Jumat, 28 November 2014

Resensi Buku: Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1)



Penulis             : Kathryn Littlewood
Penerjemah      : Nadia Mirzha
Penerbit           : Mizan Fantasi
Tahun Terbit    : Oktober 2013
Halaman          : 308


Rosemary Bliss hanyalah seorang gadis biasa-biasa saja di Calamity Falls. Dia tidak terlalu cantik ataupun pintar, dan sehari-hari dia membantu orangtuanya di toko kue mereka, Bliss Bakery. Rose memiliki seorang kakak yang tampan bernama Ty, serta adik laki-laki lucu bernama Sage, dan adik perempuan menggemaskan bernama Leigh.

Rose memang biasa-biasa saja, tapi dia ingin menjadi seorang pembuat kue dan roti yang hebat suatu hari nanti. Sampai suatu hari, dia melihat ibunya membuat kue dengan halilintar kecil berputar-putar di adonan. Saat itulah Rose yakin, keluarga Bliss bukan pembuat kue biasa

Selama ini, ibunya, Purdy Bliss, menyimpan buku resep rahasia, Bliss Cookery Booke. Rose yakin, di dalam buku itulah, resep-resep kue mengandung sihir ajaib tersimpan. Namun kedua orangtuanya menyimpan buku itu dengan sangat baik, dan Rose tidak pernah diizinkan untuk melihatnya.

Lalu datanglah kejadian yang tidak disangka-sangka. Pada suatu pagi, Walikota Hammer datang dan meminta ayah dan ibu Rose membuat puluhan cheesecake untuk mengobati flu yang menjangkiti kota Humbleton. Mereka harus pergi ke kota itu selama seminggu dan meninggalkan rumah serta anak-anak mereka.
Rose dipercayai untuk menjaga toko kue Bliss selama orangtuanya tidak ada, dan yang tak kalah berat, ia diserahkan kunci ruangan dimana Bliss Cookery Book tersimpan. Rose harus menjaga buku itu dan memastikan tidak ada seorang pun yang membukanya. Lalu, tidak lama setelah kedua orangtuanya pergi, datang seorang wanita muda cantik bernama Lily yang mengaku sebagai bibi jauh mereka.

Bibi Lily adalah wanita yang ramah dan menyenangkan. Ty dan Sage sangat menyukainya. Namun Rose tidak. Ia merasa kehadiran Bibi Lily memiliki maksud lain selain membantu mengurus mereka selama orangtuanya tidak ada. Rose curiga Bibi Lily menginginkan Bliss Cookery Booke yang ajaib itu!

Menyenangkan sekali membaca novel Bliss ini! Di mana sihir tersimpan dalam tart, muffin, dan cookies yang kau bagikan kepada orang-orang.

Aku suka cerita ini. Mulai dari kue-kuenya, deskripsi rumah dan toko kue Bliss, keunikan penduduk Calamity Falls, serta komentar para tokoh yang membuatku tertawa. Cerita ini semacam cerita petualangan yang menyenangkan. Bagaimana kakak beradik Bliss melewati hari-hari tanpa kedua orangtua mereka dan keinginan yang besar untuk mempraktekan resep dari Bliss Cookery Booke. Kalau aku jadi salah satu anak Bliss, aku mungkin juga tidak tahan untuk tidak mencoba salah satu resep ajaibnya.

Aku juga suka dengan desain bukunya, di mana pinggir setiap halamannya diberi warna biru berkilau. Font huruf yang berukuran besar juga ikut memudahkan dalam membaca. Dan sepertinya, Mizan menerbitkan buku ini memang untuk dinikmati seperti saat kita menikmati sepotong cheesecake yang lembut. Sangat cocok dibaca ketika sedang sedih, resah, penat, atau sekedar membutuhkan rehat sejenak.

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 14 Reading Challenge kategori Cover Lust]

Resensi Buku: Samudra di Ujung Jalan Setapak


Penulis             : Neil Gaiman
Penerjemah      : Tanti Lesmana
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Juli 2013
Halaman          : 262


George menghabiskan pesta ulang tahun ketujuhnya sendirian. Hanya dia dan hadiah-hadiah dari kedua orangtuanya. Tapi dia tidak keberatan. George memang lebih senang mengisi waktunya dengan membaca buku dan berpetualang dengan tokoh-tokoh di dalamnya.

Sampai suatu hari, mobil ayahnya hilang. Kemungkinan, mobil itu dibawa anak-anak iseng karena mereka meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan. Saat George dan ayahnya berniat membawa mobil itu pulang, ternyata di dalamnya terdapat mayat pria penambang opal. Karena urusan mobil itu menjadi panjang, George diajak mampir ke rumah Lettie Hampstock, yang berada di ujung jalan tempat mobil ditemukan.

George menurut saja dibawa Lettie, gadis sebelas tahun yang mengatakan kalau ia punya Samudra. Nyatanya, itu hanya sebuah kolam kecil di belakang rumah pertanian keluarga Hempstock. Di rumah itu, George bertemu dengan ibu Lettie, Ginnie Hampstock, dan neneknya, Mrs. Hempstock Tua.

George tidak menyangka, peristiwa meninggalnya pria penambang opal dan perkenalannya dengan keluarga Hempstock ternyata membawanya ke pengalaman paling aneh dan tak terlupakan di sepanjang masa kecilnya. Tiba-tiba saja, dirinya menjadi jalan keluar bagi sebuah makhluk aneh yang ingin merusak kehidupan manusia.

Sejujurnya, waktu pertama kali lihat buku Samudra di Ujung Jalan Setapak ini, aku berharap tulisan Neil Gaiman ini menyuguhkan kisah fantasi indah bernuansa peri dan bintang jatuh seperti Stardust. Apalagi dengan desain sampul yang cantik berwarna biru laut, membuat aku makin merasa yakin kalau ini adalah kisah fantasi yang indah.

Ternyata tidak. Kisah ini bukan kisah yang menyenangkan. Bahkan meskipun narratornya seorang anak kecil berumur tujuh tahun. Kisah ini tentang perlawanan seorang anak kecil dan tiga perempuan ‘ajaib’ terhadap makhluk tua dari dunia lama yang masuk ke dunia sekarang.

Dari awal baca sampai tamat, masih nggak ngerti apa hubungan Lettie dengan makhluk-makhluk aneh itu, dan sebenernya mereka siapa sih? Endingnya juga rasanya masih gantung buat aku. Kayak masih banyak yang belum dijelaskan. Atau mungkin akunya terlalu bodoh untuk menangkap maksudnya?

Yang jelas, setelah baca buku ini, aku merasa sedikit menyesal sih, karena tipe ceritanya bukan ‘aku’ banget. Aku memang nggak terlalu suka sama cerita-cerita suram gitu. Tapi, entah kenapa, penasaran banget sama buku ini, apalagi setelah membaca review beberapa blogger buku tentang buku ini.

Yah, mungkin ini hanya soal selera. Mungkin aku memang lebih suka membaca Stardust dan kawan-kawannya. Syukurlah, (sekali lagi) desain sampul dari Gramedia ini cantik banget. Jadi nggak nyesel-nyesel banget belinya. (Eh, sebenernya buku ini juga nggak beli sih, waktu itu aku dapet voucher buku gratis dari Gramedia, dan salah satu buku yang kubeli dari voucher itu adalah buku ini, hehehe)

PS: Cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu 'Aku', yang sebenarnya tidak secara gamblang dan dari awal disebutkan bernama George. Tokoh 'Aku' baru ketahuan namanya di hampir mendekati akhir cerita, ketika dia teringat kalau ayahnya dulu suka memanggilnya 'George ganteng'. Begitulah, bahkan nama adik perempuannya saja (yang juga menjadi tokoh dalam cerita ini) tidak disebutkan. 

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 14 Reading Challenge kategori Cover Lust]

Kamis, 20 November 2014

Resensi Buku: Tuck Everlasting

Penulis             : Natalie Babbit
Penerjemah      : Mutia Dharma
Penerbit           : Atria
Tahun Terbit    : Oktober 2010
Halaman          : 172

Winnie adalah anak satu-satunya di keluarga Foster. Tinggal bersama ayah, ibu, dan neneknya, ia merasa mereka terlalu mencurahkan perhatian kepadanya. Hidupnya serba teratur dan dia tidak diizinkan pergi ke mana-mana. Suatu hari yang cerah di musim panas, di awal bulan Agustus, Winnie berpikir untuk kabur.

Winnie ingin kabur ke hutan dekat rumahnya. Keluarga Foster memiliki sebuah hutan kecil, yang tidak terjamah dari pembangunan di sekitarnya. Menjelajahi hutan itu menjadi sebuah ketertarikan sendiri bagi Winnie. Ia bertekad untuk menjelajahi hutan itu dan membuat perbedaan pada hidupnya.

Benar saja, besoknya, pagi-pagi sekali, Winnie mengendap-ngendap pergi menuju hutan. Ketika sampai di sana, ternyata ia tidak sendirian. Ada seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun yang sedang bersandar di batang pohon sambil meneguk air yang keluar dari mata air di dekatnya. Menyadari diperhatikan, remaja itu memanggil Winnie.

Nama remaja itu Jesse. Melihat Jesse minum, Winnie ikut merasa haus. Tapi Jesse melarang Winnie minum air itu, seolah air itu sangat berbahaya bagi Winnie. Tidak lama, seorang perempuan datang. Dia ibu Jesse, Mae Tuck.

Jesse menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Winnie. Mae pun memutuskan untuk membawa Winnie ke rumahnya, yang jauh di dalam hutan, bersama kedua anak laki-lakinya, Jesse dan Miles. Air itu adalah rahasia keluarga Tuck. Karena siapapun yang meminum air itu akan abadi.

Membaca Tuck Everlasting sekilas mengingatkanku pada kisah Twilight. Tentang kehidupan abadi dan semacamnya. Tapi tenang, tidak ada vampire atau dilemma cinta segitiga di sini. Tuck Everlasting adalah sebuah cerita sederhana tentang bagaimana kita menjalani hidup.

Ada Winnie yang merasa bosan dengan hidupnya yang begitu-begitu saja, ada Jesse yang begitu menikmati kehidupan abadinya, ada juga Angus Tuck, kepala keluarga Tuck yang merasa menyesal telah minum air abadi itu.

Tuck Everlasting mengalir dengan lembut, tapi tetap menyampaikan pesannya dengan baik. Ceritanya tidak panjang, walaupun setelah selesai membacanya, aku berharap Babbit menulisnya lebih banyak lagi. Aku nggak tahu, apakah edisi yang diterbitkan Atria ini sudah dipersingkat atau memang aslinya seperti itu, mengingat buku ini ditujukan untuk anak-anak.

Tapi, walaupun tokoh Winnie baru berusia 10, cerita ini menurutku layak dibaca oleh semua umur. Terutama bagi yang sedang galau memikirkan hidup, hehehe. Karena, seperti kata Babbit, “Hidup harus dijalani, tidak peduli pendek atau panjang.”

Dan satu lagi, aku suka kisah ini karena berlatar akhir abad 19. Satu potongan masa yang paling aku suka dari ribuan bagian masa lalu.


PS: Tuck Everlasting telah difilmkan 2 kali. Tahun 1981 dan tahun 2002. Pada film 2002, Winnie diperankan oleh Alexis Bledel dan Jesse Tuck diperankan oleh Jonathan Jackson. Dan yah, tentu saja ada perbedaan antara film dan bukunya.



[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 14 Reading Challenge kategori Once Upon a Time]

Rabu, 19 November 2014

Resensi Buku: London - Angel

Penulis             : Windry Ramadhina
Penerbit           : Gagas Media
Tahun Terbit    : 2013
Halaman          : 327


Gilang jauh-jauh datang ke London bukan untuk berlibur. Laki-laki itu datang untuk menjemput cintanya, Ning, yang telah ia cintai selama delapan tahun, atau bahkan lebih. Gilang dan Ning, sejak dulu bersahabat, berdua tak terpisahkan. Selesai kuliah, Ning melanjutkan studinya di London, lalu mengejar mimpinya bekerja di galeri seni Tate Modern.

Sejak Ning pergi, Gilang baru menyadari arti gadis itu bukan hanya sebagai sahabat. Gilang menginginkan Ning menjadi miliknya. Namun, mungkinkah Ning mencintainya juga? Berkat dorongan kelima sahabatnya, Gilang akhirnya memutuskan untuk mengejar Ning hingga ke London. Memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Ning, dan mengajak gadis itu pulang ke Jakarta.

Tapi kenyataan tidaklah seindah yang Gilang bayangkan. Sesampainya di London, tempat tinggal Ning kosong. Sepertinya dia sedang melakukan perjalanan kerja selama beberapa hari. Padahal Gilang hanya punya waktu lima hari di kota itu.

Selain persoalannya dengan Ning, Gilang bertemu dengan gadis cantik bermata biru yang tiba-tiba muncul di hadapannya saat hujan turun. Dia datang saat hujan, dan menghilang ketika hujan berhenti. Anehnya, kemunculan gadis itu, dan payung merah yang ditinggalkannya, membawa Gilang pada keajaiban-keajaiban cinta. Mungkinkah ia malaikat yang turun ketika hujan?

Gilang tidak tahu, yang ia tahu, ia harus bertemu Ning dan mengungkapkan perasaannya.

Satu lagi novel Windry Ramadhina yang aku baca setelah Montase.

Hmm… di awal membaca London, mengingatkanku pada kisah Nata dan Niki milik Winna Effendi. Sepasang sahabat yang akrab sejak kecil, rumahnya bersebelahan sehingga bisa saling melihat dari jendela kamar masing-masing, lalu ketika dewasa, baru sadar jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, dan jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk menjemput cintanya itu.

Tapi hanya awalnya saja yang mirip. Selanjutnya jauh berbeda. Ditambah lagi, kisah ini lebih banyak mengambil latar di London, seperti judulnya. Sehingga nuansa yang diberikan pun berbeda.

Aku suka dengan cara Mbak Windry menggambarkan London di novel ini. Terasa ‘nyeni’ dan ‘London banget’ (sok tahu, padahal belum pernah ke London). Ya, seenggaknya, apa yang kubayangkan selama ini tentang London, seolah diamini oleh Mbaknya dalam cerita yang dia tulis. Kuno, artsy, gloomy, tapi penuh cinta, hehehe.

Aku juga suka dengan cara Gilang memberi julukan pada orang yang ditemuinya dengan nama-nama tokoh di dunia sastra. Jules, Finnegan, Goldilocks, Hyde, Brutus, dan lain-lain. Walaupun aku sendiri nggak terlalu simpatik sama tokoh Gilang. Nggak tahu kenapa. Iya sih kita senasib, suka bertahun-tahun sama seseorang, tapi dipendam aja, eh orangnya malah pergi jauh (lho kok curhat??), tapi aku ngerasa kayaknya Gilang terlalu ‘liar’ deh, hahaha. (Susah mendefinisikannya gimana).

Oya, aku juga suka banget sama kutipan Soneta 17 karya Pablo Neruda. Aku selalu suka dengan novel yang memberiku asupan wawasan tentang sastra dan seni. Mungkin karena itulah, aku menyukai tulisan-tulisannya Prisca Primasari dan Windry Ramadhina. Karena mereka tidak hanya menyajikan alur cerita, tapi tambahan ilmu baru bagi para pembacanya.


Terakhir, sepertinya Mbak Windry ini menganut keyakinan yang sama denganku. Sama-sama percaya, ketika hujan, para malaikat turun. Dan sebagai salah satu yang mencintai hujan (dan London) aku ikut merasa buku ini dipersembahkan untukku. Terima kasih Mbak Windry ^^


Daaaaan, Terima kasihku yang tak terhingga untuk Aziyah Hazrina dan Khadijah Mardhiyah yang memberikan buku ini sebagai hadiah wisuda. Love you so much, girls! XOXO

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 14 Reading Challenge kategori Visit the Country dan Young Adult Reading Challenge]

Minggu, 16 November 2014

Resensi Buku: Pasukan Mau Tahu, Misteri Pondok Terbakar



Penulis             : Enid Blyton
Penerjemah      : Agus Setiadi
Penerbit           : Gramedia
Tahun Terbit    : 1991
Halaman          : 204


Semuanya berawal dari sebuah pondok yang terbakar di Haycock Lane. Karena peristiwa itu, lima anak penuh ingin tahu bertemu dan membentuk perkumpulan bernama Pasukan Mau Tahu. Kelima anak itu adalah kakak beradik Laurence dan Margaret Daykin, tapi lebih suka dipanggil Larry dan Daisy, kakak beradik Philip dan Elizabeth Hilton, biasa dipanggil Pip dan Bets, dan seorang anak laki-laki gendut bernama Frederick Algernon Trotteville atau Fatty, dan anjing hitam kecilnya yang bernama Buster.

Mereka berlima memutuskan untuk menjadi detektif dalam kasus pondok milik Pak Hick yang terbakar secara misterius. Sebabnya, bukan hanya pondok saja yang terbakar, melainkan kertas-kertas berharga milik Pak Hick juga ikut hangus. Pasti ada seseorang yang sengaja membakarnya, entah untuk balas dendam atau maksud lain. Ditambah lagi, sebelum kebakaran terjadi, Pak Hick sempat bertengkar dengan sahabatnya, Pak Smellie, serta baru saja memecat pesuruhnya, Pak Peeks.

Selain itu, Pasukan Mau Tahu juga menemukan jejak sepatu di jalan setapak ke arah pondok Pak Hick dan kain sobekan jas yang tersangkut, yang mereka yakini sebagai petunjuk untuk menentukan siapa pelakunya. Mereka pun mulai bergerak mendekati orang-orang yang mengenal Pak Hick seperti Bu Minns, pengurus rumah tangganya, serta Lily, gadis muda yang membantunya. Namun, mereka juga harus bersicepat dengan polisi setempat, Pak Goon, yang kerjanya mengusir anak-anak, sehingga mereka menjulukinya Pak Ayo Pergi. Berhasilkah Pasukan Mau Tahu memecahkan misteri pertama mereka?

Kembali lagi membaca tulisannya Enid Blyton, dan Pasukan Mau Tahu merupakan salah satu serial yang ingin kubaca secara lengkap. Dulu, waktu SD pernah baca sekali, lupa yang judulnya apa. Habis itu nggak pernah lagi, dan baru baca lagi sekarang.

Sebenernya agak bingung juga meresensi bukunya Enid Blyton. Karena formulanya hampir sama. Sekumpulan anak berusia belasan tahun (sekitar 10-13 tahun) dan seekor anjing, yang berusaha memecahkan sebuah misteri tanpa bantuan orang dewasa. Dan meskipun formulanya sama, tapi tetep aja seru buat dibaca.

Di Pasukan Mau Tahu, tokoh yang ‘nyebelin’ itu Fatty. Kalau anak sekarang mungkin bakal ngejulukin dia lebay karena sering melebih-lebihkan sesuatu. Misalnya dia jatuh, terus dia bakal mengaduh-aduh seolah sakitnya parah banget. Tapi kadang itu yang bikin lucu sih. Ada lagi Bets, adiknya Pip yang masih 8 tahun, tapi pengen ikut jadi detektif juga. Sehingga kadang-kadang malah ngerepotin anak-anak lainnya.

Oh ya, meskipun ini cerita detektif anak-anak, aku bahkan nggak bisa nebak kira-kira siapa pembakar pondoknya. Entah karena aku emang jarang baca cerita detektif atau terlalu males mikir, hahaha. Yang jelas, setiap baca tulisan Enid Blyton itu selalu bikin aku kangen masa kecil yang seru dan menyenangkan.

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategori Favorite Author]

Sabtu, 01 November 2014

Resensi Buku: Naomi and Ely’s No Kiss List


Penulis             : Rachel Cohn & David Levithan
Penerbit           : Allen & Unwin Australia
Tahun Terbit    : 2008 (Australian Edition)
Halaman          : 230
 

Naomi dan Ely. Di mana ada Naomi, di situ ada Ely. Tinggal bersebelahan di gedung apartemen yang sama, menghabiskan masa kecil dan remaja bersama, seolah tak ada yang bisa memisahkan mereka.

Ketika beranjak dewasa, Naomi jatuh cinta pada Ely. Yang jadi masalah, Ely jatuh cinta pada laki-laki. Ya, Naomi tahu Ely gay, tapi gadis itu tetap berharap suatu hari nanti mereka akan menikah, punya rumah dan anak-anak bersama. Tapi harapan Naomi hancur saat Ely jatuh cinta pada pacarnya sendiri, Bruce.

Pertengkaran antara Naomi dan Ely pun tak dapat terhindarkan. Bukan pertengkaran biasa seperti yang sudah-sudah. Kali ini, Naomi benar-benar patah hati, dan menghindar dari Ely. Ely pikir semua ini karena ia merebut pacar sahabatnya, dan menjadikannya gay. Kenyataannya, Naomi terluka sama sekali bukan karena Bruce, tapi karena sadar Ely tak akan pernah mencintainya seperti dia mencintai Ely.

Rumit ya? Saya aja stress baca novel ini.

Saya pernah membayangkan seperti apa rasanya jadi Naomi, jauh sebelum baca novel karya Levithan dan Cohn ini. Kayaknya stress banget deh suka sama cowok, tapi cowoknya lebih suka sama cowok juga. Maksudnya, kalaupun jadi rival, nggak apple to apple banget lah! Makanya, pas baca buku ini, saya merasa mengerti banget seperti apa rasanya jadi Naomi.

Inti ceritanya sendiri bagi saya sudah sangat mengoyak emosi. Sayangnya, banyak perintilan-perintilan kecil yang agak mengganggu di novel ini. 

Pertama, nama tokoh yang sama. Di cerita ini, ada Bruce The First dan Bruce The Second. Dua-duanya cinta mati sama Naomi, tapi hanya yang Kedua yang pernah jadi pacarnya. Terus ada Guy Robin dan Girl Robin, dua orang yang namanya sama-sama Robin tapi beda jenis kelamin, dan sama-sama sahabatan dengan Naomi.

Awalnya, saya nggak ngeh dengan kenyataan itu. Apalagi Naomi ngebedain mereka hanya dengan gambar cowok/cewek yang biasa digantung di pintu toilet. Dan karena saya baca e-booknya di handphone, jadi suka nggak kelihatan itu gambar cowok/cewek. Baru agak ke belakang dijelasin ada Girl Robin dan Guy Robin.

Oh ya, novel ini juga menggunakan gambar-gambar kecil sebagai pengganti kata. Kelihatan unik sih, tapi ya itu, karena saya bacanya di handphone, jadi gambarnya suka nggak kelihatan dan aku males nge-zoom. (Salah sendiri!)

Hal lain yang agak mengganggu adalah POV yang banyak. Waktu baca Dash and Lily's Book of Dares, POV-nya kan berganti-ganti antara Dash dan Lily, saya pikir Naomi dan Ely pun begitu. Ternyata tidak, teman-teman Naomi dan Ely pun punya POV masing-masing. Bahkan yang menurut saya kurang penting pun masuk, seperti Kelly, kakaknya Bruce the First. Walaupun di bagian akhir, POV-nya lebih banyak pada Naomi dan Ely saja.

Di cerita ini juga banyak kata-kata slang, kasar, dan agak vulgar ala New Yorkers, yang sebenarnya saya nggak ngerti-ngerti banget, jadi, ya sudahlah, hahaha.

Terus, hubungannya dengan No Kiss List apa? Jadi, ketika remaja, Naomi dan Ely punya perjanjian untuk tidak mencium orang-orang yang masuk ke daftar No Kiss List mereka, berhubung mereka tertarik dengan jenis yang sama, hehe. Menurutku, No Kiss List ini nggak punya dampak yang terlalu besar pada konflik cerita. Cuma jadi alat untuk memperkuat hubungan yang dimiliki Naomi dan Ely, yang sebenarnya udah sangat kuat kok meskipun tanpa daftar itu.

Terlepas dari banyaknya review di Goodreads yang mengatakan buku ini ‘nggak banget’, saya tetep suka. Karena cerita Naomi dan Ely mengajarkan bahwa secinta apapun kita sama seseorang, kita nggak bisa maksa orang itu mencintai kita seperti kita mencintai dia.

My favorite line from Naomi :

"Why did it take you stealing my boyfriend to make me finally understand that you will never love me the way I love you?"

"And here is why I will love Ely to my dying breath. He laughs. Snot runs down his nose. I hand him a Kleenex. Somehow I think he's never looked more beautiful. Teary-eyed, splotchy-cheeked, runny-nosed, laughing and crying. My boy."

Aaaaah, coba deh bayangin, ada seseorang yang tetep nganggep kita cakep meski saat itu muka kita belepotan, hidung meler, mata berlinang-linang, kurang sayang apa coba Naomi ke Ely???? Dan kalimat terakhirnya itu lho, my boy, duh, buat saya itu bener-bener menyesakkan dada. (Lebay!)

Poor Naomi… Saya berharap nggak pernah jatuh cinta dengan cowok gay, karena itu menyakitkan, hehehe…

PS: Lidah Indonesia saya masih aja sering nyebut Ely, E-L-I, padahal harusnya I-L-A-Y.

PS 2: Sepertinya novel ini akan dijadikan film, entah rilisnya kapan. Tapi kalau lihat dari posternya, yang memerankan Naomi dan Ely cukup oke, alias sesuai dengan bayangan saya saat membaca novelnya.

[Review ini diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge 2014]