Selasa, 26 November 2013

Perang Eropa (jilid III)



Penulis             : P.K. Ojong
Penerbit           : Penerbit Buku Kompas
Tahun terbit     : Februari 2008
Halaman          : 394


Akhirnya, selesai juga baca seri sejarah Perang Eropa P.K. Ojong.

Di buku terakhir, diceritakan dengan detil persiapan Pasukan Sekutu menyerang Normandia dan kisah pertempurannya. Juga diceritakan perbedaan pendapat antara pihak Inggris dan Amerika dalam memutuskan cara penyerangan, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Amerika, karena didukung Soviet.

Jika di buku I dikisahkan asal muasal Hitler, di buku II dikisahkan tentang Mussolini, maka di buku III diceritakanlah kematian dua tokoh ini. Mussolini mati ditembak, sedangkan Hitler mati bunuh diri. Kedua penjahat perang itu mati dengan cara yang mengenaskan.

Buku ini lebih berkisah tentang detil pertempuran-pertempuran, terutama di front Barat. Meski ada juga dari front Timur. Khususnya saat tentara Sekutu telah berhasil masuk ke Jerman. Lalu kekalahan Jerman, kemenangan Sekutu, dan ditutup dengan pengadilan di Nuremberg, Jerman.

P.K. Ojong, sama seperti di dua buku sebelumnya, tidak sungkan-sungkan mengatakan kalau watak suatu Negara terlihat ketika perang. Dan karena perkara Inggris – Amerika sudah diceritakan di buku sebelumnya, di buku ini, aku lebih memperhatikan watak Soviet. Ya, ternyata mereka sangat kejam dan menyebalkan, khususnya Stalin.

Setelah membaca ketiga buku Perang Eropa ini, aku jadi penasaran dengan berbagai sejarah perang di dunia, khususnya yang terjadi di zaman modern. Walaupun setiap kali membaca tentang perang, selalu nggak habis pikir, kenapa orang-orang itu memutuskan untuk menyulut peperangan, dan nggak bisa membayangkan seperti apa rasanya jika hidup di masa perang.

Well, semoga akan ada lagi buku-buku sejarah perang terbitan bahasa Indonesia dengan kalimat senyaman milik P.K. Ojong, agar anak-anak muda Indonesia banyak belajar dan tidak mengulang salah yang sama.

Lihat review Perang Eropa I di sini.

Lihat review Perang Eropa II sini.

Senin, 11 November 2013

Gadis Jeruk


Penulis            : Jostein Gaarder
Penerjemah    : Yuliani Liputo
Penerbit          : Mizan
Tahun terbit     :Cetakan I, Edisi Gold, Juli 2011
Halaman         : 252


Georg Røed, anak lelaki Norwegia, berumur 15 tahun yang tiba-tiba mendapat surat dari ayahnya yang sudah meninggal 11 tahun yang lalu. Surat itu ditemukan neneknya, di pelapis kereta dorong milik Georg yang telah lama disimpan.

Surat itu ditulis ketika George masih berusia tiga tahun. Melalui surat itu, ayah Georg menceritakan dan menanyakan banyak hal. Tapi yang paling utama adalah kisah cintanya dengan seorang gadis misterius yang dia juluki Gadis Jeruk. Ayah juga menceritakan beberapa hal yang dilakukan Georg ketika masih kecil. Sesuatu yang sulit sekali diingat Georg meskipun dia telah berusaha keras.

Ayah juga menulis tentang Teleskop Hubble, galaksi, bintang, alam semesta, serta kecepatan terbang seekor tawon kumbang. Membaca surat ayah, membuat perasaan Georg berkecamuk. Banyak hal yang baru disadarinya setelah membaca surat itu.

Secara keseluruhan, kisah Gadis Jeruk ini terasa menyenangkan untuk dibaca. Kalimatnya tidak terlalu rumit. Dari segi penerjemahan juga bagus. Dan jika buku ini, seperti yang dikatakan, membahas hal yang berbau filsafat, maka mungkin ini bukanlah filsafat yang memusingkan. Tapi, karena aku bukan orang yang mengerti dan mendalami filsafat, maka kelebihan itu bukan hal terlalu menarik bagiku.

Bagiku, yang benar-benar menarik memang kisah si Gadis Jeruk itu. Ayah Georg seolah menghinoptisku juga dengan membuatku ikut membayangkan yang aneh-aneh tentang siapa sebenarnya si Gadis Jeruk. Sekaligus penasaran, dari sekian banyak sangkaan ayah Georg tentang Gadis Jeruk, yang manakah yang tepat. Atau setidaknya, yang hampir tepat.

Kisah Gadis Jeruk itu juga membuatku berpikir. Kalau kita menemukan orang yang kita sukai, sekecil apapun hal yang kita putuskan, memiliki pengaruh yang besar untuk jalan hidup kita selanjutnya. Mungkin jalan hidup kita akan berbeda seratus persen, jika kita memilih pilihan yang satunya. Who knows?

Minggu, 03 November 2013

Lolita


Penulis            : Vladimir Nabokov
Penerjemah    : Anton Kurnia
Penerbit           : Serambi
Tahun Terbit    : Maret 2008
Halaman         : 525



“Lolita. Cahaya hidupku, api sulbiku. Dosaku, sukmaku. Lo-li-ta: ujung lidah mengeja tiga suku kata, menyentuh langit-langit mulut, dan pada kali ketiga menyentuh deretan gigi. Lo. Li. Ta.”

Dibuka dengan kalimat awal yang tidak biasa, novel Lolita menyajikan cerita yang tidak biasa pula. Dianggap sebagai salah satu karya sastra paling berpengaruh di dunia, dan meskipun penulisnya menerbitkan beberapa novel lain, tapi Nabokov hampir selalu diidentikkan dengan Lolita.

Bercerita tentang seorang professor bernama Humbert Humbert, pria Eropa yang tinggal di Amerika, dan terobsesi pada gadis-gadis belasan tahun, yang disebutnya peri asmara. Tidak semua gadis belasan tahun sebenarnya, tapi hanya yang memiliki kriteria fisik tertentu yang dianggapnya layak dijuluki peri asmara.

Obsesi itu bukan tanpa sebab musabab. Dulu, ketilka dia masih belasan tahun juga, Humbert pernah jatuh cinta pada seorang anak perempuan sebayanya, bernama Annabel Leigh, yang akhirnya terpisah darinya dan meninggal. Ketika dewasa, bayang-bayang dan cintanya pada sosok mungil Annabel tetap ada, dan membuatnya suka memperhatikan gadis-gadis kecil. Mencari yang sosok yang layak disebut peri asmara.

Humbert membangun keluarga, namun tidak bahagia. Istrinya selingkuh dan akhirnya mereka bercerai. Professor itu tertekan dan masuk rumah sakit jiwa. Selepas dari masa pengobatannya, ia pergi ke New England, Amerika. Tinggal di sebuah penginapan di daerah Ramsdale, di mana ia akhirnya bertemu Lolita. Peri asmara yang begitu ia cintai.

Pada saat pertama kali bertemu, Lolita hanyalah anak perempuan berusia 12 tahun. Nama aslinya Dolores Haze, sering dipanggil Dolly atau Lo. Tapi Humbert memanggilnya Lolita, panggilan kesayangan. Setelah beberapa bulan tinggal di penginapan milik ibu Lolita, Charlotte Haze, diketahuilah kalau perempuan janda itu menyukai Humbert. Lewat surat, Charlotte meminta agar Humbert meninggalkan penginapan itu, atau menikahinya. Humbert memilih menikah, bukan karena ia juga mencintai Charlotte. Tapi karena ia ingin tetap dekat dengan Lolita.

Bagaimanapun terobsesinya Humbert terhadap Lolita, ia tak pernah sekalipun berhasil menyentuh gadis kecil itu. Semua perasaan dan kegilaannya ia tuangkan dalam catatan-catatan, yang pada suatu hari dibaca oleh Charlotte. Patah hati dan marah, Charlotte berjalan terburu-buru dan tertabrak truk di jalan depan rumahnya. Saat itu, Lolita sedang mengikuti perkemahan musim panas. Kecelakaan itu tidaklah membuat Humbert sedih, ia justru girang sekali karena akhirnya memiliki Lolita seutuhnya.

Dan setelah Charlotte pergi, dimulailah petualangan Humbert Humbert, sosok yang penuh cinta tapi tertekan, bersama anak tirinya, Lolita, yang cantik, menarik, tapi suka semaunya.

Tokoh utama, si Humbert, menurutku memang tokoh dengan kepribadian paling aneh yang pernah kutemui dalam novel-novel yang pernah kubaca. Bahasanya indah, detil, dan terlihat seperti sosok yang sangat tulus dalam mencintai. Tapi di lain sisi, dia adalah sosok pencemas, posesif, suka berprasangka buruk, tak jarang merencanakan hal buruk juga dalam pikirannya, tapi hanya sampai di pikiran. Tapi dengan segala keanehannya, malah membuatku simpati.

Sedangkan Lolita, yang digambarkan cantik dan menarik itu, tapi suka marah-marah, manja, dan juga centil, malah membuatku tidak simpati, meskipun mungkin ia berada dalam posisi yang tertindas. Terampas masa remajanya oleh ayah tirinya sendiri. Mungkin itu karena di kepala aku yang terbayang adalah sosok remaja tanggung, gadis ABG, yang cantik tapi songong kali ya? Jadinya yang ada, ya pokoknya nyebelin aja.

Tapi, yang paling penting, Nabokov keren banget bisa menciptakan tokoh dengan karakter yang sangat kuat dan unik itu. Terutama tokoh Humbert, karena semua alurnya, diceritakan dari sudut pandang dia. Kalimat-kalimatnya juga indah, meski nggak sedikit yang cukup sulit untuk kupahami. Dan ketika Time mengatakan Lolita adalah salah satu novel paling berpengaruh di dunia, bagiku itu tidak berlebihan.