Senin, 29 Desember 2014

Wrap Up Post Young Adult Reading Challenge

Satu lagi Reading Challenge yang aku ikuti tahun ini, yaitu Young Adult Reading Challenge. Walaupun ikutannya agak telat sih, hehehe...



Dibanding dengan blogger buku lain yang ikutan tantangan ini, jumlah buku YA yang kubaca pasti kalah jauh. Maklum, kategori bacaanku memang lebih ke Children, dibanding Young Adult. Bisa dibilang, tahun ini bacaan YA-ku lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Dan tantangan dari Mbak Tammy ini sangat membantu, hehehe... 

Wrap Up Post Lucky No. 14 Reading Challenge

Wah, nggak nyangka juga ya, 2014 berlalu dengan cepatnya, dan kini saatnya untuk merangkum buku-buku apa saja yang telah kubaca sepanjang tahun ini untuk Lucky No. 14 Reading Challenge.


1. Visit the Country
Kategori ini mengharuskan kamu membaca buku dengan latar Negara yang ingin kamu kunjungi.

2. Cover Lust
Baca buku yang waktu itu kamu beli karena jatuh cinta sama sampulnya.

3. Blame it on Bloggers
Baca buku yang kamu beli karena baca review buku itu dari blogger lainnya.

4. Bargain All The Way
Baca buku yang kamu beli karena bukunya muraaaah banget. 

5. (Not so) Fresh from the Oven
Baca buku yang saat kamu beli, adalah buku yang baru terbit, namun sampai sekarang belum juga dibaca.

6. First Letter’s Rule
Baca buku yang huruf awal judulnya sama dengan huruf awal namamu. 

7. Once Upon a Time
Baca buku yang diterbitin sebelum kamu lahir.

8. Chunky Brick
Baca buku yang tebalnya lebih dari 500 halaman.

9.      Favorite Author
Baca buku dari penulis favorit kamu. Penulis favoritku adalah Enid Blyton.

10.  It’s Been There Forever
Baca buku yang sudah tersimpan dan tak tersentuh di rak selama lebih dari setahun. 

11.   Movies vs Book
Baca buku yang diadaptasi/akan diadaptasi ke film. Baik filmnya itu sudah kamu tonton atau baru direncanakan untuk ditonton. 

12.  Freebies Time
Baca buku hadiah atau buku gratis yang kamu dapatkan.

13.  Not My Cup of Tea
Baca buku dengan genre yang nggak kamu banget.

14.  Walking Down the Memory Lane
Baca buku yang kamu suka banget waktu kamu kecil. Atau buku yang pengen banget kamu baca saat kamu kecil.

Senin, 22 Desember 2014

Resensi Buku: Chocolat

Penulis             : Joanne Harris
Penerjemah      : Ibnu Setiawan
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit    : Cetakan 1, Oktober 2007
Halaman          : 374


Vianne Rocher adalah seorang pengembara. Bersama ibunya, mereka berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Dari satu negara ke negara lain. Setelah ibunya meninggal, ia melanjutkan pengembaraan itu bersama anak perempuannya, Anouk.

Kisah ini dimulai ketika Vianne dan Anouk berhenti di kota kecil bernama Lansquenet-sous-Tannes. Kota kecil dengan  penduduk yang dingin, tak acuh, tapi memendam rasa ingin tahu sekaligus curiga pada orang asing. Ketika sampai di kota itu, Vianne tahu ia harus menetap di sana.

Vianne menyewa sebuah rumah bekas toko roti yang sudah tua, berantakan, namun tetap bisa ditinggali. Bersama Anouk, ia membangun kembali rumah bobrok itu menjadi tempat tinggal yang nyaman dan toko cokelat yang menggoda, La Celeste Praline namanya.

Keberadaan Vianne dan toko cokelatnya sangat mengusik rasa ingin tahu penduduk Lansquenet. Bukan hanya karena ia wanita asing dengan anak dan tanpa suami, tapi karena ia membuka toko cokelat di minggu Paskah, di mana seharusnya mereka menahan diri dengan berpuasa.

Kelakuan Vianne membuat pastor setempat, Francis Reynaud mendatanginya. Sedikit berbasa-basi, sekaligus mengajaknya untuk ke gereja tiap hari Minggu. Sayangnya, Vianne bukanlah orang yang pergi ke gereja. Tanpa rasa bersalah, ia menolak ajakan pastor muda itu, malahan menawarinya coklat.

Dalam tokonya yang hangat dan indah, Vianne tidak hanya menawarkan coklat serta makanan manis lainnya. Ia juga memberikan perubahan kepada para penduduk Lansquenet. Terutama hal-hal yang dianggap Francis Reynaud menentang ajaran gereja.
Sebagai pastor di Lansquenet, Francis sangat membenci kehadiran Vianne, yang datang seolah untuk melawan kedudukannya. Francis berpikir keras, berusaha mencari cara untuk menggagalkan apa yang ditawarkan Vianne pada penduduknya, coklat yang lezat menggoda serta pandangan hidup yang terbuka.


Kisah yang diceritakan dalam novel karya Joanne Harris ini mungkin lebih dari sekedar pertentangan antara wanita muda dan toko cokelatnya dengan pastor dan ajaran gereja. Tapi, mengingat aku bukanlah penganut Nasrani dan tidak memiliki ilmu apapun tentang agama tersebut, maka aku akan mereview hal-hal yang berkenaan dengan ceritanya saja. Hal-hal yang bersifat eksplisit, seperti gaya bahasa, terjemah, alur cerita, deskripsi dan sebagainya.

Oke, yang pertama dari deskripsi. Menurutku, Chocolat merupakan salah satu novel yang kaya akan deskripsi detil. Suasana kota Lansquenet, para penduduk, bahkan coklat-coklat yang dibuat Vianne. Selama membaca, aku bisa membayangkan suasana kota yang masih agak kelabu –latar waktu cerita berlangsung selama Februari dan Maret- yang kontras dengan La Praline yang hangat dan ceria. Baca buku ini, jadi pengen banget masuk ke toko coklatnya Vianne dan nyobain coklat-coklat buatannya.

Kedua, gaya bahasa dan terjemahan. Menurutku mengalir dan nyaman dibaca. Hanya saja, kadang ada kalimat yang sepertinya butuh koma, tapi nggak ada. Jadi aku harus baca dua kali untuk benar-benar memahami maksudnya. Sayangnya, footnote yang disediakan hanya untuk istilah-istilah Nasrani,  sedangkan untuk coklat dan masakan lainnya nggak ada. Iya sih, pastinya bakal jadi banyak banget footnote, tapi kan, untuk orang yang awam dengan per-coklat-an sepertiku, aku jadi cuma bisa nebak-nebak sendiri aja, itu coklat bentuknya kayak apa yaa… hehehe…

Ketiga, alur cerita dan penokohan. Novel Chocolat diceritakan bergantian dari sisi Vianne dan Francis. Hanya saja, tidak ada penanda ini bagiannya Vianne atau Francis. Setiap bab baru diberi judul dengan tanggal kejadian. Awalnya, aku pikir, seluruhnya diceritakan oleh Vianne. Apalagi, tidak setiap ganti bab berpindah POV. Kadang dua atau tiga bab, masih diceritakan oleh Vianne, baru oleh Francis. Jadi bacanya meski agak jeli.

Mengenai tokoh-tokohnya, karena aku belum familiar dengan nama-nama Prancis, jadi, di awal, aku belum hafal dengan setiap tokoh dan masalah mereka. Apalagi, kebanyakan penduduk yang jadi tokoh di cerita ini, muncul hampir bersamaan. Paling-paling, aku hanya mengingat tokoh utamanya saja, seperti Francis, Vianne, dan Anouk. Namun, seiring berjalannya cerita, mulai kenal deh dengan karakter tiap tokoh.

Keempat, dari segi perwajahan. Covernya menarik dengan nuansa merah, dan cangkir yang di dalamnya terlihat foto samar seorang wanita dengan anak kecil. Di bagian atas, terdapat penghargaan yang didapat dari film Chocolat, yang diadaptasi dari novel ini. Aku bersyukur sih, covernya tidak menggunakan cover filmnya, karena aku nggak suka Johnny Depp, wkwkwk… (Oh ya, novel Chocolat aslinya diterbitkan tahun 1999, dan diangkat menjadi film tahun 2000, diperankan oleh Johnny Depp dan Juliet Binoche).

After all, merasa beruntung banget nemuin novel ini di jajaran rak buku-buku murah di basement Gramedia Depok. Waktu pertama kali lihat, aku langsung yakin harus beli buku itu, sampai rela ngubek-ngubek ke tumpukan paling bawah, demi mendapat buku yang kondisinya bagus, (karena buku yang ditaruh di paling atas, halaman sampulnya udah jelek).

Pesanku, kalau kamu baca buku ini, siapkanlah setidaknya sebatang coklat, atau segelas coklat hangat, atau cemilan apapun yang berasa coklat, karena percayalah, kamu pasti nggak tahan dengan coklat-coklat buatan Vianne :)


Senin, 15 Desember 2014

Resensi Buku: Pardon My French



Penulis             : Cathy Hapka
Penerjemah      : Lulu Wijaya
Penerbit           : Wortel Books Publishing
Tahun Terbit     : Mei 2011
Halaman          : 347


Nicole Larson terpaksa menuruti keinginan orangtuanya mengikuti program Student Across Seven Seas, di mana ia akan tinggal di Paris selama satu semester untuk belajar kebudayaan Prancis. Sedangkan apa yang diinginkan Nicole hanyalah tetap sekolah di SMU Peabody bersama ketiga sahabatnya, Patrice, Zara, dan Annie, serta pacarnya, Nate. Ia bahkan tidak bisa bahasa Prancis sama sekali.

Tapi mau bagaimana lagi? Ia harus tetap ke Croissantland –julukan temannya untuk Prancis- dan belajar beberapa bulan di sana. Awalnya Nic sangat khawatir dan gugup. Ia juga terus menerus kangen rumah. Untunglah di sekolah ia berkenalan dengan Annike, gadis Swedia yang cantik dan baik hati, serta Ada, gadis Australia yang sedikit ceroboh tapi menyenangkan. Nic sendiri tinggal di keluarga asuh asal Amerika, Mr. dan Mrs. Smith, beserta empat anak mereka yang masih kecil-kecil dan pengasuh anak yang ganteng bernama Luc.

Karena Luc -yang ganteng dan kerap kali menggodanya- masalah Nicole bukan hanya tidak betah di Paris. Tapi juga hubungannya dengan Nate yang menjadi sulit karena tinggal berjauhan. Ditambah dengan laporan sahabat-sahabatnya kalau Nate dekat dengan gadis lain di sekolah mereka. Nicole berusaha percaya pada Nate, namun di sisi lain, ia juga merasa bersalah karena akrab dengan Luc. Jadi begitulah, Nicole berjuang menghadapi hari-harinya di Paris, dan tanpa disangka, menemukan banyak pengalaman yang mengubah pandangannya terhadap hidup dan mimpi-mimpinya.

Well, saya sering lihat seri Student Across Seven Seas ini di toko-toko buku. Agak penasaran juga sih, karena mengangkat latar negara-negara yang seru untuk dikunjungi. Tapi masih kurang yakin untuk membawa salah satunya pulang ke rumah. Nah, ketika melihat Pardon My French di meja Book Swap Festival Pembaca Indonesia, saya langsung ambil aja. Lumayan untuk ngurangin penasaran dan negaranya menarik hati.

Ceritanya remaja banget, dengan gaya bahasa yang sudah dialihkan menjadi bahasa remaja Indonesia. Bagi saya, terjemahannya oke, walaupun kadang ngerasa aneh aja, karena jarang baca novel terjemahan yang bahasanya bahasa slang anak sini.

Saya cukup suka dengan tokoh Nicole di sini, yang benci banget disuruh pergi ke Paris tapi tetap berusaha menjalaninya dengan baik. Walaupun naïf banget dengan hubungannya dengan Nate. Berusaha terus percaya dan yakin kalau Nate adalah cowok terbaik bagi dia. Padahal, dari awal baca aja, saya udah nggak suka sama si Nate ini.

Saya juga suka dengan persahabatan Nicole dengan Annike dan kawan-kawannya yang lain. Terutama bagian saat mereka mengunjungi tempat-tempat asik di Prancis, atau sekedar ngobrol bareng sambil makan crepe. Endingnya sendiri –tanpa bermaksud spoiler- menurut saya logis dan masuk akal. Jadi lega deh pas nyeleseinnya. Saya jadi tertarik dengan novel-novel seri SASS yang lainnya.

Namun, ada satu yang agak mengganjal. Jadi, sebelum saya baca buku ini, saya lihat tahun terbitnya, di situ ditulis 2011, oke belum terlalu lama, pikir saya. Tapi pas baca ceritanya, ngerasa aneh melihat Nicole bergantung pada telepon dan email untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. Bukankah tahun 2011 udah ada hal-hal yang lebih canggih, seperti Skype misalnya? Kenyataan ini agak mengganggu saya sampai akhirnya saya lihat lebih jeli lagi, dan ternyata di AS diterbitinnya tahun 2005. Pantes aja…

[Review ini diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge]



Resensi Buku: Will Grayson, Will Grayson



Penulis             : John Green, David Levithan
Penerbit           : Dutton Books
Tahun Terbit     : 2010
Format             : E-book


Will Grayson menganut dua prinsip dalam hidupnya. 
1. Jangan peduli terlalu banyak
2. Diam. 

Jadi begitulah, ia tidak terlalu akrab dengan teman-teman sekolahnya, kecuali satu, sahabatnya sejak kecil, Tiny Cooper. Cowok berbadan gendut –yang sama sekali tidak sesuai dengan namanya (Tiny dalam bahasa Inggris artinya kecil)- yang setiap jam jatuh cinta pada cowok lain.

Tiny seorang gay, dan sangat bangga akan ke-gay-annya. Tiny merasa setiap orang berhak jatuh cinta pada siapa saja, dan ia ingin menunjukkan pendapatnya dalam sebuah drama musikal berjudul dirinya sendiri. Sayangnya, jika Tiny bisa jatuh cinta setiap saat, maka Will bahkan tidak terlalu tertarik dengan jatuh cinta dan pacaran.

Di tempat lain, ada lagi cowok bernama Will Grayson yang membenci dirinya dan hidupnya. Will menarik diri dari pergaulan, hanya berteman dengan satu orang di sekolahnya, yaitu Maura. Itupun karena mereka sama-sama pendiam dan tidak suka keramaian. 

Namun, diam-diam, Will berkenalan dengan seorang cowok seusianya di internet, namanya Isaac. Secara teratur, mereka chatting lewat IM, saling menceritakan peristiwa sehari-hari. Hanya kepada Isaac, Will berbagi banyak hal tentang dirinya. Meskipun mereka belum pernah bertemu, tapi Will jatuh cinta pada Isaac, dan berharap suatu hari mereka bertemu di dunia nyata.

Lalu, hari itu terjadilah. Ketika dua Will Grayson bertemu di suatu tempat, dan berbagi takdir mereka masing-masing.

Menceritakan kisah dua Will Grayson, format novel ini ditulis bergantian oleh masing-masing Will Grayson. Untuk membedakan, cerita Will Grayson pertama ditulis dengan ejaan biasa (huruf kapital di awal kalimat). Sedangkan ceritaWill Grayson kedua ditulis dengan huruf kecil di setiap awal kalimat. Menurut saya, itu cukup tepat sih, karena karakter Will Grayson kedua yang lebih minder dan menarik diri.

Jujur, saya penasaran banget sama kisah Will Grayson Will Grayson ini. Tentu saja, karena ceritanya ditulis oleh John Green dan David Levithan. Dan karena itulah, saya berekspektasi cukup tinggi pada kisah ini. Sayangnya, menurutku novel ini agak mengecewakan.

Entah ya, saya nggak terlalu mendapatkan life lesson yang begitu berarti di novel ini, ketimbang di novel-novel Levithan yang lain. Kalau John Green saya nggak komentar ya, karena baru baca The Fault in Our Stars, hehehe.

Inti cerita Will Grayson Will Grayson menurut saya sebenernya lebih ke penerimaan diri. Will Grayson 1 sebenarnya tertarik dengan seorang gadis bernama Jane, tapi dia ragu dengan percintaan dan sebagainya. Will Grayson 2 membenci hidupnya, dia merasa dirinya payah, dan sehari-hari harus meminum pil anti depresi.

Tema besarnya menurut saya bagus, tapi kurang greget di penulisannya. Terutama di awal-awal kisah Will Grayson 1, yang rasanya going nowhere banget. Cuma bercerita tentang kehidupan remaja Amerika, yang kadang-kadang agak ngebosenin juga sih buatku, nyelinap nonton konser band favorit, kumpul-kumpul sama temen, ya gitu-gitu aja.

Saya malah lebih tertarik dengan kehidupan depresinya Will Grayson 2. Bagaimana dia yang begitu cuek dan jutek sama orang-orang di sekitarnya, tapi bisa manis banget sama Isaac yang cuma kenal lewat internet. Dan karena cerita Will Grayson 2-lah yang membuat saya terus membaca novel ini.

Ketika pertengahan sampai akhir, ceritanya malah seperti berfokus pada Tiny Cooper, yang diceritakan dari sudut pandang Will Grayson 1 dan Will Grayson 2. Tiny yang ceria dan tampak memiliki segalanya (kekayaan dan rasa percaya diri yang tinggi) ternyata juga menyimpan masalahnya sendiri. 

Jadi, pesan dari buku ini adalah setiap orang punya kekurangan dan masalahnya sendiri, dan bagaimana kita menerima itu semua sebagai bagian dari diri kita.

Ceritanya nggak terlalu panjang, nggak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Walaupun bukan yang paling keren, Will Grayson Will Grayson lumayanlah untuk selingan…

[Review ini diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge]

Senin, 08 Desember 2014

Resensi Buku: And The Mountains Echoed



Penulis             : Khaled Hosseini
Penerjemah      : Berliani Nugrahani
Penerbit           : Qanita
Tahun Terbit    : Cetakan 2, Oktober 2013
Halaman          : 509

Abdullah sangat menyayangi Pari, adik perempuan satu-satunya. Pari yang cantik, Pari yang seperti namanya, peri dalam bahasa Farsi. Abdullah tinggal di desa Shadbagh, Afghanistan bersama ayahnya Saboor, dan ibu tirinya, Pawarna, serta adik tirinya Iqbal. Ibu Abdullah meninggal ketika melahirkan Pari. Dan sejak saat itu, Abdullah lah yang merawat Pari.

Suatu hari, ayah mereka mengajak Pari dan Abdullah ke Kabul, ke tempat Paman Nabi, adik Parwana, bekerja. Katanya ada pekerjaan untuk Saboor di rumah majikan Paman Nabi. Anak-anak juga diajak agar dapat menikmati Kabul.

Kabul pada tahun 1950an adalah kota yang indah. Penuh rumah-rumah mewah bernilai seni tinggi. Pasar-pasar ramai dengan orang dan mobil yang berlalu-lalang. Namun nyatanya, di sanalah kepedihan Abdullah bermula. Majikan Paman Nabi, Tuan dan Nyonya Wahdati mengambil Pari menjadi anak angkat mereka. Memisahkan ikatan cinta dan persaudaraan yang begitu kuat antara Pari dan Abdullah. Ketika Pari pergi, Abdullah berjanji akan menemukan Pari lagi, suatu hari nanti.


Ini novel ketiga Khaled Hosseini yang saya baca setelah The Kite Runner dan A Thousand Splendid Suns. Seperti novel sebelumnya, And The Mountains Echoed juga mengangkat latar dan tema kehidupan Afghanistan. Khususnya sebelum perang pecah hingga tahun 2010an.

Salah satu kelebihan Om Hosseini adalah penuturannya yang lancar mengalir. Baca tulisannya nggak pernah bingung atau pusing, dan kaya akan deskripsi tokoh, tempat, dan sebagainya. Baca satu paragraf, dijamin langsung nyambung terus sampai bab terakhir.

Untuk novelnya kali ini, kita tidak hanya diajak berjalan-jalan di Afghanistan, tapi juga ke Yunani dan Prancis. And The Mountains Echoed juga menggunakan Multiple POV, alias diceritakan dari berbagai sudut pandang. Nah, bagian ini nih yang agak mengecewakan bagi saya. Karena bagian Abdullah-nya sedikiiiit banget. Rasanya kurang puas gitu. Ingin tahu cerita dia lebih banyak.

Di novel ini memang tidak hanya mengisahkan hubungan antara Abdullah dan Pari. Tapi juga ada kisah tentang Paman Nabi dan Tuan Wahdati, Markos dan Thalia, Idris dan Roshi, Gholam dan Adel, Pari dan ibunya, yang sebenarnya mereka masih saling berhubungan satu sama lain. Dan kisah mereka pun memiliki benang merah yang sama yaitu penemuan jati diri. 

Well, tetap saja saya geregetan karena cerita Abdullah dan Pari-nya kurang banyaaak…

Yang jelas, kalau boleh membandingkan ketiga karyanya Om Hosseini, favorit saya masih tetap The Kite Runner. Hmm.. mungkin nanti saya baca ulang novel itu dan bikin reviewnya agar lebih detil kenapa The Kite Runner adalah novel yang bagus banget untuk dibaca.

Oya satu lagi, di setiap novelnya Om Hosseini, dipastikan kamu akan menemukan setidaknya satu bait puisi Rumi, hehehe.