Minggu, 07 September 2014

Resensi Buku: Emily of New Moon


Penulis             : Lucy Maud Montgomery
Penerjemah      : Ambhita Dhyaningrum
Penerbit           : Qanita
Tahun Terbit    : Juli 2010
Halaman          : 524


Emily, gadis yatim piatu yang tinggal di New Moon bersama kedua bibinya, Bibi Elizabeth dan Bibi Laura, serta Sepupu Jimmy. Bukan hal mudah bagi Emily tinggal di rumah besar New Moon bersama Bibi Elizabeth-nya yang kaku, penuh peraturan, dan seolah tidak menginginkannya. Untunglah, ada Bibi Laura yang baik hati dan penyayang, serta Sepupu Jimmy yang suka membacakannya puisi.

Meskipun yatim piatu, Emily bukanlah gadis yang lemah. Ia memiliki keberanian dan mimpi yang besar untuk menjadi seorang penulis terkenal nantinya. Namun, cita-cita itu terlihat tidak mudah saat ini, di saat Bibi Elizabeth begitu ketat terhadap penggunaan kertas di New Moon, sehingga Emily harus puas menulis di balik kertas-kertas bekas.

Bukan itu saja, Emily pun harus menerima olok-olok dari teman-teman di sekolahnya karena dia keturunan Murray. Murray adalah keluarga terpandang di Blair Water, daerah tempat Emily tinggal, hingga banyak orang yang iri pada keturunan keluarga tersebut. Belum lagi kehadiran Miss Brownell, guru sekolahnya, yang galaknya minta ampun. Membuat rasa kehidupan Emily semakin beraneka ragam.

Terkadang, Emily merindukan ayahnya, dan rumah lama mereka di Maywood. Sebelumnya, Emily tinggal bersama ayahnya yang begitu ia cintai di lembah Maywood. Di sanalah ia berkenalan dengan Dewi Angin, Sang Kilat dan berbagai macam keajaiban lainnya. Setelah ayahnya meninggal, ia pindah ke New Moon.

Kehidupan di New Moon tidak selalu menyedihkan. Kadang ada pula bagian menyenangkan seperti saat Emily bermain dengan Ilse dan Teddy sahabatnya, atau mendengar Sepupu Jimmy membacakan puisinya. Dan lebih banyak lagi kisah yang dialami Emily, gadis kecil berusia 12 tahun, selama ia tinggal di New Moon.

Akhirnya, kembali lagi membaca karya Lucy Maud Montgomery. Sejak pertama kali membaca karyanya yang berjudul “The Story Girl”, aku langsung suka dengan gaya penulisan Montgomery. Beliau sangat piawai dalam mendeskripsikan latar cerita sehingga saat membacanya seperti melihat sebuah dongeng yang menjadi nyata. 

Dalam serial Emily juga sama. Montgomery menyuguhkan pemandangan New Moon, Maywood, dan semua tempat yang menjadi latar ceritanya dengan sangat indah. Selain itu, kepercayaannya pada kehadiran peri-peri membuat aku semakin suka dengan tulisannya. Baik di cerita Story Girl maupun Emily, kedua tokoh utamanya mempercayai keberadaan para peri. Ceritanya sendiri bukanlah dongeng fantasi, melainkan kisah seorang gadis kecil yang mengalami berbagai hal dalam hidupnya. Dan kabarnya, kisah Emily ini adalah tokoh favorit dan yang paling mirip Montgomery dibanding tokoh-tokoh gadis muda penuh impian yang pernah ditulisnya.

Secara penerjemahan, buku terbitan Qanita ini sangat bagus. Awalnya sempat takut kalau gaya terjemahannya jelek, sehingga tidak enak untuk dbaca. Tapi ternyata bagus banget kok. Yang sangat aku sayangkan cuma satu, COVERnya!

Nggak tahu sih, entah kenapa aku kurang suka dengan cover yang bergambar foto seperti itu. Mungkin ingin menggambarkan sosok Emily dengan topi sunbonnet-nya, serta jurnal dan kucing kesayangannya. Tapi aku merasa gadis di cover itu lebih mirip pemain telenovela remaja, seperti di serial Amigos. (Hahaha, nggak nyambung ya? Yah pokoknya aku merasa begitu.)

Mungkin kalau covernya hanya sebuah ilustrasi atau gambar seorang gadis atau sesuatu yang berkaitan dengan cerita, akan lebih menambah kesan klasik pada buku ini. Lagipula, meskipun ada foto itu, Emily di kepalaku jauh berbeda dari yang ada di cover buku. Mudah-mudahan, untuk terbitan karya klasik berikutnya, Qanita mempertimbangkan kembali ide penggunaan foto sebagai desain sampul bukunya.

Serial Emily sendiri terdiri dari tiga buku. Yang pertama Emily of New Moon, Emily Climbs, dan Emily’s Quest. Aku sudah punya yang kedua, tapi belum menemukannya yang ketiga. Nggak tahu sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia atau belum. Yang jelas, setelah baca buku pertamanya, aku jadi penasaran banget sama serial lanjutannya. Terutama dengan kisah cinta malu-malunya Emily, hehehe…

Salah satu contoh paragraf yang aku suka dari buku Emily of New Moon

Rerumputan cokelat beku terasa bagaikan hamparan beledu di telapak kakinya. Sebatang cemara tua tua nyaris mati dengan bonggol-bonggol berlumut adalah pilar pualam penyangga istana para dewa. Bukit-bukit yang membayang di kejauhan adalah benteng sebuah kota ajaib. Dan untuk menemaninya, Emily memiliki semua peri pedesaan, karena dia bisa mempercayai keberadaan mereka di sini. Para peri bunga semanggi putih dan bunga ekor kucing satin, makhluk-makhluk hijau kecil di rerumputan, para elf dari pohon cemara muda, para ruh yang menguasai angin, pakis liar, dan bunga ilalang. Apapun bisa terjadi di sana – apapun bisa menjadi kenyataan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar