya suka Pandemonium. Membacanya membuat saya merasa menonton dan merasakan langsung apa yang dirasakan Lena. Dengan halaman yang cukup tebal, bahasa terjemahan dan kisah yang ditutur secara menarik membuat membaca buku ini tidak terasa membosankan.

Tinggal menunggu buku terakhir dari trilogy ini, Requiem. Mudah-mudahan segera terbit ya..

PS : Saya masih membayangkan sosok Alex adalah Alex Pettyfer, tapi kesulitan membayangkan sosok Julian seperti apa, dan akhirnya jadi Alex Pettyfer juga, tapi dengan penampilan yang lebih rapuh dan labil. (Jangan-jangan saya mulai seperti Lena yang tidak bisa membedakan Julian dan Alex, hahaha)


PS 2 : Kali ini, saya lebih suka sampul Pandemonuim Mizan yang ini, dibanding sampul Delirium, hehehe



Kamis, 15 Januari 2015

The Mysterious Benedict Society & The Perilous Journey



Persekutuan Misterius Benedict dan Perjalanan Maut

Penulis             : Trenton Lee Stewart
Penerjemah      : Maria M. Lubis
Penerbit           : Matahati
Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, Januari 2010
Halaman          : 544

Setahun berlalu setelah petualangan pertama Persekutuan Misterius Benedict di Institut mengerikan milik Mr. Curtain. Kali ini, Reynie, Kate, dan Sticky berkumpul di rumah peternakan Kate untuk bersama-sama reuni dengan Mr. Benedict dan yang lainnya di rumah Mr. Benedict. Sayangnya, sampai di sana, bukannya bertemu Mr Benedict, mereka malah dihadapkan dengan petualangan selanjutnya.

Mr. Benedict dan Nomor Dua (asisten sekaligus anak angkatnya) menghilang dalam suatu perjalanan. Tadinya perjalanan itu dirancang untuk memberi kejutan kepada anak-anak. Sayangnya, perjalanan yang menyenangkan dan penuh petunjuk di sana-sini itu berubah menjadi perjalanan maut penuh bahaya akibat ulah Mr. Curtain.

Kali ini tugas utama Persekutuan Misterius Benedict adalah menyelamatkan Mr. Benedict dan Nomor Dua dari kekejaman Mr. Curtain yang menculik mereka berdua. Berdasarkan informasi yang mereka dapat dari merpati kiriman Mr. Curtain, lelaki itu menginginkan sesuatu yang dimiliki atau diketahui oleh Mr. Benedict. Sayangnya, tidak ada satu orang pun yang mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan Mr. Benedict dan diinginkan Mr. Curtain itu.

Maka dimulailah petualangan baru yang membawa Reynie dan kawan-kawan melintas benua Eropa, menyebrang samudra, berlari-larian di kastil dan museum, hingga meluncur ke pulau yang bahkan tak disebut dalam peta. Berhasilkah mereka menyelamatkan Mr. Benedict dan Nomor Dua dari kejahatan Mr. Curtain dan kaki tangannya? Atau malah, dan ini yang paling buruk, mereka ikut celaka? Dan sebenarnya, apa sih yang diinginkan Mr. Curtain itu?


Wow! Setelah membaca buku pertamanya, aku langsung tidak sabar ingin menamatkan buku selanjutnya. Kali ini, konfliknya jauh lebih aku pahami dari awal, dibanding pada cerita pertama. Intinya, ada sesuatu yang dimiliki/diketahui Mr. Benedict dan hal itu diinginkan Mr. Curtain. Hanya saja, sama seperti mereka berempat, aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang dirahasiakan itu.

Aku lebih suka petualangan yang kedua, karena seperti yang tadi sudah kubilang, mereka pergi ke banyak tempat, di mana petunjuk-petunjuk Mr. Benedict berada dan berusaha memecahkannya. Tapi tentu saja, mereka juga harus berhadapan dengan para Manusia Sepuluh dan Eksekutif (kaki tangan Mr. Curtain yang kejam dan memiliki alat-alat pembunuh yang mengerikan) yang berusaha menghalangi mereka. Apalagi mereka hanya punya waktu empat hari untuk sampai di tempat di mana Mr Benedict dan Nomor Dua disembunyikan.

Masih sama dengan cerita pertama, keempat anak berbakat ini saling melengkapi demi menyelamatkan Mr. Benedict mereka. Reynie dengan keahliannya memecahkan teka-teki, Sticky yang langsung hafal segala yang dia baca, Kate yang tangkas dan serba cepat, dan Constance, yah Constance mungkin memang anak pemarah, sulit diatur dan mudah tidur. Tapi ternyata dia memiliki keistimewaan yaitu dapat mengetahui apa yang akan terjadi.

Jauh lebih seru dan menegangkan dibanding yang pertama, tapi akhirnya bikin aku sedikit gregetan.
Jujur aku sedikit menyesal baru sekarang baca kisah Persekutuan Benedict ini. Padahal belinya dari tahun 2013 lho, hohoho. Sedangkan di negara asalnya, Amerika Serikat, cerita ini diterbitkan tahun 2008 (sudah lumayan lama ya?)

The Mysterious Benedict Society



Persekutuan Misterius Benedict

Penulis             : Trenton Lee Stewart
Penerjemah      : Maria M. Lubis
Penerbit           : Matahati
Tahun Terbit    : Cetakan ke-4, April 2011
Halaman          : 576


Reynard Muldoon, atau biasa dipanggil Reynie, hanyalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan di Kota Stonetown. Reynie tidak pergi ke sekolah, tapi ia punya pembimbing yang baik bernama Miss Perumal.

Pada suatu pagi, Miss Perumal menunjukkan sebuah iklan di koran yang ditujukan untuk anak-anak berbakat yang mencari kesempatan istimewa. Miss Perumal menganjurkan agar Reynie ikut tes yang dicantumkan di iklan itu. Reynie sendiri memang diam-diam menginginkannya. Ia ingin sesuatu yang istimewa dibandingkan kehidupannya di panti asuhan.

Ada begitu banyak anak lain yang juga menginginkan kesempatan istimewa itu. Sayangnya, dari sekian ratus anak yang ikut tes, hanya ada empat orang yang berhasil melalui tes yang rumit dan bertahap itu. Salah satunya adalah Reynie, tiga lainnya adalah Kate Wetherall, George ‘Sticky’ Washington, dan Constance Contraire.

Setelah lolos, mereka berempat bertemu dengan orang yang memprakarasai tes tersebut, Mr Benedict. Mr Benedict mencari anak-anak berbakat untuk membantunya menjalankan sebuah rencana, yaitu menyelamatkan dunia dari para Penyampai Pesan yang secara diam-diam menyiarkan pesan-pesan rahasia mereka melalui siaran radio dan televisi.

Pesan-pesan itu diproduksi di Learning Institute of Very Enlightened (LIVE)  milik Mr. Curtain. Itulah sebabnya Mr. Benedict mencari anak-anak berbakat. Karena hanya anak-anak berbakatlah yang bisa bersekolah di Institut itu. Di sana, mereka menjadi murid sekaligus  mata-mata bagi Mr. Benedict untuk menyampaikan sampai sejauh mana pesan-pesan itu dihasilkan. Mampukah Reynie, Kate, Sticky, dan Constance menghalangi niat Mr. Curtain yang ingin mengacaukan dunia lewat pesan-pesan rahasianya?


Sebagai sebuah cerita petualangan, novel ini cukup seru. Tapi sepertinya untuk anak-anak, ceritanya lumayan panjang, dan butuh sedikit kesabaran untuk menyelesaikannya. Pada awalnya, sempat putus asa dan malas untuk membaca. Namun, ketika usaha Reynie dan kawan-kawan sudah mulai masuk tahap menegangkan, sulit untuk melepaskan buku ini.

Awalnya aku kurang mengerti tentang penyampai pesan dan pesan-pesan rahasia yang dimaksud di cerita ini dan apa yang sebenarnya diperujuangkan Reynie. Baru paham setelah membaca lebih dari setengah isi buku. Syukurlah, bahasa terjemahannya baik, sehingga memudahkan mengikuti jalan cerita Persekutuan Benedict ini.

Keempat tokoh utama juga memiliki keunikan masing-masing yang membuatku merasa senang membacanya. Ada Reynie yang pandai menebak teka-teki, Sticky yang begitu cepat menghafal apapun yang dilihatnya, Kate yang sangat lihai bergerak dan menggunakan alat-alat, dan Constance yang pemarah dan susah dikendalikan.

Nah, bagaimana petualangan mereka di Institut sebagai mata-mata Mr Benedict? Yang jelas, ceritanya seru dan menegangkan, dan setelah selesai membaca buku pertamanya, aku tidak sabar untuk membaca dua kisah selanjutnya.

Selasa, 13 Januari 2015

Dear Umbrella



Penulis             : Alfian Daniear
Penerbit           : Teen Noura
Tahun Terbit    : Mei 2013
Halaman          : 305


Raline selalu membawa payung pemberian Zidan ke mana-mana. Payung itu diberikan Zidan tidak lama sebelum dia pergi meninggalkan Magetan untuk tinggal bersama orangtuanya di Jakarta. Sebagai teman dari kecil dan satu-satunya sahabat Raline yang paling dekat, Raline sangat sedih mengetahui Zidan pergi ke Jakarta. Apalagi cowok itu pergi tanpa pamit kepadanya.

Sejak kepergian Zidan, Raline berubah jadi gadis yang pendiam. Anehnya, ia amat menyayangi payung pemberian Zidan, hampir seperti ia menyayangi Zidan. Bahkan, setiap kali Raline rindu Zidan, ia menulis surat dan membubuhkan nama ‘Raline dan Umbrella’ di bawahnya. Meski surat-surat itu tak sekalipun ia kirim pada Zidan. Sejak meninggalkan Magetan, Zidan tak pernah memberinya kabar lagi.

Suatu hari, ayah Raline, yang bekerja di wahana permainan pasar malam, terjatuh saat memperbaiki komidi putar. Kaki dan lengannya patah sehingga butuh biaya pengobatan yang tidak sedikit. Ditambah lagi, kehamilan ibu Raline makin besar dan butuh biaya persalinan. Sedangkan tunggakan biaya sekolah Raline dan adiknya Rifan makin menumpuk.

Orangtua Raline tidak ingin anaknya putus sekolah. Jadi, saat Eyang Utomo, adik dari nenek Raline, meminta Raline untuk tinggal dan sekolah di Jakarta, mereka menyetujuinya. Raline, dengan berat hati, menerima keputusan tersebut dan berangkat ke Jakarta. Terselip sedikit harapan di hatinya, ia akan bertemu Zidan di ibukota.

Di Jakarta, bukannya bertemu Zidan, Raline malah berteman dengan Elbert, lelaki usil pegawai Dream’s Window tempatnya bekerja paruh waktu. Sedikit demi sedikit, sifat pendiam Raline mulai menghilang sejak ia akrab dengan Elbert. Elbert juga yang membuatnya kembali membangun mimpi-mimpinya yang dulu sempat ia kubur. Meskipun begitu, Raline masih menyayangi payung dari Zidan dan menulis surat tak sampainya seperti dulu.

Waktu membaca endorsement dari Orizuka yang mengatakan “cerita cinta yang manis dan membumi”, aku langsung penasaran. Ditambah lagi, endorser lain mengungkit-ungkit tema cinta pertama, jadi baiklah, Dear Umbrella juga aku bawa pulang bersama The Mint Heart.

Baru baca beberapa halaman, aku langsung merasa tahu apa yang dimaksud Orizuka dengan ‘membumi’. Cerita Raline dan Zidan ini sama sekali nggak ngoyo dan aneh-aneh. Latar Magetan juga menambah nilai plus cerita ini, karena menawarkan latar yang berbeda dari cerita-cerita bertema romance kebanyakan. Yah, walaupun ujung-ujungnya ke Jakarta juga sih.

Ceritanya juga nggak menye-menye kok. Walaupun di sini diceritakan Raline yang sedih banget ditinggal Zidan tanpa pamit (just FYI, aku benci banget sama tema ‘ditinggal tanpa pamit’) tapi dia nggak frustasi dan melakukan hal aneh-aneh. Malah tegar dan menjalani hidupnya dengan semangat.

Aku juga suka dengan tokoh Elbert yang usil tapi baik. Kelakuannya yang aneh bin ajaib bikin aku berharap ketemu cowok macam Elbert di kehidupan nyata.

Sayangnya, banyak hal yang di novel ini yang menciptakan pertanyaan tak terjawab. Untuk pertanyaannya sendiri, nggak bisa kusebutkan karena nanti jadi spoiler. Tapi beneran deh, banyak banget yang kupertanyakan, kenapa si ini begini, kenapa si itu begitu. Dan hampir sama seperti The Mint Heart, akhirnya kurang greget.

Padahal, sepanjang cerita aku menikmati banget kisahnya Raline ini. Penuturannya sederhana dan mengalir. Memang cocok untuk target pembaca remaja.

Yah begitulah, Dear Umbrella juga nggak mengecewakanku kok. Bacanya seakan bikin pengen balik lagi ke masa-masa SMA, hehehe. Bahkan aku jadi penasaran dengan novel-novel terbitan Teen Noura lainnya. 

Satu lagi yang aku suka, kisah ini diawali oleh pertanyaan yang maniiiiis banget