Minggu, 22 September 2013

Resensi Buku: Musim Ceri di Bullerbyn




Judul Buku         : Musim Ceri di Bullerbyn
Penulis                : Astrid Lindgren
Penerjemah         : Purnawati Olson
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit       : Maret 1987
Halaman              : 120

Selamat datang di Bullerbyn! Desa indah yang terletak di ketinggian, tak terlalu jauh dari Storbyn, namun cukup jauh dari Stockholm. Di Bullerbyn, kau cukup memegang sapu untuk meraih bintang-bintang, ada banyak pohon ceri, anak kambing lucu, dan udang karang di danau. Di Bullerbyn juga, kau akan bertemu dengan Lisa, Brita, Anna, Olle, Bosse, Lasse, dan adik kecil Olle, Kerstin.

Musim Ceri di Bullerbyn adalah cerita anak-anak yang diceritakan dari sudut pandang anak-anak, dan berkisah kehidupan sehari-hari anak-anak di pedesaan Swedia pada tahun 1960-an. Dengan tokoh Lisa sebagai sudut pandang orang pertama, kita diajak menikmati keceriaan di Bullerbyn.

Banyak hal yang diceritakan Lisa, mengenai dirinya dan kelima sahabatnya. Mulai dari mengurus anak kambing, permainan bajak laut yang mereka mainkan sepulang sekolah, peristiwa cabut gigi, rahasia kotak wasiat, piknik dekat tebing, pesta pertengahan musim panas, berjualan ceri, mengurus adik kecil, serta menangkap udang karang di danau. Semuanya ditulis dengan ringan, polos, dan menyenangkan khas anak-anak. 

Waktu aku menemukan buku ini di perpus, tanpa pikir panjang, aku langsung ambil untuk dipinjam. Sudah sejak lama, aku ingin baca lebih banyak lagi tulisan Astrid Lindgren yang terkenal dengan cerita anak-anaknya. Sebelumnya, aku sudah pernah baca karya Lindgren lainnya, yaitu Madicken dan Lisabet dan Karl Si Hati Singa. 

Bukunya sendiri cetakan lama dari Gramedia. Harapannya sih, Gramedia kembali mencetak literature-literatur klasik anak dari seluruh dunia. Agar anak-anak sekarang memiliki alternatif kegiatan, yaitu membaca cerita-cerita bermutu, tidak hanya bermain game atau gadget lainnya.

Kamis, 12 September 2013

Resensi Buku: The Yearling (Jody dan Anak Rusa)



Judul Buku      : The Yearling (Jody dan Anak Rusa)
Penulis            : Marjorie Kinnan Rawlings
Penerjemah     : Rosemary Kesauly
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Maret 2011
Halaman          : 500



Ini adalah kisah setahun penuh dari seorang anak laki-laki bernama Jody, yang tinggal di tanah pertanian Florida pada akhir tahun 1800an. Jody dan kedua orangtuanya, Penny Baxter dan Ma Baxter, tinggal di Pulau Baxter, sebuah tanah yang cukup jauh dari keramaian penduduk dan juga sumber air.

Selama setahun, Jody melewati banyak hal, mulai dari menyiangi jagung, menemukan anak rusa, pergi barter bersama ayahnya, kehilangan sahabat, berhadapan dengan ular derik, terlibat perkelahian, berburu beruang tua, hingga merasakan pedihnya kelaparan di tengah sungai. Tapi yang teristimewa, tentu saja saat Jody menemukan seekor anak rusa kecil yang ditinggal mati induknya.

Saat itu, ayah Jody, Penny Baxter sedang berjalan di semak dan diserang ular derik. Penny bergerak cepat. Ia menembak seekor induk rusa dan mengambil hatinya, untuk kemudian dia tempelkan di tempat gigitan ular, agar racunnya terhisap. Induk itu meninggalkan seekor anak rusa jantan kecil, yang kemudian dibawa pulang oleh Jody.

Anak rusa itu dirawat oleh Jody dengan penuh kasih sayang. Selama ini, ia sangat menginginkan seekor peliharaan yang bisa dia rawat dan senang membuntutinya. Sayangnya, Ma Baxter tak pernah mengizinkan ia memiliki hewan peliharaan karena kehidupan keluarga mereka yang sudah sulit.

Namun, anak rusa itu perkara lain. Penny Baxter mengizinkan Jody memelihara anak rusa sebagai balasan karena induknya dibunuh untuk menyelamatkan Penny. Anak rusa yang terus tumbuh itu pun diberi nama Flag, nama yang diberikan FodderWing, sahabat Jody.

My Review

Novel ini adalah novel yang sangat panjang. Benar-benar menceritakan kehidupan setahun keluarga Baxter. Kalau dilihat dari alur cerita, mungkin rasanya membosankan. Tidak ada konflik utama, atau permasalahan besar yang harus diselesaikan yang menjadi benang merah cerita. Namun, deksripsi yang sangat mendetail tentang bagaimana keluarga Baxter menjalani hidup benar-benar menarik.

Aku sendiri, meskipun capek (karena saking tebal bukunya), tapi senang membaca buku ini. Karena benar-benar bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup di zaman dan tempat seperti itu. Tinggal jauh dari keramaian manusia, dekat dengan hutan dan hewan liar. Pekerjaan sehari-hari bertani, berburu, dan mengurusi hasil tani dan hasil buruan. Belum ada listrik, belum ada benda-benda elektronik, bahkan sistem barter masih berlaku.

Karakter Jody dan Penny Baxter juga sangat lovable. Terutama Jody, yang digambarkan sebagai anak laki-laki yang polos, penuh kasih sayang, selalu kelaparan, tidak fokus, dan suka meninggalkan pekerjaannya di pertanian. Di cerita itu, tidak dijelaskan berapa umur Jody, tapi kalau dikira-kira mungkin sekitar 10-12 tahun.

Selain nilai-nilai moral dan kehidupan yang terselip dalam cerita ini, membaca The Yearling juga mengajarkan kesabaran dan kesetiaan untuk menyelesaikan sebuah buku. ^^

Jumat, 06 September 2013

Resensi Buku: Sebastian Darke, Prince of Explorers



Judul Buku             : Sebastian Darke, Prince of Explorers
Penulis                    : Philip Caveney
Penerjemah             : Fransisca
Penerbit                   : Mizan Pustaka
Tahun Terbit           : September 2010
Halaman                 : 325



Seperti yang sudah kutulis sebelumnya, aku berjanji untuk menulis review buku dengan lebih baik alias nggak dirapel lagi.

Buku Sebastian Darke sendiri aku beli Agutus tahun lalu, tapi baru aku baca Agustus tahun ini. Yah, nggak tahu, kenapa awalnya aku nggak terlalu tertarik baca buku ini, dan beli hanya sekedar pengen punya aja, hahaha.

Sebastian Darke, makhluk setengah manusia setengah peri, melakukan perjalanan untuk menemukan kota yang hilang, bersama teman-temannya, Cornelius, prajurit seukuran kurcaci dan seekor buffalope yang bisa bicara bernama Max. Mereka melakukan perjalanan atas perintah pedagang kaya bernama Thaddeus Peel untuk mencari Legenda Mendip, kota yang hilang.

Perjalanan mereka tidak langsung ke kota Mendip, tapi mampir dulu ke Desa Jilith, di mana seorang sesepuh di sana dikabarkan pernah masuk ke kota Mendip. Namun, tiga sekawan itu tidak bisa serta merta mendapatkan keterangan mengenai kota yang hilang tersebut. Mereka harus membantu kaum Jilith untuk melawan musuh mereka, kaum Gograth yang terkenal jahat dan kejam.

Sebastian Darke ini serial fantasi, bercerita tentang daerah antah berantah, dengan tokoh dan makhluk yang antah berantah pula. Di awal, agak sulit mengikuti cerita ini karena buku yang aku punya adalah seri ketiga. Jadi, ada beberapa tokoh dan daerah yang sering disebutkan, tapi aku nggak ngerti maksudnya apa.

Namun, semakin lama baca buku ini, semakin terhanyut sama kisahnya si Sebastian. Banyak hal seru dan menegangkan dalam petualangan mereka yang bikin aku susah ninggalin buku itu sebelum selesai. Dan Max, makhluk yang di dunia nyata seperti kerbau ini, amat sangat lucu. Kerjaannya makan dan mengeluh, tapi entah kenapa, Caveney bica mengemasnya jadi sangat lucu dan bikin ketawa geli.

Dari segi cerita dan penceritaan, menurut aku, Caveney menyajikannya dengan menarik dan apik. Adegan pertempuran, perjalanan di hutan, dan sebagainya, digambarkan dengan jelas, seolah-olah bisa melihat langsung. Tokoh-tokoh di dalamnya juga memiliki karakter yang kuat, terutama 3 tokoh utama itu. Buat aku, buku ini bagus untuk dijadikan salah satu contoh menulis cerita fantasi petualangan yang baik.