Senin, 23 Desember 2013

Lucky No.14 Reading Challenge



Baiklah, untuk pertama kalinya aku memberanikan diri untuk ikut sebuah Reading Challenge. 
Tantangan dari Mbak Astrid ini mewajibkan pesertanya untuk membaca paling sedikit 14 buku dari 14 kategori buku yang telah ditentukan, dan semua buku itu, kalau bisa berasal dari timbunan buku yang belum sempat dibaca.
Dengan ikut tantangan Lucky No. 14 ini, mudah-mudahan buku-buku yang sudah lama kubeli dapat segera kubaca, dan aku pun tidak dirundung rasa bersalah ketika ingin menimbun buku lagi, hehehe….
So, here’s the 14 categories :

1.      Visit the Country
Kategori ini mengharuskan kamu membaca buku dengan latar Negara yang ingin kamu kunjungi. Aku memilih The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick dan The Echanted Castle karya Edith Nesbit. Yang pertama berlatar Paris, dan kedua berlatar Inggris. Dua tempat yang sangat ingin aku kunjungi.

2.      Cover Lust
Baca buku yang waktu itu kamu beli karena jatuh cinta sama sampulnya. Jujur, aku bukan tipe orang yang mudah tergiur sama sampul. Jadi, amat susah mencari-cari buku mana yang waktu itu aku beli karena tergoda sama sampulnya. Ternyata ada, judulnya 100 Cupboards karya ND Wilson.

3.      Blame it on Bloggers
Baca buku yang kamu beli karena baca review buku itu dari blogger lainnya. Nah, kalau yang ini ada beberapa. Cukup banyak malah. Karena memang kebanyakan buku yang pengen aku beli, dan aku beli, itu idenya berasal dari review blogger buku yang aku baca. Untuk kategori ini aku memilih buku The Grey Labyrinth dan The Death to Come karya Tyas Palar. Sayangnya aku lupa blogger mana yang waktu itu aku baca reviewnya, saking udah lama.

4.      Bargain All The Way
Baca buku yang kamu beli karena bukunya muraaaah banget. Ini juga banyaaaak… aku sepertinya termasuk tipe penggila buku murah, dan cukup sabar menanti sampai buku yang aku inginkan menjadi murah atau di diskon. Untuk kategori ini, aku memilih Zona Aman Gorazde karya Joe Sacco. Karena dari sekian banyak buku murah yang pernah aku beli, buku ini memiliki harga paling murah, yaitu 7 ribu rupiah saja.

5.      (Not so) Fresh from the Oven
Baca buku yang saat kamu beli, adalah buku yang baru terbit, namun sampai sekarang belum juga dibaca. Aku agak jarang beli buku yang baru terbit, karena seperti yang sudah ditulis, aku cukup sabar menanti untuk membeli jika harganya sudah turun. Setelah dicari-cari, ternyata ada juga, Silverstone karya Ardina Hasanbasri. Buku ini termasuk buku yang udah lama banget di timbunan.

6.      First Letter’s Rule
Baca buku yang huruf awal judulnya sama dengan huruf awal namamu. Ternyata, susah juga ya nyari buku yang judulnya berawal huruf R. Ketemu sih akhirnya, tapi agak maksain. Aku punya buku Anak-Anak Kereta Api karya Edith Nesbit terbitan Gramedia. Kan judul aslinya Railway Children. Jadi, anggap saja itu sudah sesuai ya.

7.      Once Upon a Time
Baca buku yang diterbitin sebelum kamu lahir. Ada cukup banyak pilihan untuk kategori ini dari timbunan bukuku. Aku memilih The Great Gatsby karya Fitzgerald.

8.      Chunky Brick
Baca buku yang tebalnya lebih dari 500 halaman. Ya, untuk membaca buku setebal itu memang perlu usaha tersendiri. Kadang, semangat pas belinya aja, pas mau baca udah males duluan. Aku pilih Delirium karya Lauren Oliver dan Lady Chaterley’s Secret karya DH Lawrence.

9.      Favorite Author
Baca buku dari penulis favorit kamu. Penulis favoritku adalah Enid Blyton. Dan meskipun banyak bukunya yang sudah kubaca, tetap tidak sebanding dengan karyanya yang begitu banyak. Ada beberapa buku enid blyton yang akan kumasukan pada kategori ini, yaitu serial Pasukan Mau Tahu, Misteri Pondok Terbakar dan Misteri Kamar Tersembunyi, serta serial Sapta Siaga, yaitu Serikat Sapta Siaga dan Rahasia Jejak Bundar. Semoga saja yang kubaca lebih dari empat ini.

10.  It’s Been There Forever
Baca buku yang sudah tersimpan dan tak tersentuh di rak selama lebih dari setahun. Ada satu buku yang bernasib seperti ini di rak bukuku. Judulnya Isildur karya Brian Crawford. Dulu beli dari tahun 2011, dan sampai sekarang belum dibaca. Pernah sih disentuh bentar, untuk dikasih nama dan disampul. Terus dibaca beberapa lembar pertama. Abis itu nggak pernah disentuh lagi sampai sekarang, hehehe…

11.   Movies vs Book
Baca buku yang diadaptasi/akan diadaptasi ke film. Baik filmnya itu sudah kamu tonton atau baru direncanakan untuk ditonton. Entah kenapa, aku tertarik untuk nonton dan baca Breakfast at Tiffany’s.

12.  Freebies Time
Baca buku hadiah atau buku gratis yang kamu dapatkan. Ada tiga buku yang sesuai dengan kategori ini. Tapi hanya satu yang fiksi, yaitu Tetap Saja Kusebut (dia) Cinta karya Tasaro. Buku ini adalah hadiah ulang tahun ke 21 dari sahabatku, Aziyah Hazrina.

13.  Not My Cup of Tea
Baca buku dengan genre yang nggak kamu banget. Aku pilih A Tale Dark and Grimm karya Adam Gidwitz dan Until Forever karya Johanna Lindsey. Buku pertama, sejujurnya aku nggak suka buku yang bernuansa suram dan gelap, dan aku juga nggak ngerti kenapa aku beli buku itu. Yang kedua, aku juga nggak terlalu suka genre romansa, tapi penasaran juga. Jadi yah, kita coba saja.

14.  Walking Down the Memory Lane
Baca buku yang kamu suka banget waktu kamu kecil. Atau buku yang pengen banget kamu baca saat kamu kecil. Dulu, aku pengen banget baca buku Petualangan Tom Sawyer dan Huckleberry Finn. Sudah kesampaian sih sebenernya, dengan baca Petualangan Tom Sawyer terbitan Balai Pustaka (kalau nggak salah) pinjem dari perpus sekolah. Tapi aku tetep beli lagi buku itu, kali ini terbitan Bentang Pustaka (unsur ‘Pustaka’ nya tetep ada, hoho). So, aku akan bertualang lagi dengan Tom Sawyer. Sayang, aku belum nemu yang Huckleberry Finn.

Nah, itulah daftar ke 14 buku yang akan aku baca untuk Lucky No. 14 Reading Challenge. Semoga aku baca dan review semua yaa…



Jonathan Strange and Mr Norrell II

Penulis            : Susanna Clarke
Penerjemah    : Femmy Syahrani
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit     : 2009
Halaman         : 456

Keinginan Mr Norrell untuk menjadikan sihir kembali dipakai di Inggris mulai mendapat jalan. Namun, tidak sama halnya dengan keinginan untuk menjadi penyihir praktis satu-satunya di Inggris. Ternyata tidak hanya Mr Norrell yang memiliki kemampuan menyihir. Ada pria lain, bernama Jonathan Strange yang juga mampu menyihir.

Tidak seperti Mr Norrell, Strange hidup bersama istrinya, Arabella, dan memiliki kepribadian yang cukup ramah. Sebelum memutuskan menjadi penyihir, ia telah mencoba berbagai macam pekerjaan untuk ditekuni, namun tak ada satu pun yang bertahan lama. Tapi profesi penyihir ini berbeda. Jonathan Strange ingin serius mendalaminya, dan tanpa diduga, Mr Norrell bersedia menjadi gurunya.

Mereka berdua rutin bertemu dan belajar sihir bersama di rumah Mr Norrell, di Hanover Square. Studi itu membuat Strange hampir sama hebatnya dengan Norrell, jika saja Norrell mau meminjamkan lebih banyak buku sihir kepada Strange. Sayangnya, Norrell terlalu takut, jika muridnya lebih hebat dari dirinya. Jadi, sebelum Strange berguru dan melihat perpustakaannya, Mr Norrell memindahkan beberapa koleksi bukunya ke perpustakaan lama miliknya di Hurtfew Abbey.

Pada bagian lain cerita ini, terdapat kisah tentang Lady Pole, istri Sir Walter Pole, salah satu pejabat pemerintah kenalan Mr Norrell, yang pergi ke Negeri Hilang-Asa, bersama pria berambut ilalang. Di cerita sebelumnya, Lady Pole adalah seorang gadis yang telah mati dan dihidupkan kembali oleh Mr Norrell, sebagai salah satu pembuktian praktek sihirnya. Setelah kebangkitannya kembali, Lady Pole yang tadinya sakit-sakitan menjadi wanita yang sangat bugar dan sehat. Sayangnya itu tidak bertahan lama. Ia kembali jatuh sakit, bahkan kali ini lebih parah.

Tidak hanya Lady Pole, pelayan kulit hitam di rumah Sir Walter Pole, Stephen Black, juga menderita sakit yang sama. Sayang, karena dia hanya seorang pelayan, tak ada yang menyadari apa yang sebenarnya dia alami.

Penyakit Lady Pole dan perubahan pada diri Stephen Black masih menjadi misteri bagi tokoh-tokoh di novel ini. Termasuk Strange dan Arabella, yang berteman dengan Lady Pole. Di jilid kedua ini, porsi Strange menurutku lebih banyak dibanding Mr Norrell. Ada banyak bab yang bercerita tentang kepergian Strange ke Portugis dan Spanyol, untuk membantu tentara Inggris yang berperang melawan Napoleon. Tentu saja bantuan Strange adalah sihir.

Masih sama dengan buku sebelumnya, jilid kedua ini masih begitu menarik bagiku. Masih ada cerita dan legenda tentang sihir, kerajaan Peri, dan Inggris pada masa lampau. Namun, yang paling menarik adalah bagaimana Clarke menutup buku kedua ini dengan sesuatu yang menggemparkan (setidaknya seperti itu menurutku). Yang membuatku merasa bener-bener harus segera baca dan namatin buku ketiga. So, now I’m reading the third book..

Senin, 16 Desember 2013

Jonathan Strange and Mr Norrell


Penulis            : Susanna Clarke
Penerjemah    : Femmy Syahrani
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit     : 2009
Halaman         : 336


Bermula dari keinginan seorang penyihir dari kota York, John Segundus, yang berpikir seorang penyihir haruslah menyihir, bukan hanya mempelajari ilmu sihir dari masa lampau. Di perkumpulan penyihir York, Mr Segundus mendapat seorang kawan yang setuju akan ide itu. Mr Honeyfoot namanya. Berdua dengannya, Mr Segundus, pergi ke Yorkshire, menemui Mr Norrell di Hurtfew Abbey. Konon katanya, Mr Norrell, adalah seorang penyihir praktis. Bukan penyihir teoretis, seseorang yang hanya mempelajari sihir tanpa mempraktekkannya.

Mr Norrell sendiri, memang memiliki cita-cita besar. Dia ingin mengembalikan kejayaan sihir di Inggris, dan menjadikan sihir dipraktekkan di pemerintahan, untuk membantu menjayakan bangsa. Hal yang pertama dilakukannya adalah menunjukkan pada anggota perkumpulan penyihir York, kalau dia adalah seorang penyihir praktis, dan membuat mereka mengakui kalau mereka bukanlah penyihir.

Setelah melihat praktek sihir yang dilakukan Mr Norrell, para anggota perkumpulan terpaksa mengganti status mereka, menjadi bukan lagi penyihir, dan mengakui kemampuan Mr Norrell.  Kecuali John Segundus.

Di sisi lain, Mr Norrell, mulai bergerak untuk mewujudkan impiannya. Langkah pertama yang dilakukannya adalah meninggalkan York yang muram, menuju kota London yang ramai. Mengikuti berbagai jamuan dan pesta, berkenalan dengan para pejabat, aristokrat, dan menteri. Semuanya dia lakukan untuk meyakinkan mereka kalau sihir memiliki banyak manfaat bagi kejayaan Inggris, terutama di masa perang seperti sekarang.

Namun, itu bukanlah langkah mudah. Banyak hal yang harus dilakukan Mr Norrell. Salah satunya menyingkirkan penyihir gadungan bernama Vinculus, yang selama ini begitu terkenal sebagai penyihir di kota London.

Lalu bagaimana dengan Jonathan Strange?  Siapakah dia?

Hmmm… buku ini sebenernya udah lamaaaa banget aku liat di rak literatur Inggris di perpus. Sempet aneh juga, di antara buku-buku tebal berusia tua, terselip novel berbahasa Indonesia terbitan Gramedia, yang terlihat baru. Awalnya, nggak tertarik sama sekali dengan novel ini, karena bingung, itu judul apa nama penulisnya sih? Terus, entah kenapa, ngebayangin kalau ceritanya adalah tentang kisah fantasi aneh yang nggak menarik.

Eh, tapi di masa-masa terakhir pinjem buku perpus, nggak sengaja buka-buka halamannya. Setelah dibaca-baca sekilas, baru ngeh kalau ceritanya berlatar Inggris masa lampau. Dan bahasa terjemahannya pun bagus. Jadilah pinjem buku ini, dan ternyata ceritanya menarik.
Berlatar Inggris di awal abad ke 19, di mana –mungkin- kejayaan dan keajaiban sihir mulai memudar di sana. Penuh dengan cerita, mitos, legenda, dan sejarah yang berkaitan dengan sihir di Inggris, raja-raja, para penyihir, dan tokoh-tokoh terkenal. 

Sayangnya, karena aku sendiri belum tahu banyak tentang sejarah Inggris, terutama yang berkaitan dengan sihir, jadi yah, masih mikir-mikir, tokoh-tokoh yang disebutin itu, beneran ada atau cuma karangan si penulis aja. Tapi kalaupun itu emang beneran, nggak terlalu heran juga sih. Toh, sampe sekarang pun Inggris terkenal karena sihirnya, alias Harry Potter, hehehe…

Secara keseluruhan, aku suka cerita ini. Mungkin karena aku memang suka sejarah dan punya ketertarikan sendiri dengan Inggris. Sayangnya, meski judul novelnya adalah Jonathan Strange dan Mr Norrell, tapi cerita tentang Strange baru muncul di akhir-akhir. Membuat aku sempat bertanya-tanya, apa hubungannya ini semua dengan si Jonathan. Tapi baiklah, mungkin aku harus bersabar, karena novel ini ada tiga jilid. Dan ini baru jilid pertama.

Aku juga suka cara penulisnya menggambarkan sesuatu, terutama tentang kemuraman dan kesuraman Inggris di musim dingin. Cara mendeskripsikannya bagus. Selain itu, aku juga nemuin kata-kata –yang sebenernya nggak baru, tapi jarang dipakai- untuk nambah perbendaharaan kosakata, supaya nggak pakai kata yang itu-itu lagi. Dan sekaligus belajar juga untuk mendeskripsikan sesuatu.

Senin, 02 Desember 2013

Libri di Luca




Penulis                : Mikkel Birkergaard
Penerjemah         : Fahmy Yamani
Penerbit               : Serambi
Tahun Terbit       : Cetakan II, Desember 2009
Halaman              : 588


Apa yang kau pikirkan, ketika kau tahu ternyata selama ini ada orang-orang yang mengetahui apa yang sedang kau baca dalam hati, bahkan sampai mempengaruhi caramu membaca? Tidak cukup dengan itu, ada pula orang-orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain dengan apa yang dibacanya, dan kau adalah salah satu dari mereka.

Jon Campelli tidak pernah mengira sebelumnya, kalau dirinya adalah salah satu orang yang memiliki kemampuan khusus tersebut.

Jon, pria berusia 30an, keturunan Itali yang tinggal di Denmark. Ia adalah seorang pengacara muda yang sukses, hampir selalu memenangi kasus yang ditanganinya, namun hidup sendirian dan tidak dianggap oleh ayah kandungnya sendiri, Luca Campelli.

Luca adalah seorang lelaki tua pecinta buku, dan menghabiskan hidupnya dengan menjaga toko buku antik bernama Libri di Luca. Kematian Luca yang mendadak, mengubah jalan hidup Jon secara drastis. Mau tak mau, Jon harus turun tangan mengurus Libri di Luca, karena Iversen, sahabat Luca, merasa kalau Jon-lah orang yang paling pantas memiliki Libri di Luca.

Dugaan kalau Luca meninggal bukan karena serangan jantung biasa, membuat Jon akhirnya mengenal kelompok orang berkemampuan khusus tersebut. Mereka menyebutnya Kelompok Pecinta Buku. Kelompok itu terbagi dua, kelompok Pemancar, alias kumpulan orang-orang yang bisa mempengaruhi orang lain dengan bacaan yang mereka baca secara lisan (bukan dalam hati), dan kelompok Penerima, yaitu orang-orang yang bisa mengetahui apa yang sedang dibaca oleh orang lain meskipun dia membacanya dalam hati.

Dua puluh tahun lalu, kubu pemancar dan penerima tergabung menjadi satu. Namun, setelah beberapa kejadian, termasuk kematian Marianne, istri Luca, kelompok itu mengalami perpecahan, dan terbagi menjadi dua kubu.

Iversen, sahabat Luca, yang juga mengurus toko buku, merasa yakin, jika ada salah satu pihak, entah itu Pemancar atau Penerima, yang memang merencanakan perpecahan itu, serta bertanggungjawab atas kematian Luca. Iversen meminta Jon untuk menyelidiki kasus tersebut. Bersama Katherina, murid Luca yang juga ikut menjaga Libri di Luca, Jon pun mengurai rahasia-rahasia di balik kelompok Pecinta Buku, sekaligus menguak rahasia mengapa ayahnya tidak lagi menganggapnya anak sejak ibunya meninggal.

Dari awal, ceritanya sudah cukup seru. Mampu membuat aku penasaran, menunggu rahasia apa lagi yang akan keluar. Meskipun, sebagai pembaca, dari awal aku bisa menebak, siapa tersangka dari permasalahan itu. Sayangnya, tokoh-tokoh di situ, seolah-olah nggak bisa mengira siapa orangnya. Dan itu bikin aku gemes.

Ceritanya panjang, tapi nggak ngebosenin dan terus bikin penasaran. Sayangnya, di bagian akhir kok malah biasa aja ya? Membuat aku berkomentar, “begini aja nih?”

Tapi secara keseluruhan, cerita fantasi ini cukup unik, karena aku baru nemuin kekuatan yang aneh kayak gitu. Dan membuat aku berpikir-pikir, kalau beneran ada orang-orang seperti itu, bakal kayak apa ya dunia? Hehehe…