Selasa, 28 Oktober 2014

Resensi Buku: The Girl Who Could Fly



Penulis             : Victoria Forrester
Penerjemah      : Ferry Halim
Penerbit           : Atria
Tahun Terbit     : Mei 2010
Halaman         
 

Keluarga McCloud tidak pernah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan rutinitas dan kebiasaan mereka. Betty dan Joe McCloud menerapkan hal itu sepanjang hidup mereka di tanah pertanian Lowland County. Setelah dua puluh tahun pernikahan, mereka baru dikaruniai seorang anak perempuan, Piper McCloud.
Piper bukanlah gadis kecil biasa. Kepalanya penuh pikiran dan pertanyaan aneh yang membuat ayahnya terbengong-bengong dan ibunya kesal luar biasa. Selain itu, ia juga memiliki sebuah keajaiban, Piper dapat terbang. Bukan hanya sekedar mengapung, tapi benar-benar terbang di udara.

Mengetahui keanehan anaknya, Betty memutuskan tidak menyekolahkan Piper dan melarang Piper bermain dengan teman sebayanya. Meskipun Piper ingin sekali punya teman karena ia begitu kesepian di rumah pertanian. 
Pada suatu hari yang menyenangkan, Betty dan Joe mengizinkan Piper ikut menikmati piknik bersama keluarga-keluarga lain di Lowland County. Memiliki reputasi sebagai anak aneh, tidak ada yang mau berteman dengan Piper. Piper merasa sedih dan ingin membuktikan kalau ia bisa menjadi teman yang hebat.

Saat Piper bertanding dalam permainan baseball, dia mengeluarkan bakat terbangnya untuk menangkap bola. Gadis yang bisa terbang adalah hal yang sangat tidak biasa. Maka dari itu, berita kemampuan terbang Piper langsung merebak cepat, hingga rumahnya dikerumuni oleh para wartawan dan orang yang penasaran.

Di tengah serbuan kamera dan reporter, muncul seorang wanita cantik bernama Dr Letitia Hellion. Ia mengunjungi keluarga McCloud dan menyampaikan kalau ia mengurus sebuah sekolah di mana anak-anak dengan kemampuan ajaib seperti Piper diasuh dan dibesarkan. Orangtua Piper, yang berharap yang terbaik untuk anaknya, akhirnya merelakan Piper dibawa oleh Dr Letitia Hellion.

Piper tentu saja merasa senang. Bukan hanya karena dia akan sekolah, tapi juga membayangkan asyiknya bertemu dengan teman-teman yang bisa terbang juga. Akankah sekolah itu mengajarinya cara terbang yang lebih baik dengan yang pernah dia lakukan? Dan berapa banyakkah orang yang memiliki keajaiban seperti dirinya? Piper tidak sabar mengetahui hal itu.

The Girl Who Could Fly, awalnya kupikir cerita ini akan seperti film sejenis Sky High, tempat anak-anak dengan kemampuan ajaib berkumpul dan bersekolah. Ya, memang pada awalnya terlihat seperti itu sih, tapi plot twist-nya menyatakan tidak!

Garis besar ceritanya, menurutku sebenarnya sudah sering dipakai. Tentang tokoh yang awalnya terlihat baik ternyata jahat, dan yang telihat jahat ternyata baik. Dan akhirnya, pertarungan antara yang jahat dan yang baik. Tapi penulis merangkai kisahnya dengan sangat apik dan menarik, sehingga walaupun idenya sudah banyak dipakai, tapi tidak membosankan dan tetap mengundang rasa penasaran.

Aku sendiri suka dengan tokoh Piper yang polos dan banyak ingin tahu. Ia juga baik hati dan tidak mementingkan diri sendiri. Penggambaran institute tempat Piper sekolah juga bagus. Aku bisa membayangkan sebuah bangunan besar, nun jauh dari pemukiman penduduk, yang berisi makhluk hidup dengan kemampuan ajaibnya masing-masing.

Secara bahasa, terjemahannya juga sangat enak dibaca. Pas banget untuk bacaan anak-anak usia 7 tahun ke atas, karena bahasanya yang tidak rumit dan jalan ceritanya yang mengalir. Buku The Girl Who Coul Fly cocok sekali dibaca sebagai teman menikmati sore yang indah.

Senin, 20 Oktober 2014

Resensi Buku: Every You, Every Me


Penulis             : David Levithan
Penerbit           : Alfred A. Knopf
Tahun terbit     : 2011
Halaman          : 279 


Evan masih dirundung duka karena kepergian sahabatnya, Ariel. Di tengah kesedihannya, muncul amplop berisi foto tempat di mana ia berdiri saat itu. Tidak ada nama atau keterangan di amplop atau foto tersebut. Keesokan harinya, Evan kembali menemukan amplop berisi foto. Kali ini, foto itu adalah foto dirinya. Dan yang lebih aneh, foto itu diletakkan seolah untuk ditemukan oleh dirinya.

Evan merasa foto-foto itu masih ada hubungannya dengan Ariel. Mungkinkah Ariel yang mengirimi foto-foto itu? Dari tempat di mana amplop itu diletakkan, tentu saja si pengirim masih berada di dekat situ. Bercampur perasaan takut, cemas, dan penasaran, Evan menceritakan misteri itu kepada sahabatnya, Jack.

Evan, Jack, dan Ariel adalah sahabat dekat. Ariel-lah yang mengenalkan Evan pada Jack. Dan meski diam-diam Evan menyukai Ariel, gadis itu lebih memilih Jack sebagai pacarnya. Meskipun begitu, ketiganya tetap bersahabat dekat, hingga saat kepergian Ariel.

Jack, awalnya menanggapi misteri yang diceritakan Evan. Amplop berisi foto itu bahkan tidak hanya dikirimkan untuk Evan, melainkan untuk Jack. Membuat Evan semakin yakin kalau semua itu berhubungan dengan Ariel. Siapa lagi orang yang dekat dengan Ariel selain mereka berdua?

Tapi, apa maksud si pengirim terus menerus mengirim foto kepada mereka, khususnya Evan? Dan apa hubungannya dengan Ariel? Evan berusaha keras memecahkan misteri itu, di tengah perasaannya yang masih dilingkupi kesedihan karena kepergian Ariel dan kecurigaan Jack yang mengira Evan-lah yang membuat semua lelucon itu karena tidak bisa menerima kenyataan.

Well, another story from David Levithan.

Every You, Every Me adalah sebuah novel fotografis kolaborasi dari David Levithan dan Jonathan Farmer. Seperti yang ditulis di review, di beberapa bagian cerita terdapat foto-foto yang dicantumkan, yaitu foto-foto yang diterima oleh Evan dari pengirim misterius. Sebagian besar, muncul di tiap awal bab.

Ceritanya sendiri, menurut saya cukup singkat dibanding dua novel Levithan yang sebelumnya saya baca (Dash and Lily Book of Dares dan Everyday). Selain menggunakan foto, Levithan juga menggunakan format strikethrough di tulisannya. Diceritakan dari sudut pandang Evan, format strikethrough digunakan ketika Evan mengungkapkan apa yang dia inginkan, namun yang dia lakukan berbeda.

Misal : I saw the envelope sitting there on the ground. I should have left it alone. I should have been left alone. I was alone. I stopped and picked it up. From the weight, I knew there was something inside. I decided to open it.

Atau ketika Evan sedang teringat dengan kenangannya bersama Ariel, atau saat ia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Misal : And then my mind started getting so angry at itself. I know I suck. I know I’m stupid. Stop telling me. I know. Because the answer had been here all along.

Bagi saya, rasanya seru setiap menemukan novel dengan format yang berbeda atau tidak seperti yang biasa. Ditambah, kemunculan foto-foto yang membuat saya terus penasaran dengan gambarnya yang agak spooky. 

Sayangnya, di cerita ini, misteri Ariel tidak diceritakan dengan jelas. Entah memang sengaja dibuat tetap jadi misteri atau saya yang terlalu bodoh menangkap maksudnya. Jadi, si Ariel ini di sekolah dikenal sebagai gadis yang menderita gangguan kejiwaan dan Evan merasa hanya dia yang benar-benar mengerti Ariel. Sedangkan Evan sendiri, termasuk anak pendiam dan pemalu, berbeda dengan Jack yang lebih supel dan aktif (dan mungkin lebih normal).

Jujur, saya sih tidak terlalu suka dengan si Ariel ini. Lebih karena Levithan tidak menceritakan dengan jelas dan tersurat apa yang sebenarnya terjadi pada Ariel. Dan kemanakah sebenarnya dia pergi? Meninggal atau masuk rehabilitasi? Dan karena dia juga jahat sama Evan, huhuhu…

Sedangkan Evan mungkin juga memiliki sedikit gangguan jiwa, meskipun tidak separah Ariel. Dia terlalu menenggelamkan dirinya dalam kesedihan dan terlalu menyalahkan dirinya sendiri. Dia dihantui ketakutan akan Ariel yang balas dendam kepadanya karena tidak bisa menolong Ariel.

Satu-satunya yang bertindak rasional di sini cuma Jack. Dia memilih untuk tidak menanggapi foto-foto misterius itu. Meskipun pada akhirnya, keputusan Evan menelusuri pengirim foto misterius ada benarnya juga. Walaupun di akhir, alasan si pengirim (menurutku) tetap tidak masuk akal juga. Rasanya saya pengen banget bilang, “terus kenapa?”

Dari cerita ini, mungkin Levithan ingin menyampaikan kalau kita tidak pernah bisa benar-benar mengenal pribadi seseorang, meskipun kita dekat dengan dia, meskipun kita menghabiskan waktu bersamanya, meskipun kita sangat mencintainya. Seperti kata Ariel, “You don’t know me. You know one me, just like I know one you. And you can’t know every me, like I never know every you.”

Secara keseluruhan, saya selalu suka dengan tulisan David Levithan, karena selalu membuat saya merenung tentang berbagai sisi kehidupan. Bagaimana tokohnya memandang hidup dan masalah yang terjadi, ikut membukakan pikiran yang selama ini mungkin tidak berpikir sampai ke sana. Meskipun, ya itu tadi, agak bikin geregetan jalan ceritanya.

Satu lagi, saya juga suka sama covernya, gloomy banget. Benar-benar menggambarkan sosok remaja laki-laki yang sedang bersedih. Siapa ya yang jadi modelnya?

[Review ini diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge 2014]


Sabtu, 11 Oktober 2014

Resensi Buku: The 13 Secrets

Penulis             : Michelle Harrison
Tahun Terbit    : Juni 2012 (Edisi Ebook Pertama)
Halaman          : 187 
Format            : Ebook English Version


Spoiler Alert!
Liburan musim panas baru saja mulai. Seperti biasa, Tanya kembali ke Elvesden Manor untuk menikmatinya di sana. Elvesden Manor sendiri kini lebih ramai dengan kehadiran anggota baru, Rowan atau Red, dan ibu aslinya, Rose.

Meskipun telah tinggal nyaman dan hidup seperti gadis kebanyakan, Rowan merasa tidak tenang. Ia dihantui oleh semacam ketakutan dan kekhawatiran atas apa yang telah diperbuatnya. Yaitu saat ia meninggalkan fey laki-laki bernama Eldritch saat mereka sama-sama terkurung di rumah seorang penyihir bernama Hedgewitch.

Saat itu, Rowan bisa saja menyelamatkan Eldritch. Namun setelah mengetahui kalau Eldritch berhubungan dengan penculikan James, adiknya, Rowan memilih untuk meninggalkannya dalam keadaan terikat di rumah penyihir tersebut.

Selain dihantui perasaan bersalah, ia juga ingin keluar dari sebuah grup yang diikutinya saat ia masih menggelandang dulu. Grup itu bernama The Covens, berisi 13 anggota yang memiliki keahlian masing-masing, yang bertugas untuk mengembalikan anak-anak manusia yang ditukar oleh fairy.

Kenyataannya, Rowan diberi pilihan untuk keluar atau menolong satu lagi keluarga, yang kali ini, ibunya-lah yang ditukar oleh fairy. Tino, ketua The Covens memberi pilihan pada Rowan, dia boleh pergi atau menolong satu kasus lagi. Rowan memilh yang terakhir.

Rowan tidak menyangka kalau kasus itu adalah jebakan Eldritch, yang telah bebas dan ingin membalas dendam pada Rowan karena telah membiarkannya terkurung. Namun anehnya, jika Eldritch hanya berurusan dengan Rowan, kenapa tiga anggota The Covens ditemukan mati mengenaskan setelah kasus itu selesai. Bahkan ada kemungkinan kalau sisanya akan mengalami nasib yang sama. Kenyataan ini menunjukkan, bukan hanya Rowan yang diburu, tapi ada pihak lain yang menginginkan The Covens hancur.

Sebelum aku mulai mereview, aku ingatkan akan ada banyak spoilers di sini (baik untuk buku ini maupun dua buku sebelumnya) dan beberapa komentar nggak penting, hehehe…

Ya, dibanding dengan buku pertama dan kedua (The 13Treasures & The 13 Curses) buku terakhir ini lebih panjang dan lebih menegangkan. Lebih panjang karena harus mengulas dua hal, yaitu bagian The Covens menolong ibu yang ditukar dengan fairy, dan bagian The Covens dan keluarga Tanya diserang.

Untuk bagian ke dua, deg-degan banget ketika memasuki klimaks cerita dan dihadapkan pada plot twist-nya. Bahkan sampai mendekati klimaks pun, aku sama sekali nggak bisa menebak siapa yang ingin menghancurkan The Covens. Dan saat sudah ketahuan, heat of story meningkat tajam, penasaran akhirnya seperti apa. Meskipun, bagian akhirnya malah yang paling mudah ditebak.

Nah, selain dari segi petualangan dan pertempuran dengan fairy, ada hal remeh-remeh yang membuat aku makin suka dengan serial ketiga ini. Oh, pastinya bisa ditebak dong hal remeh temeh itu apa.

Salah satu anggota The Covens, Sparrow, anak laki-laki yang pertama kalinya menemukan Rowan di jalanan dan mengajaknya masuk ke grup itu, diam-diam suka pada Rowan. Aiiih… manis banget deh, saat Sparrow memberikan perhatian kecil pada Rowan. Misalnya, tidak membiarkan Rowan pulang sendiri ke Elvesden Manor, atau memanjat kamar Rowan untuk memastikan kalau gadis itu baik-baik saja. Tapi yang paling manis adalah saat menjelang ‘pertempuran’ The Covens, Sparrow mencium pipi Rowan dan bilang, “I’m afraid I don’t get second chance.” Duuuh, manis banget yaa…. Such a nice boy!

Memang sih, sejak buku kedua, bagian Rowan jadi lebih banyak dibanding Tanya, yang aku pikir bakal jadi tokoh utama sepanjang serial. Tapi, Tanya selalu memegang peranan penting kok di tiap petualangan mereka. Tentu saja dengan Fabian. Mungkin kalau ada buku ke empat, giliran hubungan Tanya dan Fabian kali ya… Habis dari awal sampai akhir buku, mereka sering berantem, tapi saling perhatian dan bisa kompak juga.

Lalu tentang ibu Rowan, Rose, yang diam-diam menjalin hubungan dengan Warwick, ayah Fabian. Wah, yakin banget deh, kalau ada buku ke-empat, dipastikan mereka menikah, terus Fabian dan Rowan jadi saudara, dan Tanya jadi pacarnya Fabian, hehehe

Maaf, itu tadi sudah masuk ke bagian yang nggak penting. Tapi jujur aja, karena aku sudah lumayan jarang baca serial lagi, jadi seperti merasa punya kedekatan khusus dengan tokoh-tokoh di Trilogi 13 ini. Sehingga, meskipun ceritanya sudah berakhir, aku masih membayangkan bagaimana kehidupan mereka selanjutnya.

Untuk The 13 Secrets sendiri, dari jalan ceritanya menurutku seru banget. Walaupun sampai akhir, aku masih belum bisa menangkap apa sih 13 rahasianya itu?

Lalu, karena di Indonesia sepertinya belum terbit, sama seperti Trilogi Emily, aku pun mencari versi Ebook-nya di internet. Jadi bacanya versi bahasa Inggris British. Banyak kosakata baru yang aku temukan, lebih banyak daripada di Emily’s Quest yang berbahasa Inggris juga. Dan aku merasa amat lega, karena akhirnya, aku nggak digantungin sama serial! Hehehe…


Ps: Aku menemukan sebuah artikel yang juga suka dengan Trilogi 13 ini dan memaparkan 13 alasan kenapa dia menyukainya. I totally agree with her, except for the last reason, Rowan/Red is gorgeous, but I prefer Fabian so much! Hehehe

Pss: Gambar juga aku ambil dari artikel mereka 

Kamis, 09 Oktober 2014

Resensi Buku: Emily’s Quest



Penulis             : Lucy Maud Montgomery
Tahun Terbit    : 1927
Format            : E-book English Version


Emily Byrd Starr telah memilih jalannya. Setelah lulus sekolah di Shrewsbury, ia kembali tinggal di New Moon bersama Bibi Elizabeth, Bibi Laura, dan Sepupu Jimmy. Ketiga sahabatnya, Ilse, Teddy, dan Perry melanjutkan sekolah untuk mencapai cita-cita mereka. Ilse dan Teddy berkuliah di Montreal, Perry di Charlottetown.

Sering Emily merasa sedih dan kesepian. Ia banyak menghabiskan hari-harinya sendirian. Kadang ia iri pada sahabat-sahabatnya yang pergi ke banyak tempat. Sedangkan ia tetap di Blair Water yang semakin terlihat kuno dan ketinggalan zaman.

Di hari-harinya yang sunyi di New Moon, Emily tetap menulis, demi meraih Puncak Kesuksesan yang ia dambakan. Sekarang ia tidak hanya menulis cerita pendek atau puisi, tapi mulai merambah ke novel. Sayangnya, menggapai hal itu tidaklah semudah yang Emily bayangkan.

Belum lagi kisah cintanya yang berkali-kali kandas. Setelah menolak lamaran Perry dan Sepupu Andrew, Emily menjalani beberapa hubungan cinta dengan laki-laki, namun tak ada satupun yang berakhir indah. Hati Emily telah terpaut pada seorang laki-laki saja. Seorang yang mengatakan dia adalah gadis termanis di dunia, Teddy Kent.

Tapi Teddy Kent tidak mencintai Emily. Percakapan mereka lewat surat tidak lagi seperti sahabat akrab, melainkan hubungan antar teman biasa yang bertukar kabar. Bahkan meski Teddy Kent datang berkunjung ke Blair Water di tengah kesuksesannya sebagai pelukis muda, Emily tidak merasakan keakraban yang sama dengan yang dulu saat mereka masih remaja. Bagi Emily, Teddy telah berubah. Ia tak akan pernah mendapatkan hati laki-laki manis itu.

Buku terakhir dari Trilogi Emily benar-benar yang paling menguras emosi. Entahlah, mungkin karena di buku ini, kisah Emily lebih berfokus pada kehidupan cintanya yang bercampur baur dengan kehidupan di New Moon dan Blair Water.

Hanya dengan membacanya, aku sangat bisa merasakan seperti apa rasanya jadi Emily. Atau mungkin karena aku merasa, ada beberapa bagian dari hidup Emily yang sama denganku. Tentang ditinggalkan dan merasa tidak dicintai. Tentang kesepian dan kecewa pada diri sendiri. Tentang harapan masa kecil yang semakin pudar dan pupus seiring beranjak dewasa. Oh, betapa hebatnya Montgomery menuliskan itu semua.

Mulai dari seri pertama, Emily digambarkan gadis kecil yang tak mengenal takut dan percaya pada dirinya sendiri. Beranjak remaja di serial kedua, Emily merajut mimpi-mimpi hebat untuk masa depannya, merasa begitu yakin akan meraihnya. Dan di serial ketiga, di mana Emily menginjak dewasa, berbagai kenyataan datang, kadang tak seindah yang dihadapi. Sering membuat dia putus asa dan kecewa. Tapi begitulah perjalanan hidup.

Jujur, aku menangis saat membaca bagian mendekati akhir cerita. Masa-masa di mana Emily merasa begitu patah hati terhadap Teddy. It’s so unbearable for me! Rasanya seperti ikut sesak nafas membaca halaman demi halamannya. Montgomery begitu hebat karena mampu membuat tokoh yang sangat hidup dan nyata. Sampai saat menulis review ini, aku masih merasa ikut menjalani kehidupan Emily. Ikut melihat dan mengalami semua perasaan yang dia rasakan. Oh, tapi aku mungkin tidak akan sekuat dan setabah Emily.

By the way, buku ketiga ini aku dapatkan dari pencarianku di internet. Sulit rasanya menunggu lebih lama untuk kisah Emily selanjutnya (lihat Emily of New Moon dan Emily Climbs). Jadi aku putuskan mencari format ebook-nya, dan Alhamdulillah ketemu. Karena membaca versi bahasa Inggris, beberapa deksripsi indah khas Montgomery kurang menancap di pikiranku. Mungkin karena aku membaca sambil menerjemahkan seadanya, sehingga hasilnya kurang indah dibanding jika aku membaca versi terjemahannya langsung.

Bagaimanapun, aku sungguh lega aku telah menyelesaikan kisah Emily. Tidak sabar rasanya membaca karya-karya Montgomery lainnya. For now, she was my favorite author, next to Enid Blyton and Edith Nesbit.

PS: Trilogi Emily of New Moon pernah diadaptasi menjadi serial televisi di Kanada (negara kelahiran Montgomery) pada tahun 1998-2000 di saluran CBC. Emily Starr diperankan oleh Martha MacIsaac dan Teddy Kent diperankan oleh Shawn Roberts.

PS: Karena masih agak kecewa dengan cover Trilogi Emily versi Indonesia, aku mencari tahu cover-cover buku Emily yang diterbitkan di negara lain. Beberapa cover sangat unyu dan membuatku iri. Kalau aku menemukannya, mungkin aku tidak keberatan membeli lagi buku yang sudah kupunya. 


Kalau cover di Indonesia se-unyu ini, mungkin akan lebih banyak lagi yang membaca Trilogy Emily
Trilogy Emily First Edition



[Review ini diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge 2014]