Kamis, 26 Juli 2012

Resensi Buku: Midnight for Charlie Bone


Penulis               : Jenny Nimmo
Penerjemah        : Iryani Syahrir
Penerbit             : Ufuk
Halaman            : 407

Buku ini sebenernya udah lama banget saya beli. Waktu Indonesia Book Fair bulan Desember 2011 lalu. Tapi, karena pas baca bagian awal cerita ini, nggak menarik hati saya untuk melanjutkannya, maka saya pun tidak lagi menyentuh buku itu, sampai liburan semester 4 tiba. Dan menamatkan membacanya menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk saya.
Midnight for Charlie Bone berkisah tentang Charlie, sang tokoh utama, anak lelaki berumur sepuluh tahun, yang tidak tahu kalau dirinya memiliki kekuatan yang tidak biasa. Oh ya, genre novel ini adalah fantasi anak-anak. Sekilas, agak sedikit mirip dengan Harry Potter. Tokoh utama seorang anak laki-laki, memiliki kekuatan tidak biasa, dan dikirim ke sekolah asrama khusus, serta menjadi jagoan untuk melalui serangkaian masalah.
Dalam kehidupan sehari-harinya, Charlie tinggal bersama ibunya, nenek dari pihak ibu, yang ia panggil Maisie, dan nenek dari pihak ayah yang dipanggil Nenek Bone. Ayah Charlie dikabarkan telah meninggal ketika ia masih kecil. Charlie memiliki sahabat karib, Benjamin, yang tinggal di dekat rumahnya, dan anjing peliharaan Benjamin bernama Runner Bean.
Ternyata, Charlie itu memiliki kekuatan yang diturunkan secara turun temurun oleh keturunan Raja Merah. Ia bisa mendengar suara dari sebuah foto. Menyadari hal itu, nenek Bone, mengharuskan Charlie untuk sekolah di Bloor’s Academy, sekolah asrama di mana anak-anak yang memiliki kekuatan tidak biasa tinggal.
Saya agak lupa cerita awalnya gimana, karena bacanya udah lama, dan saya nggak mau ulang baca lagi. Yang jelas, Charlie ini mendapat sebuah kotak misterius dari Miss Julia Ingledew. Kotak itu milik kakak Miss Julia, Dr Tolly, yang rela menukar anaknya sendiri untuk mendapatkan kotak itu. Nah, intinya, tugas Charlie adalah menemukan anak Dr Tolly, yang ternyata adalah anak perempuan seusia dirinya, yang dikabarkan berada dalam pengaruh hipnotis seseorang.
Menurut saya, cerita Charlie ini, pada awalnya sangat membosankan. That’s why, saya pernah meninggalkannya. Tapi, karena beberapa blogger buku pernah mereview buku ini, dan komentarnya cukup bagus, maka saya pun berniat menamatkannya dan berhasil! Yeay!
Baru kerasa seru, pas Charlie udah masuk di Bloor’s Academy, dan bertemu dengan teman-teman yang juga memiliki kekuatan aneh. Tapi tidak semua murid Bloor’s Academy punya kekuatan aneh sih, hanya beberapa. Di sinilah, Charlie, bersama teman-temannya, berusaha mengungkap misteri kotak Dr Tolly, berusaha menemukan anak perempuannya, dan menyadarkannya.
Saya sendiri menyukai beberapa teman Charlie yang menyenangkan, seperti Fidelio dan Olivia. Kalau Benjamin, entah kenapa, yang ada di kepala saya, adalah anak lelaki gendut berwajah melas, yang lemot. (aduh, kasian amat ya?) 
Saya juga suka sama kekuatan-kekuatan yang dimiliki keturunan Raja Merah. (Ohya, legenda Raja Merah sendiri ditulis di halaman pertama, sebagai prolog, sekaligus clue.) Misalnya, ada Paman Paton yang bisa menyalakan lampu dengan tubuhnya. Ada Gabriel, yang bisa mengetahui ‘rasa’ barang-barang yang dipakainya. Ia tahu mengenai sejarah suatu barang, siapa yang memakainya, dengan hanya menggunakan barang itu. Ada juga Billy yang bisa berkomunikasi dengan binatang. Buat saya, yang paling seru itu kekuatan Charlie dan Gabriel.
Kalau ditanya, ingin jadi siapa di cerita Charlie Bone ini, saya ingin menjadi Miss Julia Ingledew. Dia bekerja di toko buku miliknya sendiri, yang dipenuhi dengan tumpukan buku-buku tua nan usang. Seru banget rasanya, menghabiskan waktu bersama buku-buku yang menceritakan kisah masa lalu.
Cerita Charlie Bone ini berseri, hingga buku ke enam. Dan saya baru lihat buku keduanya di Indonesia. Di negara asalnya, sudah ada enam bukunya. Oh ya, saya cukup tertarik dengan penulisnya, Jenny Nimmo, karena tinggal di Wales dan menjadikan daerah itu sebagai inspirasinya. Dari dulu, saya memang tertarik sekali dengan daratan Britania Raya.
Selamat puasa!

Sabtu, 14 Juli 2012

Resensi Buku: Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan


Penulis              : Tasaro GK
Penerbit            : Bentang
Tahun Terbit     : Cetakan I Maret 2010, Cetakan IX Mei 2012
Halaman           : 533


Bagi saya, memiliki novel biografi Muhammad karya Tasaro adalah sebuah pencapaian tersendiri. Sebabnya, sudah lama sekali saya ingin memiliki buku itu. Namun, karena keadaan kantong yang tidak memungkinkan, membuat saya harus lebih berusaha dan bersabar, menunggu hingga bookfair di Senayan tiba, berharap ada diskon untuk buku itu. Memang ada diskon, tapi tidak sebesar yang saya harapkan. Tapi toh, saya berhasil membawa buku itu pulang. ^^

Sebelumnya, saya memang sudah membaca resensi novel itu. semua resensi mengatakan kalau buku itu bagus dan sangat layak dibaca. Teman-teman yang sudah membaca pun mengatakan kalau buku itu bagus sekali. Ditambah lagi, saya pernah bertemu dan sangat mengagumi penulisnya, maka saya semakin ingin untuk memilikinya, tidak sekedar membaca saja.

Novel Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan ini, bercerita tentang dua kisah. Tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan seorang lelaki Persia bernama Kashva, yang hidup di abad yang sama dengan masa kenabian.

Kashva, lelaki yang hidup di Kuil Gunung Sistan pada masa pemerintahan Kaisar Khosrou, menghabiskan hari-harinya dengan mengamati bintang dan menerjemahkannya, sekaligus menulis kisah-kisah indah yang memukau. Ia dijuluki rakyat Persia, Sang Pemindai Surga.

Selain mengamati bintang dan menulis, Kashva jiga rajin berkorespondensi dengan teman-temannya dari berbagi Negara di luar Persia. Khususnya Elyas, seorang penjaga Biara Bashra di Suriah. Mereka membincangkan mengenai seseorang yang kehadirannya diramalkan oleh berbagai keyakinan di dunia. Seseorang yang dikatakan akan menaklukan dunia dan membawa kedamaian bagi seluruh alam. Rasa penasaran, keinginan memurnikan ajaran Zarduhst, dan keinginan bertemu dengan Elyas, membawa Kashva pada petualangan panjang yang jauh di luar dugaannya. Berbagai peristiwa terjadi di luar keinginannya, beberapa rahasia terkuak mengejutkan hatinya, dan semuanya, seolah memperjauh jarak yang harus ditempuhnya menuju Suriah.

Di novel pertamanya, kisah Kashva memang masih menggantung. Terakhir kali, ia terdampar di negeri atap langit bersama Mahsya, Xerxes dan Vakhsur. Orang-orang yang muncul selama pelariannya. 
Kisah Kashva ini berseling dengan kisah Nabi Muhammad SAW. Untuk kisah Rasulullah, tidak akan saya ceritakan di sini. Saya hanya ingin menuliskan tentang keistimewaan novel ini dibanding dengan buku Sirah Nabawiyah atau kisah-kisah nabi yang pernah saya baca.

Tasaro, dalam tulisannya, menjadikan Nabi Muhammad, sebagai tokoh yang diajaknya bicara. Seolah ia sedang ‘curhat’ kepada Rasulullah. Saya kurang mengerti itu gaya sudut pandang apa. yang jelas, gaya seperti itu membuat saya merasa ikut memiliki kedekatan personal kepada Rasulullah. Mungkin karena itu juga lah, bagi saya tulisan Tasaro lebih mengharu biru dibanding penulis lain.

Membaca kisah Nabi Muhammad SAW, memang akan selalu membawa keharuan dan kerinduan sendiri. Tapi Tasaro, seolah menambah beban rindu itu semakin menjadi. Terlebih, ia sendiri tak pernah memanggil Rasulullah dengan namanya, melainkan dengan julukan-julukan yang memang pantas disandang Rasulullah. Contohnya, Duhai yang Hatinya Bercahaya, wahai Lelaki yang Jitu Perhitungannya, dan beberapa julukan lainnya.

Satu lagi, karena buku ini bukan buku biografi biasa, tetapi lebih seperti novel, maka pencitraan latar kisah pun terasa semakin hidup dengan deskripsi yang detil lewat kata-kata yang indah.
Tasaro, dengan caranya telah menunjukkan kecintaannya kepada Kekasih Allah, Muhammad SAW. Dan dengan caranya pula, telah membawa saya semakin mencintai Rasulullah. Satu-satunya lelaki mulia yang patut diteladani segala tingkah lakunya.

Ya Rasul, lumpuh aku karena rindu….

Resensi Buku: For One More Day (Sehari Bersamamu)


Penulis                : Mitch Albom
Penerjemah         : Olivia Gerungan
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit       : Desember 2007
Halaman             : 245

Satu lagi buku yang berhasil saya bawa pulang dari Jakarta Bookfair adalah novel Mitch Albom ini. Sama seperti novel Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan, saya sudah lama menginginkan bukunya Mitch Albom, terutama yang berjudul Five People You Meet in Heaven. Tapi, ternyata judul itu tidak ada, maka beli yang ada dulu lah, hehehe…

Satu Hari Bersamamu mengisahkan Charley Benetto, mantan pemain bisbol yang gagal dalam rumah tangganya, dan tidak diundang di pernikahan putri semata wayangnya. Kenyataan itu semakin menghempaskan Charley, membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang sia-sia. Ya, semenjak bercerai, Charley menghabiskan hari-harinya dengan minuman keras.

Pada malam gerimis, ia meninggalkan tempat tinggalnya dengan membawa sepucuk pistol. Mobilnya ia lajukan, dan tanpa ia sangka, sebuah truk menabraknya, membuatnya terpelanting, jatuh, tidak sadarkan diri, dan mengira Tuhan telah mengabulkan keinginannya. Tapi Charley ternyata tidak mati. Ia kembali ke lapangan bisbol, di kota masa kecilnya, di pagi yang cerah, dan melihat ibunya, yang telah meninggal delapan tahun silam!

Pada awalnya, Charley tak percaya. semuanya terasa begitu nyata. Ia kembali lagi ke rumah lamanya, rumah ibunya, dan menemukan semuanya tampak seperti sedia kala. Suasananya sama seperti dulu, pagi saat ia hendak berangkat sekolah dan ibunya memasak di dapur. Ibunya memasakkannya makanan, dan meminta kesediaan Charley untuk bersamanya sehari saja.

Kejadian selanjutnya, semakin membingungkan Charley. Setelah menyelesaikan sarapannya, Charley diajak ibunya ke rumah salah seorang temannya, Rose. Memperhatikan ibunya mengurus penampilan seorang nenek tua yang sebaya dengan umur ibunya. Lalu kunjungan selanjutnya, seorang pembantu rumah tangga yang pernah bekerja di rumah Charley saat ia masih kanak-kanak, Miss Thelma. Tubuh yang dulu sigap mengerjakan pekerjaan rumah itu kini telah lemah tak berdaya, namun tetap ceria saat ibu Charley mendandaninya. Ya, dulunya, ibu Charley adalah seorang juru rias.

Buku ini mengisahkan tiga kunjungan yang dilakukan Charley bersama ibunya. Kunjungan yang disertai obrolan dan kisah yang tak pernah diketahui Charley tentang ibunya. Beserta penyesalannya karena banyak hal yang tak sempat dilakukan Charley untuk ibunya.

Selain bercerita tentang kunjungan aneh, novel ini juga menceritakan kilas balik mengenai seorang Charley Benetto, sejak ia kecil sampai kecelakaan itu berlangsung. Juga ada potongan-potongan kisah yang berjudul ‘Saat Ibu Membelaku’ dan ‘Saat Aku Tidak Membela Ibu’ milik Charley.

Novel ini, seolah mengingatkan kepada kita, bahwa waktu yang kita miliki bersama orang yang kita cintai, tak pernah kita tahu sampai mana batasnya. Kadang berakhir, di saat yang begitu tak terduga, menyisakan kepedihan dan penyesalan atas banyak hal yang belum sempat kita lakukan.
Selain itu, tentu saja, tentang cinta seorang ibu, yang hadir dalam beribu bentuk, yang kadang tidak kita sadari, tidak kita ketahui. Cinta yang apa adanya, mencintai dengan tulus apapun keadaan anaknya, dan selalu mengusahakan yang terbaik.

Lewat For One More Day, Mitch Albom mengingatkan kita, agar menghargai waktu dan hidup yang kita miliki, terutama waktu bersama dengan orang-orang yang kita cintai, terlebih bersama wanita yang telah membawa kita ke dunia. Karena satu hari bersamanya setelah ia pergi, mungkin tak pernah benar-benar ada.