Kamis, 15 Februari 2018

Menggali Sumur dengan Ujung Jarum



Penerjemah: Tia Setiadi

Penyunting: Addin Negara

Penerbit: Diva Press

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, April 2015

Halaman: 208

ISBN: 978-602-255-852-1



Menggali Sumur dengan Ujung Jarum; Segenggam Kisah dan Ceramah Para Maestro Sastra Dunia. Seperti judulnya, buku ini berisi kumpulan cerita dan pidato para peraih Nobel Sastra.


Ini kali pertama saya mencoba membaca buku sastra yang ‘nyastra banget’ buat saya. Jujur saya, sampul buku ini berhasil membuat saya penasaran apa saja sih cerita-cerita tersebut dan seperti apa sebetulnya tulisan-tulisan para peraih Nobel Sastra.


Cerita pertama dan kedua dari Gabriel Garcia Marquez yang sempat membuat saya ingin menaruh kembali buku ini dan melupakan keinginan membacanya. Saya sama sekali tidak paham apa maksud Marquez dalam ceritanya yang berjudul “Eva dalam Tubuh Kucingnya” dan “Sepasang Mata Anjing Biru”. Tetapi karena tidak semua isi buku ini dari Marquez dan saya terlanjur penasaran dengan seluruh isinya, saya lanjutkan kembali membaca.


Di cerita ketiga, saya cukup suka dengan “Pencarian Avveroes” karya Jorge Luis Borge meski bukan favorit saya. Cerita keempat, ada Orhan Pamuk dengan karyanya yang berjudul “Kerabat Jauh; Seorang Pemuda Membeli Sebuah Dompet untuk Tunangannya”. Isi ceritanya sudah cukup diwakili oleh judul yang panjang tersebut. Salah satu cerita yang cukup menarik bagi saya dan pesannya pun dapat saya tangkap.


Cerita kelima ada “Suatu Hari yang Dingin” dari William Saroyan. Meskipun baru di buku ini saya mendengar (dalam hal ini membaca) nama William Saroyan, inilah cerita favorit saya di buku ini. Kisahnya sungguh sederhana, tentang penulis yang berusaha menulis apa yang dia pikirkan di hari yang amat sangat dingin dan dia tidak punya pemanas kecuali dengan membakar buku-buku koleksinya.


Lima bagian selanjutnya adalah esai dan pidato dari Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Naguib Mahfouz, dan Seamus Heaney. Saya paling suka dengan pidato Orhan Pamuk yang berjudul “Koper Ayah Saya”. Di situ, Orhan Pamuk bercerita tentang kegelisahannya akan koper ayahnya yang dititipkan kepadanya dan berisi tulisan-tulisan sang ayah. Saya juga suka dengan esai “Kebutaan” milik Borges dan pidato “Anak Dua Peradaban” karya Naguib Mahfouz. 


Walaupun tidak mendalami ilmu sastra dan jarang baca buku sastra, saya tetap senang telah membaca buku ini.

The Five People You Meet In Heaven (Meniti Bianglala)



Penulis: Mitch Albom

Judul Asli: The Five People You Meet in Heaven

Penerjemah: Andang H. Sutopo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Cetakan Keenam, Desember 2012

Halaman: 208

ISBN: 978-979-22-7002-0


Eddie bekerja di taman hiburan hampir sepanjang hidupnya, memperbaiki dan merawat berbagai wahana. Tahun-tahun berlalu, Eddie merasa terperangkap dalam pekerjaan yang dirasanya tak berarti. Hari-harinya hanya berupa rutinitas kerja, kesepian, dan penyesalan.


Pada ulang tahunnya yang ke-83, Eddie tewas dalam kecelakaa tragis ketika mencoba menyelamatkan gadis kecil dari wahana yang rusak. Saat mengembuskan napas terakhir, terasa olehnya sepasng tangan kecil menggenggam tangannya. Ketika terjaga, dia mendapati dirinya di alam baka. Dan ternyata Surga bukan Taman Eden yang indah, melainkan tempat kehidupan manusia di dunia dijelaskan oleh lima orang yang telah menunggu. Lima orang yang mungkin orang-orang yang kita kasihi, atau orang-orang yang tidak kita kenal, namun telah mengubah jalan hidup kita tanpa kita sadari. (dari blurb “Meniti Bianglala)


My Review


Kisah ini dibuka oleh bab yang berjudul “Tamat” karena memang di situlah tokoh utama kita, Eddie, meninggal. Paragraf demi paragraf mendeskripsikan momen-momen terakhir, hitung mundur akhir kehidupan Eddie sampai akhirnya dia meninggal.


Setelah membaca dua buku Mitch Albom, Selasa Bersama Morrie dan Sehari Bersamamu, saya tertarik untuk membaca ceritanya lagi. Karya Mitch Albom memiliki keistimewaan tersendiri buat saya. Ceritanya selalu membuat saya merenungkan kembali makna kehidupan yang seringkali lepas dari pikiran kita, termasuk cerita ini.


Saya sudah suka dengan bagian pembuka dari Mitch Albom yang menerangkan alasan ia menulis buku ini. ia menulis untuk pamannya, yang memiliki nama yang sama dengan tokoh utama kita, untuk memberi tahu kalau pamannya dan orang-orang yang merasa keberadaannya tidak penting di dunia, menyadari betapa mereka sangat berarti dan disayangi. Mitch Albom juga menjelaskan bahwa ia menghormati setiap kepercayaan tentang surga yang diyakini orang-orang. Karena sekali lagi, ini hanyalah cerita fiksi dan saya setuju sekali dengan hal itu. Maksudnya, tentu saja yang saya yakini adalah setelah mati kita bertemu Malaikat Munkar dan Nakir, tetapi saya menyukai cerita ini karena membuat saya semakin yakin bahwa apa yang telah terjadi dalam hidup kita mengandung hikmah yang kadang kita mengetahuinya, sering pula kita tidak pernah mengetahuinya. 


Begitu juga dengan kisah hidup Eddie yang diceritakan Mitch Albom di sini. Setelah kematian Eddie, cerita bergerak maju mundur saat Eddie bertemu dengan satu per satu orang yang menunggunya di alam baka dan momen-momen ulang tahun Eddie, dari dia kecil hingga tua. 


Saya dapat merasakan kekesalan Eddie terhadap ayahnya, penyesalannya karena terjebak menjadi pekerja di wahana hiburan Ruby Pier, persis seperti ayahnya, dan hatinya yang selalu bertanya-tanya apakah gadis kecil yang ia coba selamatkan itu benar-benar selamat atau tewas seperti dirinya. Saya juga ikut dibuat ngeri saat Eddie mengenang saat-saat ia menjadi tentara Amerika di masa perang. 


Cerita yang disampaikan Mitch Albom mengalir dengan lembut, tidak bertele-tele tetapi juga tidak terlalu ngebut. Saya juga berhasil dibuat penasaran, sama seperti Eddie, menebak siapakah orang berikutnya yang akan ditemui Eddie dan apa hubungannya dengan kehidupan Eddie. Dan dia bagian akhir, saya hanya bisa bergumam, “Oh, jadi begitu….”


Secara keseluruhan, saya sangat menyukai cerita ini. Pesan yang disampaikan Mitch Albom benar-benar terasa menancap di hati, terutama di bagian akhir. Benar-benar akhir yang…indah.

Rabu, 31 Januari 2018

Mendengar Nyanyian Sunyi (Catatan Penjelajah ke Ruang Pikir Introver)

Penulis: Urfa Qurrata Ainy
Penyunting: A K
Penerbit: CV. IDS
Tahun Terbit: 2017
Halaman: 228
ISBN: 978-602-72395-6-2


Mendengar Nyanyian Sunyi adalah sebuah buku nonfiksi tentang introvert. Cara berpikirnya, kesukaannya, hal-hal yang sering terjadi pada dirinya. Namun, jangan kira buku ini adalah buku nonfiksi penuh teori ala-ala buku teks. Bukan, buku ini lebih seperti kumpulan opini dari penulis tentang introvert yang ditunjang oleh teori-teori psikologi.

Di awal, buku ini lebih dulu menjelaskan tentang apa sih introvert itu, dan apa bedanya dengan ekstrovert. Berdasarkan tipe kepribadian MBTI (Myers-Briggs Type Indicator), introvert adalah orang yang memiliki kepribadian perenung, pemikir, merasa nyaman sendirian, suka mengerjakan hal-hal sendirian, mengenal akrab dengan lebih sedikit orang. Kurang lebih, secara umum seperti itulah karakter introvert. Sayangnya, banyak yang mengsalahartikan kepribadian introvert ini dengan kepribadian yang kurang baik, seperti pemalu, antisocial, tidak mau bergaul dengan sekitar dan sejenisnya. Padahal introvert tidaklah seperti itu.

Setelah penjelasan singkat tentang apa itu introvert dan ekstrovert, barulah penulis mengulas dengan lebih rinci, seperti apa sih kepribadian introvert itu. benarkah dia antisocial? Benarkah dia hanya punya teman sedikit? Benarkah dia selalu gugup tampil di depan umum? Benarkah dia tidak suka bertemu dengan orang asing? Dan yang lebih penting, jika semua itu benar, apakah itu sebuah kesalahan?

Buku ini sangat pas untuk dibaca baik oleh para introvert maupun ekstrovert, terutama yang tidak terlalu suka dengan penjabaran yang berat-berat seperti di buku teks. Secara sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, penulis menyampaikan kegelisahan dan keinginan seorang introvert. 

Bagi para introvert yang membaca buku ini, pastilah lansung merasa bahwa ia tidak sendirian di muka bumi. Ada introvert-introvert lain (meski tak pasti jumlahnya berapa) yang juga merasakan apa yang dia rasakan, mengalami apa yang dia alami. Dan semoga buku ini juga dibaca para ekstrovert agar dapat saling memahami kepribadian masing-masing.

Pada akhirnya, tidak ada yang lebih unggul antara introvert dan ekstrovert. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat saling melengkapi. Tinggal bagaimana cara kita memandang dan memahaminya.

Saya rasa, kita semua butuh mengetahui tipikal introvert dan ekstrovert ini agar dapat mengurangi prasangka-prasangka dan perselisihan yang mungkin saja tidak perlu terjadi. Sebuah buku sederhana yang sangat layak untuk dibaca.

Oiya, buku ini sepertinya tidak dijual secara bebas di toko buku. Saya memesan langsung dari penulisnya. Bagi yang tertarik ingin membacanya juga, bisa berkunjung ke Tumblr-nya: urfa-qurrota-ainy.tumblr.com atau Instagram @urfaqurrotaainy.

Happiness Laboratory (Meramu Kebahagiaan Hakiki)

Penulis: Urfa Qurrota Ainy
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 211



“Tidak seperti kekayaan atau ketenaran, kebahagiaan tidak punya banyak aturan. Jika Anda lupa cara untuk bahagia, ingatlah bahwa bahagia hanya punya satu aturan: jika Anda ingin bahagia, ya berbahagialah.”

Buku Happiness Laboratory merupakan kumpulan tulisan-tulisan pendek tentang kehidupan. Isinya bukan cara cepat menjadi bahagia atau kiat menjalani hidup bahagia selamanya. Kumpula tulisan ini adalah tentang cinta, menjalani hidup, berdamai dengan diri sendiri, dan hubungan kita dengan Allah.

Lewat tulisan-tulisan singkat ini, kita seolah diingatkan kembali tentang perasaan yang kita alami, apa yang mungkin telah kita lewatkan, peristiwa yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda, dan bagaimana kita menikmat hal-hal kecil di sekitar kita.

Memang tidak ada yang baru dari kumpulan tulisan ini. Tulisan-tulisan sederhana ini lebih seperti memo. Pengingat. Kita bisa membuka buku ini dari bab atau bagian mana saja, tergantung judul apa yang paling menarik bagi mood kita saat itu. semuanya menjadi pengingat sederhana bagi kita untuk menjalani hidup dengan bahagia tanpa syarat yang rumit dan sulit. 


If you want to be happy, just be.

Selasa, 30 Januari 2018

Sapphire Blue (Time Travel Trilogy #2)


Penulis: Kerstin Gier
Penerjemah: Nadiah Abidin
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2013
Halaman: 364



Di buku pertama, Gwendolyn akhirnya mengetahui bahwa sebelumnya para penjelajah waktu memiliki dua buah kronograf. Namun, satu kronograf telah dicuri oleh Paul dan Lucy, penjelajah waktu yang hanya berbeda satu generasi dengannya. Tidak ada yang tahu maksud Paul dan Lucy mencuri kronograf dan di mana mereka bersembunyi. Kebanyakan dari mereka mengira Paul dan Lucy memiliki niat jahat dengan krongoraf curian tersebut.


Untuk itulah, Gwendolyn dan Gideon berkali-kali dilempar ke tahun-tahun yang telah ditentukan untuk mencari tahu kabar tentang Paul dan Lucy. Di saat yang sama, Gwendolyn punya perasaan yang tidak enak terhadap Sang Bangsawan yang disebut-sebut sebagai keturunan pertama gen penjelajah waktu. Dan di saat yang sama pula, Gwendolyn terpaksa mengakui kalau ia terpikat oleh pesona Gideon yang awalnya menyebalkan.


Di buku kedua ini, petualangan semakin seru. Gwendolyn mati-matian mempelajari tari Minuett dan tata krama zaman dahulu. Ia juga berusaha untuk terus menyelidiki maksud Paul dan Lucy mencuri kronograf dan apa yang terjadi jika kronograf itu disentuh oleh seluruh penjelajah waktu. 


Konon katanya, akan ada suatu yang terjadi jika kronograf telah disentuh oleh seluruh pejelajah waktu. Saat ini, masing-masing kronograf menyisakan dua penjelajah waktu yang belum menyentuh. Kronograf pertama yang dicuri Paul dan Lucy, belum disentuh oleh Gwendolyn dan Gideon. Sebaliknya, di kronograf kedua, Paul dan Lucy-lah yang belum menyentuhnya. Peraturannya, Gwendolyn dan Gideon jangan sampai menyentuh kronograf yang dipegang Paul dan Lucy karena tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan oleh mereka.


Sungguh, membaca buku kedua ini membuat saya semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya dirahasiakan oleh sang Bangsawan dan apa yang diketahui oleh Paul dan Lucy sehingga mereka nekat mencuri kronograf. Dan apa yang akan terjadi dengan Gwendolyn? Benarkah ramalannya akan terjadi?



Saya tahu, resensi ini agak berantakan. Mungkin juga ada banyak hal yang ketinggalan. Tetapi percayalah, trilogy ini seru sekali. Seru dan membuat penasaran. Sayang, saya belum memiliki buku ketiganya. Mengingat ini adalah terbitan lama, mungkin sudah agak sulit menemukannya di toko buku. Tetapi mudah-mudahan masih berjodoh dengan trilogi ini karena jujur saja saya benar-benar penasaran dengan segala rahasia yang disampaikan di buku ini.