Senin, 25 September 2017

Puisi-Puisi Cinta



Penulis: W.S. Rendra
Penyunting: Edi Haryono
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: September 2015
Halaman: 100
ISBN: 978-602-291-114-2


Inilah pertama kali saya membaca kumpulan puisi dari sastrawan yang dijuluki si “Burung Merak”. Di dalam catatan editornya, disampaikan bahwa puisi-puisi dalam buku ini belum pernah diikutkan dalam kumpulan-kumpulan puisi sebelumnya.

Puisi-Puisi Cinta dibagi ke dalam tiga bagian. Puber Pertama, yaitu puisi-puisi yang ditulis Rendra pada masa kuliahnya di UGM. Puber Kedua, yaitu puisi-puisi yang ditulis Rendra selepas ia kuliah di New York. Terakhir, Puber Ketiga, yaitu puisi-puisi yang ditulis Rendra dalam masa reformasi 1998.

Saat membaca puisi-puisinya di Puber Pertama, saya langsung meleleh. Manis dan romantis sekali. Puisinya kebanyakan singkat, ditulis dengan bahasa yang sederhana, tetapi sangat menunjukkan perasaan orang yang sedang dilanda cinta.

Kekasih
Kekasihku seperti burung murai
Suaranya merdu.
Matanya kaca
Hatinya biru

Kekasihku seperti burung murai
Bersarang indah di dalam hati.

Sementara itu, puisi-puisi di Puber Kedua dan Puber Ketiga cukup berbeda jauh dengan puisi di Puber Pertama. Jika di Puber Pertama lebih menekankan pada muda-mudi yang dilanda cinta, maka di Puber Kedua dan Ketiga pada hal yang lebih kompleks lagi, yakni kehidupan.

Meskipun saya tidak terlalu memahami semua puisi-puisi Rendra, saya cukup menikmati buku ini. Saya menjadi lebih mengenal salah satu sosok sastrawan Indonesia karena di dalamnya diulas profil Rendra dengan cukup lengkap. Termasuk cerita tentang beliau yang berpindah agama (meskipun hanya diangkat sekilas). Saya juga menjadi tertarik untuk membaca karya-karya Rendra yang lainnya.


Review ini untuk 
kategori Poetry

Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta



Penulis: Tere Liye
Cover dan Ilustrasi: eMTe
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Agustus 2014
Halaman: 72
ISBN: 9786020307183


Kita mungkin mengenal Tere Liye melalui novel-novelnya yang best seller dan diangkat ke layar lebar. Saya sendiri pertama kali membaca novel Tere Liye saat kelas 2 SMP, yaitu Hafalan Shalat Delisa. Sejak itu, saya cukup tertarik dengan novel-novelnya yang lain. Sebut saja, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-Bidadari Surga, dan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Sewaktu kuliah, saya juga rajin membaca status-status yang diupdate Tere Liye di Facebook. Namun, di saat yang sama, saya menjadi kurang tertarik dengan novelnya. Entah mengapa.  Sampai akhirnya saya belum membaca lagi novel-novelnya. Novel Tere Liye yang terakhir saya baca berjudul Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta adalah buku pertama Tere Liye yang saya baca lagi. Setelah membaca kumpulan sajak tersebut, saya merasa ada beberapa bagiannya yang berasal dari status-status Tere Liye di Facebook. Entah itu perasaan saya saja atau memang benar. Yang jelas, membukukan kumpulan sajak dari seorang penulis terkenal adalah sebuah ide cemerlang.

Ada 24 sajak dalam buku ini. Semuanya membahas tentang perasaan. Disajikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dicerna meski oleh orang yang tidak terlalu suka membaca sajak atau puisi. Setiap sajak dilengkapi dengan ilustrasi yang dianggap mewakili isi sajak tersebut.

Dari 24 sajak yang ditulis Tere Liye di buku ini, saya menangkap benang merah untuk keseluruhan isi buku. Isinya mengajak pembaca untuk berhenti mengumbar perasaan. Seperti yang jelas-jelas tertera di judul, Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta.

Saya menilai Tere Liye adalah salah satu penulis yang cukup concern terhadap dunia pacaran anak muda. Beliau mengajak anak muda untuk lebih produktif dan meninggalkan kesia-siaan yang lebih banyak berujung bencana seperti pacaran. Kadang kata-katanya ditulis dengan tajam, langsung menikam para pelaku pacaran. Kadang dengan gaya menyindir, kadang dengan gaya yang halus. Isinya semua sama, jangan pacaran. Seperti salah satu sajak di buku ini yang saya suka dan cukup menyentil pembaca.

Sajak Jangan Habiskan

Kawan, jangan habiskan air mata untuk menangisi seseorang
Yang jangan-jangan tidak pernah menangis untuk kita.

Jangan menghabiskan waktu untuk memikirkan seseorang
Yang boleh jadi tidak pernah memikirkan kita.

Hidup ini memang kadang ganjil sekali
Ada miliaran orang, tapi kita menambatkan satu hati
Ada berjuta kesempatan, tapi kita memilih satu saja.

Hidup ini memang kadang rumit sekali
Ada banyak hari esok, tapi kita tidak beranjak
Terlalu banyak hari kemarin, tapi kita terus terbenam.

Aduhai, hidup ini memang kadang menyebalkan sekali
Ada begitu banyak tempat, tapi kita masih di situ-situ saja
Ada begitu banyak pilihan kendaraan, tapi kita tidak segera naik
Masih saja di sana. Menatap kosong kesibukan sekitar.

Sungguh, jangan habiskan waktu kita
Untuk seseorang yang tidak pernah tahu
Bahwa kita menghabiskan waktu demi dia.

Dengan sampul hard cover, buku kumpulan sajak ini layak dijadikan kado istimewa bagi siapa saja yang sedang tenggelam dengan perasaannya.

Review ini untuk 

kategori Poetry

Jumat, 22 September 2017

Resensi Buku: Lukisan Dorian Gray



Penulis: Oscar Wilde
Penerjemah: Diyan Yulianto
Editor: Addin Negara
Tahun Terbit: 2015
Penerbit: Diva Press
ISBN: 978-602-255-782-1



“The Picture of Dorian Gray adalah satu-satunya novel karya Oscar Wilde sekaligus karyanya yang paling mahsyur. Diterbitkan pertama kali dalam bentuk novel pada tahun 1890, karya ini langsung mendapat sambutan pro dan kontra di kalangan pembaca karena berani menyentuh tema-tema sosial yang sensitif dalam masyarakat era abad ke-19. 

Sebuah penyatuan antara naskah drama, pelajaran moral, dan keindahan sastra; itulah ungkapan-ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan novel ini. karena kelebihannya ini, karya ini dinobatkan sebagai salah satu novel terbaik yang pernah ditulisa dalam bahasa Inggris.” (dikutip dari Pengantar Penerbit Diva Press)

Lukisan Dorian Gray bercerita tentang seorang pemuda tampan bernama Dorian Gray. Ia memiliki sahabat, seorang pelukis bernama Basil Hallward. Basil sangat memuja ketampanan Dorian. Dorian hampir selalu menjadi objek lukisannya. Lukisan yang Basil buat dengan sepenuh hati dan tak rela ia bagi dengan siapa pun.

Pemujaan dan kekaguman Basil terhadap Dorian tentu dipandang aneh oleh sahabatnya, Lord Henry Wotton. Lord Henry tak mengerti bagaimana seorang Basil bisa begitu memuja seorang pemuda tampan sampai ia sendiri bertemu dengan Dorian Gray. Seperti Basil, Lord Henry juga mengakui ketampanan dan keluguan Dorian Gray.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, Basil pun mulai melukis Dorian. Ketika selesai, semuanya mengakui kalau lukisan itu amat mirip dengan Dorian Gray. Bahkan lukisan itu tampak lebih indah dari aslinya. Sampai Lord Henry berseloroh kalau ia iri dengan Dorian Gray di dalam lukisan itu. Dorian Gray di sana akan selalu tampak muda, tampan, tidak akan tersentuh waktu.

My Review

Awal tertarik membaca Lukisan Dorian Gray karena judul ini disebutkan dalam novel Beastly. Lukisan Dorian Gray adalah salah satu novel yang dibaca tokoh utamanya saat sedang menjalani hukuman kurung. Selain itu, saya juga penasaran karena katanya novel ini menceritakan tentang pemuda yang amat mengagumi wajahnya sendiri sehingga rela menukar jiwanya dengan kemudaan abadi.

Sebelum membaca, saya mengira Dorian Gray adalah tipe laki-laki yang ambisius dan haus akan pujian. Ternyata setelah membaca, saya malah jatuh kasihan pada Dorian. Dia termakan oleh omongan Lord Henry tentang kemudaan. Kemudaan dan ketampanan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, karena saat itu, kau melakukan kesalahan apa pun akan dimaklumi orang. Kemudaan dan ketampanan yang akan menjadikan pusat perhatian, kekaguman, dan pujian. Kemudaan dan ketampanan yang hanya hinggap sejenak sebelum akhirnya kau keriput, tua, dan layu, dan orang tidak ada yang peduli denganmu.

Di dalam cerita ini ada tiga tokoh utama. Dorian Gray, Lord Henry, dan Basil Hallward. Dorian Gray, pemuda ini awalnya polos banget. Dia bersahabat baik dengan Basil. Tetapi suka malas jadi objek lukisannya, ya, karena bosan dan capek lah ya, duduk berjam-jam dengan gaya yang sama. Mana saat Basil melukis, dia selalu diam, nggak ngajak ngobrol atau apa. Fokus banget dengan lukisannya.

Suatu saat sesi melukis, Basil ditemani Lord Henry. Di situlah momen pertama Dorian berkenalan dengan Lord Henry. Lord Henry ini orangnya banyak omong, pikirannya agak nyeleneh, tetapi apa yang dia bicarakan sesungguhnya benar, realistis, dan jujur. Dorian termakan omongan Lord Henry tentang kemudaan. Oleh karena itu, saat lukisan Basil sudah jadi, dan ia melihatnya, Dorian berdoa, berharap dengan sungguh-sungguh kalau ia bisa awet muda seperti lukisannya. Dan biarkan lukisan itu yang menjadi tua dan jelek karena menanggung dosa-dosanya.

Ternyata apa yang diharapkan Dorian menjadi kenyataan. Suatu kali ia berbuat salah. Lalu ia melihat lukisan itu. Ada satu kerut yang muncul di dalam lukisan buatan Basil. Awalnya, Dorian tidak percaya. Namun, setelah melakukan kesalahan beberapa kali, Dorian yakin lukisan buatan Basil itulah yang menanggung dosa-dosanya, menjadikan wajahnya penuh kerut dan luka. Sedangkan wajah Dorian sendiri tetap muda dan tampan seolah tak bertambah tua sedetik pun.

Jadi, yang saya tangkap setelah membaca novel ini, Dorian awalnya tidak sungguh-sungguh berniat mengawetkan wajah tampannya. Pada akhirnya, Dorian terus termakan dengan kata-kata Lord Henry, yang membuat ia semakin tidak peduli dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya.

Meskipun begitu, Dorian sangat takut lukisan itu dilihat orang lain. Lukisan itu memang diberikan Basil pada Dorian. Setelah Dorian menyadari keganjilan lukisan tersebut, tidak ada seorang pun yang diizinkan melihat lukisan itu. Lukisan itu disimpan dengan amat rapi dan tersembunyi, setiap hari ditutup oleh kain. Hanya Dorian yang boleh melihat lukisan itu.

Jika di awal disebutkan bahwa novel ini adalah salah satu karya sastra terbaik, saya mengamininya. Meskipun ceritanya lebih banyak diisi narasi, kalaupun ada dialog, dialognya juga panjang-panjang sekali, keseluruhan novel ini tidak membosankan untuk dibaca.

Kalimat-kalimatnya itu bikin merenung dan berpikir. Bahkan saat awal-awal membaca, banyak sekali kalimat yang saya tandai. Saking banyaknya, saat di bagian tengah sampai selanjutnya saya sudah bosan menandai karena bagi saya isinya bagus semua.

Saya tidak menyangka akan menyukai novel ini. Terlebih terjemahannya apik dan enak dibaca. Meskipun sampulnya terkesan agak horror, ya, dan sempat membuat saya berpikir novel ini agak sedikit horror. Ternyata tidak. Bagian paling seru adalah bagian akhir. Saat Dorian sudah mulai lelah dengan kehidupannya dan semakin takut rahasia besarnya diketahui orang banyak.  Jujur, saya deg-deg-an banget saat membacanya.

Tema novel ini sesungguhnya tidak lekang oleh zaman. Tentang kemudaan yang hinggap untuk sementara, tentang kelakuan buruk yang akan meninggalkan jejak di wajah, tentang keinginan untuk dipuja dan dikagumi. Setelah membaca novel ini, saya berharap Oscar Wilde tidak membuat satu novel saja selama hidupnya. Sayangnya, harapan itu tidak akan menjadi nyata.

Salah satu novel yang akan saya baca lagi, suatu hari nanti.

“Ada bencana dalam setiap kelebihan fisik maupun kelebihan intelektual, bencana yang telah menjatuhkan raja-raja lemah sepanjang sejarah. Adalah lebih baik menjadi seperti orang kebanyakan. Mereka yang buruk rupa dan bodoh mendapatkan yang terbaik di dunia ini. mereka bisa duduk-duduk dengan tenang sambil mengagumi jalannya permainan. Jika mereka tidak pernah mengecap manisnya kemenangan, merek a juga tidak akan merasakan pahitnya kekalahan. Mereka hidup apa adanya, tidak diganggu, tidak mencolok, dan tidak pernah merasa cemas. Mereka tidak pernah menyebabkan orang lain menderita dan tidak pula dibuat menderita oleh orang asing.”

Review ini untuk




Kategori Classic Literature

Selasa, 29 Agustus 2017

Resensi Buku: Mengulas 3 Karya Ziggy



Assalamualaikum, kali ini saya mau membahas 3 karya penulis bernama unik, Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie. Setelah sebelumnya terpesona dengan Lucid Dream, saya tertarik untuk membaca hampir semua karya Ziggy. Saya berkesempatan membaca tiga buah bukunya dengan ekspektasi yang cukup tinggi. Apakah setelah dibaca buku-buku itu sesuai dengan harapan saya? Let’s find out!

Saving Ludo (Mizan Fantasteen, 2015)


Ini karya kedua Ziggy yang saya baca. Masih di bawah lini Fantasteen. Dari berbagai resensi yang saya baca, banyak yang menyukai kisah persahabatan antara Theo dan Ludo. Saya agak takut sebenarnya dengan gambar sampulnya yang menyeramkan. Seperti sosok Alice in Wonderland versi hantu. Saya cukup penasaran dengan, apakah sosok Alice ini ada hubungannya dengan cerita.

Well, ternyata benar. Diceritakan, seorang anak laki-laki bernama Theo memiliki sahabat yang amat ia sayangi bernama Ludo. Namun, Ludo sekarat karena penyakit leukemia yang dideritanya. Theo sangat takut kehilangan Ludo. Ia rela melakukan apa saja demi kesembuhan Ludo. Dan ya, Theo rela menukar ingatannya tentang Ludo hanya agar Ludo kembali sehat seperti sedia kala. Meskipun itu harus mengorbankan persahabatan yang mereka miliki selama ini.

Dengan siapa Theo menukar ingatannya? Yup, benar! Dengan Alice versi hantu ini. Theo tak sengaja mengikuti kelinci gendut yang dapat berbicara. Kelinci itu tentu saja mirip dengan kelinci terburu-buru yang ada di kisah Alice in Wonderland. Si Kelinci membawa Ludo ke toko Alice. Di toko itulah, Theo dapat membeli apa pun yang dia inginkan. Semakin berharga keinginannya, semakin mahal pula bayarannya. Namun, bayarannya bukan memakai uang. Harga untuk kesembuhan Ludo adalah ingatan persahabatan antara Theo dan Ludo. Saat Ludo sembuh nanti, ia tidak akan pernah ingat pernah berteman dengan Theo. Begitu juga dengan Ludo.

Dari segi gaya bahasa, saya tetap menyukai gaya Ziggy. Rasanya seperti membaca buku terjemahan. Apalagi dengan latar cerita yang sepertinya juga bukan di Indonesia. Akan tetapi, saya kurang suka dengan ide ceritanya. Well, mungkin ini masalah ideologis, sih. Saya tahu ini buku fantasi. Tetapi saya tidak suka dengan segala sesuatu yang bekerja sama dengan setan.

Di cerita Saving Ludo ini, Alice adalah jelmaan setan. Setan yang bisa mengabulkan apa pun keinginan manusia dengan bayaran tertentu. Tentu saja, bayaran itu merugikan si manusia. Tetapi siapa yang peduli, toh yang penting keinginan mereka terkabul. Rasanya, untuk buku anak-anak dan remaja, ide cerita ini sangat tidak bagus.

Jujur saja, saya agak menyesal membeli buku ini. Ini bukan jenis buku yang ingin saya koleksi dan simpan untuk anak saya di kemudian hari. Saya tidak tahu, apakah saya akan berpikir seperti ini jika saya membaca buku ini saat masih remaja. Mungkin saya akan menyukainya, mungkin juga tidak. 

Terakhir, setelah membaca buku ini, jujur saja, saya jadi penasaran dengan kisah Lewis Carroll. Meskipun saya tahu ini fiksi, mungkin….yah, hanya mungkin… ada kisah-kisah nyata tersembunyi di dalamnya.

       Toriad (Mizan Fantasteen, 2014)


Jika dilihat dari tahun terbitnya, buku ini diterbitkan sebelum Saving Ludo. Dan setelah cukup kecewa membaca Saving Ludo, saya tidak banyak berharap dengan Toriad. Meskipun sebagian hati kecil saya masih berharap kalau buku ini akan mempesona saya seperti Lucid Dream. Kenyataannya, Toriad tidak lebih menakjubkan ketimbang Saving Ludo. Why? Mari kita ulas sebentar ceritanya.

Toriad berkisah tentang seorang anak laki-laki bernama Green Bean. Ia hidup bersama komplotan pencuri yang dianggapnya seperti keluarga sendiri. Mereka dalam perjalanan mencari Pusaka Bintang. Sayangnya, di tengah perjalanan, Green Bean tidak diajak. Ia dianggap masih terlalu kecil dan disarankan untuk tinggal di desa terakhir yang mereka singgahi.

Tentu saja, Green Bean menolak. Sebesar apa pun bahaya yang menghadang kelompok mereka, ia harus ikut.  Akan tetapi, ketika mereka berpisah jalan, Green diculik. Ketika terbangun, ia sudah berada di negeri asing yang sangat aneh, dan dikabarkan kalau dialah pengendali negeri tersebut.

Entahlah, sejujurnya saya agak pusing dengan cerita ini. Lagi-lagi, ide ceritanya tidak bisa diterima di kepala saya. Saya juga merasa cerita ini agak anti-klimaks. Saya cukup menikmati bagian awal hingga pertengahan cerita. Saat kelompok Green Bean berusaha menyelamatkan diri dari kejaran kelompok yang membahayakan mereka. Cerita mulai terasa aneh ketika Green Bean sampai di negeri Holiston. Negeri tanpa pepohonan, di mana rumah-rumah melayang-layang di udara.

Mungkin saya bukan penggemar berat cerita fantasi. Atau mungkin karena alasan lain. Yang jelas, Toriad is not my cup of tea.

      White Wedding (Pastel Books, 2015)


Inilah karya pertama Ziggy yang saya baca, yang bukan di bawah lini Fantasteen. Dengan judul White Wedding dan sampul berwarna putih yang amat manis, saya berharap ini adalah sebuah kisah cinta yang manis. Membaca blurb-nya juga mendukung hal itu. Bagaimana dengan ceritanya?

White Wedding berkisah tentang gadis kecil benama Elphira yang mengidap albino. Karena penyakitnya tersebut, Elphira tidak bersekolah seperti anak-anak lain seusianya. Dan karena penyakitnya juga, ia amat sangat membenci warna putih.

Elphira bersahabat dengan Sierra. Anak laki-laki berambut merah yang sehari-hari menemani Elphi dan mengajarkannya berbagai macam pelajaran. Elphi sangat menyayangi Sierra, meskipun seringkali Elphi sebal karena Sierra tidak sama dengannya. Sierra sangat menyukai warna putih.

Kali ini, saya cukup menyukai White Wedding. Tema yang diangkat cukup bagus, tentang bagaimana mengelola perasaan kehilangan atau takut kehilangan. Meskipun di sini ada kisah tentang malaikat yang saya anggap sepenuhnya fiksi, saya masih lebih menyukai White Wedding ketimbang dua buku sebelumnya.

Secara umum, saya amat menyukai cara Ziggy berkisah dan bertutur. Entah apa yang dimilikinya, yang jelas gaya menulisnya itu keren sekali. Ide ceritanya juga bagus-bagus sebenarnya. Meskipun ada beberapa yang tidak terlalu saya sukai.

Setelah membaca tiga karya Ziggy, apakah saya ingin membaca karya Ziggy yang lainnya? Tentu saja! Entah kenapa, saya nggak kapok-kapok penasaran dengan karya-karyanya, meskipun tidak semua. Melihat cukup banyak karya yang dihasilkan dan beberapa bahkan mendapatkan penghargaan, sepertinya Ziggy akan menjadi salah satu penulis favorit yang ditunggu-tunggu karyanya di Indonesia.

Setelah membaca tiga buku ini, saya masih penasaran dengan karya Ziggy yang berjudul Di Tanah Lada, Jakarta Sebelum Pagi, dan beberapa karyanya dengan nama pena Ginger Elyse Shelley. Semoga saya berkesempatan membaca semuanya.







P.S. semua foto buku dari goodreads.com