Minggu, 21 September 2014

Lady Chatterley’s Lover



Penulis             : DH Lawrence
Penerjemah      : Arfan Achyar
Penerbit           : Alvabet
Tahun terbit     : Cetakan 3, Juni 2009
Halaman          : 586


Constance Chatterley, wanita muda berparas cantik istri dari seorang bangsawan Inggris, Clifford Chatterley. Constance, atau biasa dipanggil Connie, tinggal di rumah megah mereka, Wragby Hall. Tapi, menikah dengan bangsawan dan tinggal di rumah besar tidak membawa kebahagiaan bagi Connie.

Suaminya, Clifford, mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah akibat perang, dan untuk sisa hidupnya hanya bisa duduk di kursi roda. Sepanjang hari, Connie menghabiskan waktunya di rumah. Mengurus Clifford, mendengarkan suami dan teman-temannya mengobrol, menjahit atau membaca. Dalam hatinya, Connie merasa sangat kesepian.

Clifford sendiri seperti tidak peduli dengan keadaan Connie. Ia tidak berlaku ramah dan menyenangkan terhadap istrinya sendiri. Yang penting baginya adalah Connie tidak kemana-mana. Ketika Connie semakin kurus dan tidak menikmati hidupnya, Clifford berpikir mungkin ada baiknya kalau ada bayi di Wragby. Clifford tak peduli dengan siapa Connie mendapatkan anaknya, asal istrinya tetap kembali padanya, dan anaknya dapat menjadi pewaris keluarga Chatterley.

Selain membiarkan Connie mendapatkan anak, Clifford juga bersedia untuk diurus orang lain selain Connie. Sebelumnya, seluruh kebutuhan Clifford diurus Connie seorang. Clifford tidak mau ada orang lain yang mengurusnya. Kali ini, Clifford akhirnya setuju, dan mengizinkan Nyonya Bolton menjadi perawat pribadinya.

Connie yang tidak lagi terikat pada urusan merawat Clifford, kini memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri. Dari situlah ia berkenalan dengan Olive Mellors. Pria penjaga hutan Wragby yang dipekerjakan suaminya. Dari waktu ke waktu, Connie dan Mellors semakin akrab, dan menjalin hubungan rahasia mereka di hutan, tersembunyi dari Clifford dan tetangga-tetangga mereka.

Well, setelah perjuangan panjang, akhirnya buku ini tamat juga. Bahkan pada awalnya aku kurang yakin kalau aku bisa menyelesaikannya, karena tebalnya buku ini. Tapi berkat tantangan Lucky No.14 Reading Challenge, akhirnya buku itu kubaca juga. Oh senangnyaaaa….!!

Jadi ceritanya begini, dulu aku pernah membaca novel berjudul The Thirteenth Tale karya Diana Setterfield. Di buku itu, beberapa kali menyebutkan tentang Lady Chatterley’s Lover karya DH Lawrence. Aku, saat itu, penasaran sekali, dan bertekad untuk membacanya suatu hari nanti.

Cukup sulit mencari karya DH Lawrence yang satu ini, apalagi versi terjemah bahasa Indonesia. Saat melihat buku itu ada di deretan buku-buku yang dijual di pameran buku, tanpa pikir panjang, aku pun langsung membelinya.

Pada awalnya, aku pikir Lady Chatterley’s Lover (LCL) bertema sama dengan The Thirteenth Tale, skandal yang berbalut misteri. Kenyataannya, LCL lebih seperti novel dengan kritik sosial yang hampir ada di seluruh bagiannya. Latar belakang ceritanya adalah Inggris pada tahun 1920an, kondisi setelah Perang Dunia I berakhir, dan masyarakat Inggris mulai beralih ke dunia perindustrian.

DH Lawrence begitu banyak menulis tentang kaum bawah atau kelas pekerja dan kaum atas atau kelas bangsawan. Mengejek orang-orang yang saat itu hanya peduli pada uang, uang, dan uang, juga kemuliaan status sosial mereka. Beliau juga dengan detil menggambarkan kondisi masyarakat Inggris pada saat itu.

Wah, untuk aku, yang agak dong-dong masalah ini, butuh perjuangan khusus untuk membacanya. Berjuang untuk paham dan berjuang untuk menyelesaikannya, karena banyak bagian yang membuatku bosan. Sungguh-sungguh bosan.

Mungkin bagi orang yang berminat pada ssatra dan kritik sosial, akan menyukai buku ini. Karena meskipun novel, tapi menyuguhkan pemikiran-pemikiran yang kaya akan tema tersebut. Tapi bagi aku yang lebih suka adegan-adegan, kadang paragraf-paragraf penuh pemikiran benar-benar bikin pusing. Tapi, oh, aku sangat bersyukur buku ini selesai juga kubaca.

Pada dasarnya, buku ini terdiri dari beberapa bagian. Bagian pertama adalah Catatan untuk Edisi Penguin, Pengantar dari Goenawan Mohammad, Catatan Panjang dari Penulis, Novel Lady Chatterley’s Lover, dan ditutup dengan Riwayat Panjang DH Lawrence. Novelnya sendiri dimulai dari halaman 87 hingga 563.

By the way, sepanjang aku membaca buku ini, aku sering bertanya-tanya butuh berapa lama penerjemahnya menerjemahkan buku ini. Karena aku nggak bisa membayangkan berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menerjemahkan cerita setebal itu. Fiuuuuh…..

[Review ini diikusertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategory Chunky Brick]

The 13 Treasures (Tiga Belas Pusaka Fairy)



Penulis             : Michelle Harrison
Penerjemah      : Endes Runi
Penerbit           : Dastan
Tahun Terbit     : Januari 2012
Halaman           : 350


Tanya memiliki kemampuan melihat fairy, makhluk supranatural yang tidak semuanya cantik dan baik, seperti di dongeng-dongeng, melainkan buruk rupa dan jahat. Setidaknya, kebanyakan fairy yang Tanya tahu selalu mengganggunya.

Tanya begitu tersiksa dengan kemampuan ajaibnya itu. Selain karena ia tidak bisa mengatakannya pada siapapun, ia juga lelah berurusan dengan fairy. Ia sangat ingin hidup normal tanpa bersentuhan dengan makhluk-makhluk itu.

Ketika ibunya menemukan kamar Tanya hancur berantakan –tentu saja karena ulah fairy- ibunya menghukum Tanya dengan menitipkan gadis itu di rumah neneknya di desa. Di Elvesden Manor, daerah Essex.

Tanya mengetahui kalau rumah itu bukan sekedar rumah biasa. Manor itu dibangung ratusan tahun lalu, dan menyimpan banyak misteri di dalamnya, dan tentu saja, banyak fairy yang tinggal di sana. Tanya tidak begitu suka tinggal di Elvesdeen Manor, karena neneknya, Florence tampak tidak peduli padanya. Juga ada Warwick, pria penjaga manor yang galak, serta anaknya yang aneh dan pembangkang bernama Fabian.

Kenyataannya, Tanya malah menemukan misteri di Elvesden Manor. Lima puluh tahun lalu, seorang gadis hilang di Hangman’s Wood, hutan dekat manor, dan Amos, kakek Fabian dicurigai sebagai orang yang membunuh gadis itu. Belakangan, misteri hilangnya gadis itu berhubungan dengan kemampuan Tanya melihat fairy serta sejarah nenek moyangnya, penghuni Elvesden Manor. Bersama Fabian, tanya berusaha memecahkan misteri itu, meskipun ternyata harus mempertaruhkan nyawanya.

The 13 Treasures adalah cerita fairy yang seram dan mendebarkan. Jangan bayangkan fairy di sini cantik dan baik seperti di dunianya Tinker Bell. Mungkin lebih seperti fairy di cerita Spiderwick Chronicle.

Dari dulu, aku sangat tertarik dengan dunia fairy. Dari situ aku tahu, beberapa negara di Eropa, terutama di Inggris, memiliki legenda sendiri mengenai fairy. Ada berbagai jenis fairy dengan kekuatan dan karakteristik masing-masing. Dan fairy-fairy yang muncul di cerita ini, tidak jauh berbeda dengan yang pernah aku baca.

Jujur saja, meskipun tokohnya anak-anak, mungkin usia Tanya dan Fabian sekitar 12-14 tahun, tapi ceritanya sangat tidak menyenangkan. Penuh petualangan iya, tapi bukan petualangan yang menyenangkan. Aku sendiri sering deg-degan saat membaca bagian-bagian tertentu.

Lalu misterinya, tentang hilangnya seorang gadis dan sejarah keluarga Tanya, benar-benar bagian paling menarik dari buku ini. Penulis menguraikan satu persatu petunjuk dalam adegan demi adegan yang membuat aku terus penasaran sekaligus deg-degan. Dan kabar baiknya, terjemahannya sangat enak dibaca, pas untuk bacaan usia remaja.

Di cerita ini, aku lebih suka tokoh Fabian dibanding tokoh utamanya, Tanya. Anak laki-laki nyentrik, agak menyebalkan, tapi sebenarnya baik hati dan peduli. Fabian tidak bisa melihat fairy seperti Tanya, tapi diam-diam ia memperhatikan keanehan yang selalu terjadi ketika Tanya tinggal di manor. Sehingga ketika Tanya mengungkapkan rahasianya kepada Fabian, ia paham dan percaya.

The 13 Treasures adalah buku pertama dari Trilogi Thirteen Treasures. Yang kedua, The 13 Curses menjadi bacaanku selanjutnya. Sedangkan yang ketiga, The 13 Secrets, belum kulihat sama sekali di peredaran buku-buku. Aku khawatir, Penerbit Dastan belum menerbitkannya. Dan itu membuatku merasa digantung lagi, setelah trilogy Emily of New Moon yang buku ketiganya juga belum keluar. Oh… apakah penerbit selalu begitu? Meninggalkan satu seri lagi setelah dua seri diterbitkan? Aku berharap tidak…




Senin, 15 September 2014

Emily Climbs



Penulis             : Lucy Maud Montgomery
Penerjemah      : Ingrid Nimpoeno
Penerbit           : Qanita
Tahun terbit     : 2010
Halaman          : 490

Emily dari New Moon kini telah beranjak dewasa. Tidak hanya tubuhnya yang bertambah tinggi, cita-citanya untuk mendaki Tangga Kesuksesan melalui tulisan-tulisannya semakin menguat. Di usianya yang 14 tahun, ia melanjutkan sekolahnya di Shrewsbury bersama ketiga sahabatnya dari Blair Water. Ilse yang pemarah, Perry yang pandai berpidato, dan Teddy. Teddy yang pemalu dan pandai melukis, dan yang paling disukai Emily dibanding anak laki-laki manapun.

Di Shrewsbury, Emily tinggal di rumah Bibi Ruth, masih dari keluarga Murray-nya. Bibi Ruth bukan bibi yang menyenangkan, setidaknya begitu menurut Emily. Tidak hanya peraturan-peraturannya, beliau juga selalu menganggap Emily merencanakan suatu kelicikan terhadapnya. Di sekolah, Emily juga bertemu dengan gadis menyebalkan bernama Evelyn Blake. Evelyn seringkali menghina Emily dan berusaha mengalahkan Emily dengan tulisan-tulisannya.

Kehidupan Emily di Shrewsbury penuh dengan berbagai macam petualangan, mimpi, bahkan fitnah-fitnah yang menimpa dirinya. Tapi Emily tidak menyerah begitu saja. Ia semakin rajin menulis, dan mulai mengirimkan karyanya ke majalah dan koran setempat. Berbagai surat penolakan diterimanya, tapi setiap satu karyanya yang diterbitkan, memberi semangat dan keyakinan yang semakin besar bagi Emily.

Karena Emily sudah menginjak remaja, hidupnya pun semakin berwarna dengan kisah cinta yang manis dan lembut. Dia sangat menyukai Teddy. Teddy-lah satu-satunya laki-laki yang mengatakan kalau Emily adalah gadis termanis di seluruh dunia. Namun, Ibu Teddy sangat membencinya, dan itu membuat Emily sedih. Ditambah lagi, Teddy juga tidak kunjung melamarnya.

Dan ketika seorang wanita sukses dari New York datang, Miss Royal, mengajaknya untuk bekerja di sebuah majalah di New York, Emily menghadapi dilemma. Ia begitu menginginkan kemajuan, dan kota New York seolah menjanjikan pemenuhan mimpi-mimpinya. Namun, ia juga merasa berat meninggalkan Blair Water, meninggalkan New Moon-nya yang tercinta. Akankah Emily meninggalkan Pulau Pangeran Edward untuk meraih mimpi-mimpinya?

Masih seru dan menakjubkan, seperti buku pertamanya, Emily of New Moon. Tapi karena penerjemahnya beda orang, ada sedikit perubahan gaya terjemah, yang syukurlah, masih tetap enak untuk dibaca. Meskipun COVER-nya masih berupa foto yang menurutku sama sekali bukan seperti Emily di kepalaku.

Aku suka seri keduanya karena di sini kisah cintanya lebih menarik. Ada tiga laki-laki yang dekat dengan kehidupan Emily. Dean Priest, yang dewasa dan selalu memberi pemahaman baru bagi Emily, Teddy yang manis dan pemalu, serta Perry yang menurutku urakan. Ada juga Andrew, masih sepupu dari keluarga Murray, yang sepertinya berusaha untuk dijodohkan dengan Emily oleh para Paman dan Bibinya.

Emily juga masih berteman dengan Ilse, yang kini sudah jauh lebih berubah, dibanding di seri pertama. Meskipun ia masih sedikit pemarah seperti sifat alaminya. Ilse diceritakan sering sekali bertengkar dengan Perry, yang membuat aku curiga kalau di akhir cerita, Perry jadinya sama Ilse, hehehe.

Di buku ini, juga menceritakan perjuangan dan perasaan Emily dalam menulis. Rasanya seperti mengenang kembali masa-masa remaja saat aku aktif banget menulis cerita. Penuh mimpi, penuh optimisme, penuh gagasan, dan segala-galanya yang menjadikan masa remaja masa terindah. Sepertinya, Montgomery sangat piawai dalam merekam dan menuliskan kembali pikiran seorang remaja. Dan setelah kupikir-pikir, meskipun cerita ini ditulis pada awal abad 20, berpuluh-puluh tahun kemudian, kejadiannya masih banyak yang sama seperti sekarang.

Sayang sekali, aku belum memiliki buku ketiganya, Emily’s Quest. Aku curiga Penerbit Qanita belum menerbitkannya, walaupun aku sangat berharap kecurigaanku salah, hehehe. 

[Review ini diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge 2014]








Minggu, 07 September 2014

Emily of New Moon


Penulis             : Lucy Maud Montgomery
Penerjemah      : Ambhita Dhyaningrum
Penerbit           : Qanita
Tahun Terbit    : Juli 2010
Halaman          : 524


Emily, gadis yatim piatu yang tinggal di New Moon bersama kedua bibinya, Bibi Elizabeth dan Bibi Laura, serta Sepupu Jimmy. Bukan hal mudah bagi Emily tinggal di rumah besar New Moon bersama Bibi Elizabeth-nya yang kaku, penuh peraturan, dan seolah tidak menginginkannya. Untunglah, ada Bibi Laura yang baik hati dan penyayang, serta Sepupu Jimmy yang suka membacakannya puisi.

Meskipun yatim piatu, Emily bukanlah gadis yang lemah. Ia memiliki keberanian dan mimpi yang besar untuk menjadi seorang penulis terkenal nantinya. Namun, cita-cita itu terlihat tidak mudah saat ini, di saat Bibi Elizabeth begitu ketat terhadap penggunaan kertas di New Moon, sehingga Emily harus puas menulis di balik kertas-kertas bekas.

Bukan itu saja, Emily pun harus menerima olok-olok dari teman-teman di sekolahnya karena dia keturunan Murray. Murray adalah keluarga terpandang di Blair Water, daerah tempat Emily tinggal, hingga banyak orang yang iri pada keturunan keluarga tersebut. Belum lagi kehadiran Miss Brownell, guru sekolahnya, yang galaknya minta ampun. Membuat rasa kehidupan Emily semakin beraneka ragam.

Terkadang, Emily merindukan ayahnya, dan rumah lama mereka di Maywood. Sebelumnya, Emily tinggal bersama ayahnya yang begitu ia cintai di lembah Maywood. Di sanalah ia berkenalan dengan Dewi Angin, Sang Kilat dan berbagai macam keajaiban lainnya. Setelah ayahnya meninggal, ia pindah ke New Moon.

Kehidupan di New Moon tidak selalu menyedihkan. Kadang ada pula bagian menyenangkan seperti saat Emily bermain dengan Ilse dan Teddy sahabatnya, atau mendengar Sepupu Jimmy membacakan puisinya. Dan lebih banyak lagi kisah yang dialami Emily, gadis kecil berusia 12 tahun, selama ia tinggal di New Moon.

Akhirnya, kembali lagi membaca karya Lucy Maud Montgomery. Sejak pertama kali membaca karyanya yang berjudul “The Story Girl”, aku langsung suka dengan gaya penulisan Montgomery. Beliau sangat piawai dalam mendeskripsikan latar cerita sehingga saat membacanya seperti melihat sebuah dongeng yang menjadi nyata. 

Dalam serial Emily juga sama. Montgomery menyuguhkan pemandangan New Moon, Maywood, dan semua tempat yang menjadi latar ceritanya dengan sangat indah. Selain itu, kepercayaannya pada kehadiran peri-peri membuat aku semakin suka dengan tulisannya. Baik di cerita Story Girl maupun Emily, kedua tokoh utamanya mempercayai keberadaan para peri. Ceritanya sendiri bukanlah dongeng fantasi, melainkan kisah seorang gadis kecil yang mengalami berbagai hal dalam hidupnya. Dan kabarnya, kisah Emily ini adalah tokoh favorit dan yang paling mirip Montgomery dibanding tokoh-tokoh gadis muda penuh impian yang pernah ditulisnya.

Secara penerjemahan, buku terbitan Qanita ini sangat bagus. Awalnya sempat takut kalau gaya terjemahannya jelek, sehingga tidak enak untuk dbaca. Tapi ternyata bagus banget kok. Yang sangat aku sayangkan cuma satu, COVERnya!

Nggak tahu sih, entah kenapa aku kurang suka dengan cover yang bergambar foto seperti itu. Mungkin ingin menggambarkan sosok Emily dengan topi sunbonnet-nya, serta jurnal dan kucing kesayangannya. Tapi aku merasa gadis di cover itu lebih mirip pemain telenovela remaja, seperti di serial Amigos. (Hahaha, nggak nyambung ya? Yah pokoknya aku merasa begitu.)

Mungkin kalau covernya hanya sebuah ilustrasi atau gambar seorang gadis atau sesuatu yang berkaitan dengan cerita, akan lebih menambah kesan klasik pada buku ini. Lagipula, meskipun ada foto itu, Emily di kepalaku jauh berbeda dari yang ada di cover buku. Mudah-mudahan, untuk terbitan karya klasik berikutnya, Qanita mempertimbangkan kembali ide penggunaan foto sebagai desain sampul bukunya.

Serial Emily sendiri terdiri dari tiga buku. Yang pertama Emily of New Moon, Emily Climbs, dan Emily’s Quest. Aku sudah punya yang kedua, tapi belum menemukannya yang ketiga. Nggak tahu sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia atau belum. Yang jelas, setelah baca buku pertamanya, aku jadi penasaran banget sama serial lanjutannya. Terutama dengan kisah cinta malu-malunya Emily, hehehe…

Salah satu contoh paragraf yang aku suka dari buku Emily of New Moon

"Rerumputan cokelat beku terasa bagaikan hamparan beledu di telapak kakinya. Sebatang cemara tua tua nyaris mati dengan bonggol-bonggol berlumut adalah pilar pualam penyangga istana para dewa. Bukit-bukit yang membayang di kejauhan adalah benteng sebuah kota ajaib. Dan untuk menemaninya, Emily memiliki semua peri pedesaan, karena dia bisa mempercayai keberadaan mereka di sini. Para peri bunga semanggi putih dan bunga ekor kucing satin, makhluk-makhluk hijau kecil di rerumputan, para elf dari pohon cemara muda, para ruh yang menguasai angin, pakis liar, dan bunga ilalang. Apapun bisa terjadi di sana – apapun bisa menjadi kenyataan.”