Jumat, 22 Juni 2012

Kisah Juliet abad 21



Judul Buku : Juliet (Kisah Modern Romeo dan Juliet)
Penulis : Anne Fortier
Penerjemah : Linda Boentaran
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : Cetakan I, 2012
Halaman : 705 

Percayakah kalau kisah Romeo dan Juliet benar-benar pernah terjadi, dan bukan di Verona seperti yang ditulis oleh sastrawan Inggris, William Shakespeare, tetapi di Siena? Dan percayakah, kalau Shakespeare bukanlah orang pertama yang menulis cerita tentang Romeo dan Juliet? Lalu, pertengkaran keluarga itu, bukan pertengkaran antara kelarga Romeo dan Juliet, melainkan dengan sebuah keluarga lain. Semuanya dikisahkan dengan indah dan menegangkan oleh Anne Fortier di dalam bukunya, Juliet.
Bermula dari seorang Juliet di abad 21, Julie Jacobs, yang mendapati ibu adopsinya, Bibi Rose, meninggal, dan hanya meninggalkan secarik surat berisi pesan aneh untuknya, dan rumah mewah untuk adik kembarnya, Janice. Pada awalnya, ia sangat cemburu pada adiknya, yang dianggapnya tidak lebih berhak untuk mendapatkan rumah mewah tersebut. namun, Umberto, pelayan, seklaigus lelaki kepercayaan Bibi Rose, mengatakan padanya, bahwa surat dan pesan aneh itu, bisa saja jauh lebih berharga dari rumah mewah untuk adiknya, semacam harta karun, dan ia percaya. Maka terbanglah Julie, ke Italia. 
Italia adalah tempat di mana ia dan adik kembarnya berasal. Di sana juga keluarga ibunya, dan seluruh kisah masa lalu mereka tersimpan. Dahulu, ibu Julie, Diane Tolomei, sangat tergila-gila pada cerita Romeo dan Juliet-nya Shakespeare, dan percaya kalau kisah itu nyata. Nayata terjadi pada leluhurnya berates tahun silam. Dan ia meyakini, ada sebuah kutukan, yang akan menimpa kedua putrinya, yang dianggapnya sebagai jelmaan Juliet masa lalu. Namun sayang, Diane harus mati muda dan meninggalkan kedua gadis kecilnya, yang saat itu masih berumur tiga tahun, bersama pesan misteriusnya.
Julie, memulai petualangannya di Italia, dengan nama Giulietta Tolomei, nama asli miliknya. Bertemu dengan wanita super ramah bernama Eva Maria Salimbeni, dan anak baptisnya, Alessandro Santini. Di Italia, ia melakukan penelusuran pertama, yaitu bertemu dengan penasihat keuangan bernama Francesco Maconi, yang memberinya kotak milik ibunya, yang ia pikir adalah harta karun itu. namun, Julie terpaksa menerima kekecewaan sekali lagi. Isi kotak itu bukan emas berlian seperti yang ia pikirkan. Hanya bertumpuk-tumpuk kertas. Seperti surat-surat, buku harian, dan buku Romeo dan Juliet karya Shakespeare, beserta sebuah kartu indeks. Pada awalnya, semua itu terasa aneh baginya. Namun, satu persatu kepingan puzzle mulai berada di tempatnya, dan ia menemukan banyak sekali hal, tentang masa lalu, dan tentang dirinya sendiri.
Novel ini panjang sekali. Rasanya, sulit sekali menulis ringkasannya di sini, kecuali mengahbiskan lebih dari sepuluh halaman. Jadi saya hanya menulis kisah awalnya saja. dan semua hal yang ditanyakan di paragraph awal tadi, bisa ditelisik lebih jauh dengan membaca keseluruhan isi bukunya. (bilang aja males, hehehe…)
Meskipun buku ini sangat tebal, tapi sama sekali tidak membosankan. Selain bahasa terjemahannya yang mudah dipahami (untuk hal ini, saya pikir, Qanita adalah salah satu penerbit yang sering menerjemahkan karya-karya asing dengan baik), setiap bab nya memberi satu kenyataan baru, yang kadang menyesakkan dada. Atau malah, mengundang pertanyaan yang begitu menyiksa, ‘apa yang terjadi selanjutnya’. Maka begitulah, tebalnya buku ini seperti tak terasa lagi. Terlebih, alur ceritanya yang berseling, antara kejadia di abad 21, dan kejadian di abad 14. Satu lagi, dengan buku ini, pembaca seperti diajak untuk berwisata di Italia. Penulis beigut piawai menceritakan detil setiap tempat, juga segala sesuatu yang berkenaan dengan sejarah dan adat istiadat Italia, terutama Siena.
Hal ini, sedikit banyak membuat saya tertarik dengan sejarah dan kebudayaan Italia, dan berharap, bisa sekali saja mengunjunginya, hehehe… Btw, saya sendiri belum pernah membaca kisah Romeo dan Juliet karya Shakespeare, ataupun menonton film yang terinspirasi karya tersebut. Tapi, tetap bisa nyambung dengan novel itu kok.
Oya, saya membaca buku ini seharian penuh, ketika saya diharuskan bedrest karena terjangkit typhus. Karena tidak ada lagi yang bisa (boleh) dikerjakan, maka yang saya lakukan hanya membaca buku di atas kasur. Tidak bisa makan makanan yang menyenangkan. Tidak boleh pergi ke mana-mana, dan tidak ada tidur larut malam. (kenapa jadi curhat? :p)
Oya, terima kasih banyak buat temen baik saya, Awwa, yang sudah berbaik hati meminjamkan buku Juliet-nya pada saya. Maaf, nginep di rumah terlalu lama. Hope you have a fun holiday! Surely, I miss you…

Resensi Buku: The Lady and The Unicorn


Judul Buku : The Lady and The Unicorn
Penulis : Tracy Chevalier
Penerjemah : Pepi Smith
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Februari 2007
Halaman : 290

Cerita berlatar Prancis abad 15 ini berkisah tentang seorang pelukis bernama Nicolas des Innocents yang disuruh melukis sketsa untuk permadani yang akan dipajang di keluarga bangsawan Paris, bernama Jean Le Viste. Pada awalnya, Jean Le Viste meminta Nicolas untuk membuat lukisan mengenai peperangan, yang penuh dengan lambang keluarganya, dan menang. Namun, akibat campur tangan putri sulung Le Viste, Claude, dan juga istrinya, Geneviève de Nanterre, lukisan yang tadinya bergambar penuh darah, tombak, dan kuda, menjadi lukisan tentang Unicorn dan Lady.
Tidak sebatas lukisan tentang Unicorn dan Lady, namun sebuah lukisan yang berkisah tentang pertemuan Lady dengan Unicorn, dan pada akhirnya, sang Unicorn berlabuh di pangkuan sang Lady. Dalam kisah itu, dipercaya bahwa tanduk Unicorn dapat memurnikan kembali sumur yang telah teracuni. Dan Nicolas, dengan kemampuannya memikat hati wanita, nyaris berhasil mendapatkan tubuh Claude.
Mengetahui akan bahaya yang mungkin dialami putrinya, Genevieve menyuruh dayangnya untuk membawa Claude, ke gereja, jauh di luar Paris. Untuk menjaga kehormatannya, agar tidak jatuh pada lelaki biasa, apalagi pelukis seperti Nicolas. Sedangkan Nicolas, disuruhnya ke Brussels bersama Leon Le Vieux, pesuruh keluarganya. Mereka berdua menemui penenun permadani bernama Georges de la Chapelle, untuk kembali ‘melukis’ lukisan Nicolas dengan benang-benangnya.
Di Brussels, Nicolas kembali menjerat wanita. Kali ini Alienor, putri bungsu Georges de la Chapelle, yang ternyata bermata buta. Namun, itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan tubuh gadis itu. Butuh waktu lama memang, karena Alienor bukan wanita yang mudah terkena bujuk rayu, dan ia tipe gadis pendiam.
Kisah itu terus berlanjut. Mulai dari kehidupan Claude di gereja, dan pertemuannya dengan Claude kecil, Jean Le Viste yang mendadak meminta agar tenunan permadani selesai lebih cepat dari pesanannya, kehamilan Alienor, usaha Nicolas untuk bertemu kembali dengan Claude, dan pada akhirnya, setiap tokoh di dalam cerita itu memiliki endingnya sendiri-sendiri. Lalu apa hubungannya dengan lukisan Nicolas tentang Lady dan Unicorn? 
Tentu saja ada hubungannya. Namun,sepertinya lebih seru kalau dibaca dan dipahami sendiri, hehehe…
Hal paling menarik dari buku ini, menurut saya, adalah gaya berceritanya. Hampir semua tokoh di cerita ini, memiliki kesempatan untuk bercerita. Jadi setiap berpindah dari satu sub bab ke sub bab selanjutnya, kita akan menemui sudut pandang dan perasaan yang berbeda. Meskipun cerita itu tetap berkesinambungan, namun, kadang seperti ada yang hilang dari bagiannya, karena ‘terpaksa’ berpindah ke tokoh lain. Saya sempat penasaran dengan apa yang terjadi dengan salah satu tokoh, saat cerita itu mengalir ke tokoh lainnya. Tapi, baiklah, mngkin itu keunikannya.
Selain itu, tentu saja, karena novel ini adalah historical fiction, maka pembaca akan sedikit banyak mengetahui tentang kehidupan bangsawan Paris pada abad 15, kehidupan penenun permadani di Brussels, berikut bagaimana cara mereka menenun. Penulisnya sendiri mengakui kalau cerita ini memang benar-benar terinspirasi dari permadani Lady dan Unicorn yang dibuat pada abad abad 15, dan ditemukan kembali pada abad 19. Dibeli oleh pemerintah Prancis dan dipajang di Musèe de Cluny (sekarang Musèe national du Moyen âge) di Paris. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai permadani tersebut, bisa mengunjungi website penulisnya, yaitu  HYPERLINK "http://www.tchevalier.com" www.tchevalier.com
Selamat Membaca

Oya, ada yang ketinggalan. Satu hal lagi, saya suka buku ini, karena halamannya yang cukup lebar dengan font huruf berukuran cukup besar. Sehingga tidak membuat sakit mata pembacanya, dan dapat dibaca sekali duduk saja. Saya membaca novel itu malam hari, sampai larut, di tengah masa UAS. (masih sempet, hehehe). Dan buku ini adalah buku pinjaman dari perpustakaan yang selalu membuat saya tersesat.