Kamis, 21 Agustus 2014

Resensi Buku: Everyday


Penulis             : David Levithan
Penerbit           : Alfred A. Knopf
Tahun terbit     : 2012
Format             : E-book

Sebut saja namanya A. Dia mengisi hidupnya dengan berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya. A hidup dengan meminjam kehidupan tubuh yang dihinggapinya. A tidak pernah tinggal di tubuh yang sama dua kali. Pun tidak pernah tinggal lebih dari sehari.

Ketika malam menjelang dan tubuh yang ditinggalinya tidur, A akan terbangun di tubuh yang lain lagi. Selalu begitu setiap hari. Anehnya, ia hanya akan selalu tinggal di tubuh orang yang seumuran dengan dirinya. Tidak pernah tiba-tiba ia tinggal di tubuh yang umurnya lebih tua atau lebih muda dari dirinya.

Tidak ada yang tahu siapa A sebenarnya. A pun merahasiakan keanehan itu seorang diri. Ia sudah terbiasa dengan kehidupannya yang selalu berganti. Tidak ada orangtua, teman, saudara, yang bisa ia cintai selamanya. Ia terus berpindah.

Hingga pada hari ke 5994, A terbangung di tubuh Justin. Remaja laki-laki yang memiliki pacar bernama Rhiannon. Aslinya Justin tidak mencintai Rhiannon seperti Rhiannon mencintai Justin. Tapi ketika A tinggal di tubuh Justin, dia jatuh cinta pada gadis itu, dan melakukan yang seharusnya tidak dia lakukan.

Ketika tinggal di tubuh seseorang, A tidak boleh mengubah sifat atau sikap orang tersebut. Namun bersama Rhiannon, ia merasa tidak mungkin bersikap seperti Justin asli. Dia mencintai Rhiannon dan mengubah Justin yang Rhiannon kenal menjadi Justin yang perhatian dan mencintainya, meskipun hanya untuk sehari.

Setelah meninggalkan tubuh Justin, A terus mencari cara agar bisa bertemu Rhiannon, meski dalam tubuh yang berbeda-beda. Sesuatu yang belum pernah dilakukannya. A melakukan apa saja agar bertemu Rhiannon, termasuk membawa Nathan, tubuh yang ditinggalinya hari itu, ke pesta teman Justin, dan meninggalkan Nathan tengah malam di pinggir jalan.

Nathan yang tidak mengerti mengapa ia terbangun di pinggir jalan, dan yakin kalau ia habis dari pesta seseorang yang tidak dikenalnya, merasa dirinya mungkin telah dirasuki setan. Kejadian itu menjadi berita yang terus meluas dan membesar, membuat keberadaan A menjadi tidak aman.

Nathan terus meneror A melalui akun email pribadi A yang tertinggal di komputernya, sedangkan Rhiannon berharap bisa bertemu dengan A lagi, yang saat itu tinggal di tubuh Nathan. Kini A harus mencari cara, agar Rhiannon mengetahui dan menerima jati diri aslinya dan Nathan berhenti menerornya.

Everyday, buku David Levithan ketiga yang saya baca. Ceritanya sendiri mungkin agak bertema supranatural gitu kali ya? Karena saya sendiri pun masih bingung sebenarnya A itu bentuknya apa. Apakah semacam jiwa yang melayang-layang atau apa.

Yang jelas, Everyday adalah kisah cinta yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan kisah cinta supranatural yang sudah ada, seperti jatuh cinta pada Vampir, serigala, atau zombie. Masalahnya, si A wujudnya nggak jelas (menurut saya).

Bisa dibilang, ia hampir seperti parasit, yang menumpang di tubuh orang. Hanya saja, A memiliki kemampuan untuk mengakses ingatan dan kehidupan orang yang ditumpanginya. Jadi, ia bisa bersikap seperti orang tersebut tanpa mengubah apapun. Dan ketika A telah pergi, besok paginya, orang itu hanya akan ingat kejadian-kejadian yang ingin diingat A oleh orang itu.

Itulah kenapa Nathan ingat kalau dirinya datang ke pesta, meskipun ia tidak tahu mengapa ia datang ke pesta itu, dan tidak ingat siapapun yang ditemuinya. Ia ingat ia pulang kemalaman, namun tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu.

Ceritanya sendiri cukup mendebarkan sih. Selain kerumitan kisah cinta A dan Rhiannon, teror dari Nathan sebagai satu-satunya tubuh yang merasa dihinggapi A, bikin terus penasaran. Dan seperti biasa, banyak pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini lewat kalimat-kalimat David Levithan yang penuh makna. Saking banyaknya kalimat bagus, setiap ketemu langsung saya tulis, dan nggak pernah saya mengumpulkan quote dari buku sebanyak yang aku kumpulkan dari Everyday. Sampai nggak tahu mana yang paling saya suka.

Dibanding dengan buku yang saya baca sebelumnya, Dash and Lily’s Book of Dares, bahasa yang digunakan Levithan di Everyday lebih mudah dipahami, dan nggak banyak memakai American Slang. Cocok banget bagi yang ingin memulai membaca novel berbahasa Inggris. Happy reading!

Mungkin, salah satu kalimat yang bagus adalah ini:
gambar dari sini

 [Review ini diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge]




Senin, 11 Agustus 2014

Resensi Buku: Dash and Lily's Book of Dares



Penulis             : Rachel Cohn & David Levithan
Penerbit           : Alfred A. Knopf, New York
Tahun Terbit     : 2010
Format             : E-book


Dash, seorang remaja 16 tahun di Manhattan, menemukan sebuah buku catatan merah di antara buku-buku yang berada di toko buku The Strand. Di dalamnya, terdapat tantangan untuk menebak petunjuk agar ia dapat membuka halaman selanjutnya. Hampir semua petunjuk berkaitan dengan buku-buku. Hingga ketika ia berhasil menyelesaikan seluruh tantangan, ia memiliki pilihan, melanjutkan permainan bersama buku merah itu atau berhenti. Dash memilih melanjutkan.

Buku catatan itu, sebuah Moleskine berwarna merah, adalah milik Lily. Gadis seumuran Dash yang dikenal aneh dan tidak suka bersosialisasi. Ide Moleskine merah sebenarnya milik kakak lelakinya, Langston. Di liburan Natal kali ini, mereka hanya berdua di rumah karena orangtua mereka sedang merayakan ulang tahun pernikahan di Fiji. Langston merasa adiknya butuh sesuatu untuk dilakukan, dan munculah ide buku merah.

Pada akhirnya, Dash dan Lily melanjutkan permainan mereka melalui Moleskine tersebut. Berbagai tantangan dilakukan. Lalu berlanjut pada saling bertanya tentang apa saja. Mulai dari kejadian paling menyedihkan hingga hadiah yang diinginkan untuk Natal. Semua itu mereka lakukan tanpa bertemu sedikitpun. Pada setiap pesan yang dituliskan, tertera tempat di mana mereka harus meletakkan buku itu, agar ditemukan oleh yang lain. Tanpa disangka, Moleskine itu membawa Dash dan Lily pada petualangan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.


Pertama kalinya baca novel kolaborasi Rachel Cohn dan David Levithan, yang memang terkenal dengan novel Young Adult mereka. Dash and Lily’s Book of Dares sendiri adalah kolaborasi ketiga mereka setelah Nick and Norah’s Infinite Playlist dan Naomi and Ely’s No Kiss List.

Secara keseluruhan, saya sukaaaaa banget sama novel ini. Selain jalan ceritanya yang menakjubkan, maksudnya, yah nggak terpikir oleh saya kalau sebuah buku catatan bisa membawa dua orang ke dalam petualangan yang seru, novel ini juga mengangkat tema-tema khas remaja, seperti hubungan dengan orangtua, teman, keluarga, identitas diri, serta perasaan dan pemikiran yang rumit untuk dijelaskan.

Saya juga suka dengan sudut pandang yang digunakan di novel ini, yaitu POV Dash dan Lily secara bergantian. Menurut catatan di bagian akhir buku, Levithan dan Cohn bergantian menulis bagian Dash dan Lily melalui email yang dikirim tanpa outline yang dirancang sebelumnya. Wowww… maybe the real Dash and Lily is David and Rachel, hehehe…

Memang sih, ada beberapa bagian atau paragraf yang tidak saya pahami seutuhnya, karena saya baca versi bahasa Inggris. Juga ada banyak kosakata asing, mungkin American Slang, yang saya nggak tahu artinya apa. Sehingga, saya merasa butuh baca novel ini sekali lagi untuk lebih memahami makna yang berusaha disampaikan penulisnya. Tsaaah....

Karena sesungguhnya, banyak kalimat-kalimat bagus bertebaran di buku ini. Kalimat-kalimat yang membuat kita berpikir tentang hidup dan menjalani hidup. Satu yang paling saya suka adalah kalimat milik Dash.

“Maybe, I thought, it’s not distance that’s problem, but how you handle it.”

[Review ini diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge  2014]





Selasa, 05 Agustus 2014

Resensi Buku: The Lover's Dictionary



Judul        : The Lover’s Dictionary
Penulis     : David Levithan
Penerbit   : The Text Publishing Company, Australia
Format    : E-book


Seperti judulnya, Lover’s Dictionary adalah sebuah novel berbentuk kamus yang menceritakan kehidupan sepasang kekasih melalui arti kata-kata yang disusun sesuai abjad. Karena susunannya adalah susunan alphabet, bukan kronologis kejadian, maka kisahnya pun meloncat-loncat, dan kadang tidak berhubungan satu sama lain. Lagipula, sepertinya David Levithan memang tidak berniat menceritakan sebuah kisah runut. Melainkan benar-benar memaknai arti sebuah kata bagi sepasang kekasih.

Well, menurutku, ini buku yang sangat unik. Karena belum pernah menemukan yang seperti ini sebelumnya. Dan meskipun aku sempat bingung dengan siapa ‘I’ dan siapa ‘You’ (mana dari mereka yang laki-laki dan perempuan), dan apakah seluruh isi buku menceritakan sepasang kekasih yang sama atau berbeda, aku tetap menikmati kamus cinta ini. Belakangan, kupikir tokoh ‘I’ adalah laki-laki dan ‘You’ perempuan. Dan sepertinya, kamus ini menceritakan sepasang kekasih saja.

Satu hal, membaca Lover’s Dictionary membuatku (akhirnya) membuka Oxford Dictionary yang dibeli entah dari jaman apa, dan nggak pernah dibuka sama sekali, hehehe. Banyak kata-kata yang belum pernah kudengar sama sekali, dan ternyata artinya bagus-bagus.

Beberapa dari arti kata-kata yang aku suka:

clandestine , adj. 

Some familiarity came easy — letting myself laugh even though I guffaw, sharing my shortcomings, walking around the apartment naked. And some intimacy came eventually — peeing in the toilet while you are right there in the shower, or finishing something you’ve half eaten. But no matter how I try, I still can’t write in my journal when you’re in the room. It’s not even that I’m writing about you (although often I am). I just need to know that nobody’s reading over my shoulder, about to ask me what I’m writing. I want to sequester this one part of me from everyone else. I want the act to be a secret, even if the words can only hold themselves secret for so long.

ephemeral , adj.

I was coming back from the bathroom. You had just checked your email. I was walking to bed, but you intercepted me, kissed me, then clasped my left hand in your right hand and put your left hand on my back. We started slow-dancing. No music, just nighttime. You leaned your head into mine and I leaned my head into yours. Dancing cheek to cheek. Revolving slowly, eyes closed, heartbeat measure, nature’s hum. It lasted the length of an old song, and then we stopped, kissed, and the world resumed.

gravity , n. 
I imagine you saved my life. And then I wonder if I’m just imagining it.

[Review ini diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge 2014 ]