Selasa, 13 Januari 2015

Resensi Buku: Dear Umbrella



Penulis             : Alfian Daniear
Penerbit           : Teen Noura
Tahun Terbit    : Mei 2013
Halaman          : 305


Raline selalu membawa payung pemberian Zidan ke mana-mana. Payung itu diberikan Zidan tidak lama sebelum dia pergi meninggalkan Magetan untuk tinggal bersama orangtuanya di Jakarta. Sebagai teman dari kecil dan satu-satunya sahabat Raline yang paling dekat, Raline sangat sedih mengetahui Zidan pergi ke Jakarta. Apalagi cowok itu pergi tanpa pamit kepadanya.

Sejak kepergian Zidan, Raline berubah jadi gadis yang pendiam. Anehnya, ia amat menyayangi payung pemberian Zidan, hampir seperti ia menyayangi Zidan. Bahkan, setiap kali Raline rindu Zidan, ia menulis surat dan membubuhkan nama ‘Raline dan Umbrella’ di bawahnya. Meski surat-surat itu tak sekalipun ia kirim pada Zidan. Sejak meninggalkan Magetan, Zidan tak pernah memberinya kabar lagi.

Suatu hari, ayah Raline, yang bekerja di wahana permainan pasar malam, terjatuh saat memperbaiki komidi putar. Kaki dan lengannya patah sehingga butuh biaya pengobatan yang tidak sedikit. Ditambah lagi, kehamilan ibu Raline makin besar dan butuh biaya persalinan. Sedangkan tunggakan biaya sekolah Raline dan adiknya Rifan makin menumpuk.

Orangtua Raline tidak ingin anaknya putus sekolah. Jadi, saat Eyang Utomo, adik dari nenek Raline, meminta Raline untuk tinggal dan sekolah di Jakarta, mereka menyetujuinya. Raline, dengan berat hati, menerima keputusan tersebut dan berangkat ke Jakarta. Terselip sedikit harapan di hatinya, ia akan bertemu Zidan di ibukota.

Di Jakarta, bukannya bertemu Zidan, Raline malah berteman dengan Elbert, lelaki usil pegawai Dream’s Window tempatnya bekerja paruh waktu. Sedikit demi sedikit, sifat pendiam Raline mulai menghilang sejak ia akrab dengan Elbert. Elbert juga yang membuatnya kembali membangun mimpi-mimpinya yang dulu sempat ia kubur. Meskipun begitu, Raline masih menyayangi payung dari Zidan dan menulis surat tak sampainya seperti dulu.

Waktu membaca endorsement dari Orizuka yang mengatakan “cerita cinta yang manis dan membumi”, aku langsung penasaran. Ditambah lagi, endorser lain mengungkit-ungkit tema cinta pertama, jadi baiklah, Dear Umbrella juga aku bawa pulang bersama The Mint Heart.

Baru baca beberapa halaman, aku langsung merasa tahu apa yang dimaksud Orizuka dengan ‘membumi’. Cerita Raline dan Zidan ini sama sekali nggak ngoyo dan aneh-aneh. Latar Magetan juga menambah nilai plus cerita ini, karena menawarkan latar yang berbeda dari cerita-cerita bertema romance kebanyakan. Yah, walaupun ujung-ujungnya ke Jakarta juga sih.

Ceritanya juga nggak menye-menye kok. Walaupun di sini diceritakan Raline yang sedih banget ditinggal Zidan tanpa pamit (just FYI, aku benci banget sama tema ‘ditinggal tanpa pamit’) tapi dia nggak frustasi dan melakukan hal aneh-aneh. Malah tegar dan menjalani hidupnya dengan semangat.

Aku juga suka dengan tokoh Elbert yang usil tapi baik. Kelakuannya yang aneh bin ajaib bikin aku berharap ketemu cowok macam Elbert di kehidupan nyata.

Sayangnya, banyak hal yang di novel ini yang menciptakan pertanyaan tak terjawab. Untuk pertanyaannya sendiri, nggak bisa kusebutkan karena nanti jadi spoiler. Tapi beneran deh, banyak banget yang kupertanyakan, kenapa si ini begini, kenapa si itu begitu. Dan hampir sama seperti The Mint Heart, akhirnya kurang greget.

Padahal, sepanjang cerita aku menikmati banget kisahnya Raline ini. Penuturannya sederhana dan mengalir. Memang cocok untuk target pembaca remaja.

Yah begitulah, Dear Umbrella juga nggak mengecewakanku kok. Bacanya seakan bikin pengen balik lagi ke masa-masa SMA, hehehe. Bahkan aku jadi penasaran dengan novel-novel terbitan Teen Noura lainnya. 

Satu lagi yang aku suka, kisah ini diawali oleh pertanyaan yang maniiiiis banget 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar