Sabtu, 17 Juni 2017

Resensi Buku: Interlude



Penulis: Windry Ramadhina

Penyunting: Gita Romadhona dan Ayuning

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: Cetakan Pertama,  2014

Halaman: 371

ISBN: 979-780-722-3



Kai, cowok muda yang pandai bermain gitar dan punya grup band beraliran musik jazz. Permainan gitarnya bagus, tetapi tidak dengan kuliah dan keluarganya. Kuliah di fakultas hukum sudah lama ia tinggalkan karena merasa tidak tertarik. Sedangkan keluarganya, entah sudah berapa lama Kai tidak pulang ke rumah karena menghindari orang tuanya yang selalu bertengkar.


Di sisi lain, ada Hanna. Gadis muda yang sempat cuti kuliah karena pengalaman buruk yang dialaminya. Setelah lama menjauhi dunia kampus, Hanna memutuskan untuk kembali, meskipun sambil membawa beban malu dan rasa cemas yang selalu menghantui.


Taman kecil di atap apartemen yang mempertemukan mereka. Hanna suka sekali berada di taman itu. bahkan ia punya bangku kesayangan di sana. Suatu sore ia mendengar petikan gitar yang sangat indah. Petikan indah itu berasal dari jemari Kai. Hanna terkejut menyadari keberadaan Kai. Hampir saja tubuhnya menyuruh ia melarikan diri. Namun, kehadiran Gitta membuat kaki Hanna tertahan. Pemuda asing yang baru dilihatnya itu tampak bercakap-cakap dengan Gitta lalu pergi begitu. Hanna mengembuskan napas lega. Ia kembali sendirian, tetapi itu bukan pertemuan terakhirnya dengan Kai.

My Review



Interlude, membaca buku ini membuat saya teringat kembali dengan masa-masa kuliah dengan berbagai perasaan yang ada di dalamnya. Omong-omong, Hanna mengambil jurusan Komunikasi seperti saya, dan Kai kuliah di UI, membuat mau tidak mau saya membayangkan tempat-tempat yang sering saya lalui dulu.

Hanna adalah gadis yang memiliki pengalaman pahit dengan laki-laki. Secara berkala, ia bertemu dengan terapisnya, Miss Lorraine untuk memulihkannya. Kai adalah pemuda yang serampangan. Ia senang bermain perempuan untuk ditinggalkannya begitu saja. Keduanya bukan pasangan yang cocok untuk saling mencintai. Tetapi begitulah kenyataannya, Hanna yang berusaha sekuat tenaga agar tidak jatuh cinta pada Kai, dan Kai yang berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan Hanna bahwa ia telah terlepas dari kebiasaan buruknya.


Saat awal membaca buku ini, saya tidak terlalu suka dengan Kai. Saya tidak suka cowok model Kai. Saya suka dengan Jun, teman satu grup Kai yang jauh lebih santun dan rapi. Saya juga suka dengan Gitta, masih teman satu grup Kai, yang juga teman kuliah Hanna, yang tampil sebagai cewek kuat dan pemberani.


Namun, semakin lama membaca buku ini, semakin terlihat sosok Gitta yang sebenarnya. Ternyata ia tidak sekuat yang ditampakannya. Dan Kai yang sedikit demi sedikit mulai berubah semenjak mengenal Hanna.  Hanna juga mulai berubah dan berusaha untuk memulihkan dirinya sehingga tidak terus-menerus dihantui pengalaman buruk.


Setiap tokoh di Interlude mengalami perubahan karakter dan itu membuat saya menyukai novel ini. Entah bagaimana, penulis berhasil membuat tokoh-tokoh tersebut terasa dekat seolah mereka adalah teman saya sendiri. 


Saya juga suka dengan cerita perjuangan Second Day Charm, --band Kai, Gitta, dan Jun--, agar bisa diterima sebuah label rekaman. Bagaimana mereka harus berusaha professional di tengah masalah pribadi antar anggotanya demi mencapai mimpi yang telah lama mereka bangun.


Sosok Hanna sendiri cukup unik bagi saya. Ia tampak lemah sekaligus kuat. Ia memilki kebiasaan yang unik, suka merekam berbagai suara. Hanna selalu membawa perekam suaranya ke mana-mana. Suara-suara itulah yang membantu menenangkan dirinya. Ia juga menyukai laut, dan mengumpulkan kata ‘laut’ dari berbagai bahasa.


Bagi saya, Interlude mengangkat tema tentang keberanian. Keberanian untuk berubah, keberanian untuk melawan sesuatu yang salah, keberanian untuk meraih mimpi, dan keberanian untuk berhadapan dengan kenyataan. Sesuatu yang mungkin tidak mudah, tetapi tentu saja, bisa dilakukan.

Resensi Buku: Memori



Penulis: Windry Ramadhina

Penyunting: eNHa

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2012

Halaman: 301

ISBN: 979-780-562-x



Mahoni, seorang arsitektur muda yang memiliki karier bagus di Virginia. Jauh-jauh ia ke Amerika, meninggalkan Indonesia, meninggalkan keluarganya, meninggalkan Papa dan Mae, karena kekecewaanya terhadap hubungan mereka yang berakhir. Papa menikah lagi dengan perempuan bernama Grace, yang memberi seorang adik laki-laki untuk Mahoni bernama Sigi. Sayangnya, Mahoni tidak pernah mengganggap Sigi sebagai adiknya.


Sampai pesan itu datang. Pesan dari Om Ranu, adik Papa, yang menyampaikan bahwa Papa dan Grace meninggal karena kecelakaan. Tidak lama setelah Papa mengirim pesan suara yang menanyakan kabar dirinya. Pesan yang tidak dijawab Mahoni.


Kini, Mahoni pulang ke Jakarta. Niatnya hanya untuk menghadiri pemakaman Papa dan Grace. Ia lupa dengan keberadaan Sigi yang masih berusia 16 tahun. Om Ranu meminta Mahoni untuk menetap di Jakarta untuk menjaga Sigi, karena ia sendiri harus segera pulang ke Jogja untuk merawat istrinya yang sakit. Mahoni tentu saja keberatan. Mana mungkin ia meninggalkan Virginia, meninggalkan karier arsitekturnya yang cemerlang, hanya untuk seorang anak yang tak pernah ia anggap sebagai saudaranya.


Namun, mau bagaimana lagi, Mahoni adalah satu-satunya kerabat Sigi saat ini. Sebenci-bencinya ia dengan Sigi, Mahoni tidak tega juga meninggalkan anak itu seorang diri apalagi setelah kehilangan kedua orang tuanya. Lagipula, di Jakarta Mahoni bertemu Simon. Teman lamanya di kampus yang kini memiliki studio sendiri.


Simon mengajak Mahoni bergabung di studionya, MOSS, bersama pacarnya Sofia, dan beberapa karyawan mereka. Mahoni setuju dengan ajakan Simon. Setidaknya selama tinggal di Jakarta, ia memiliki kesibukan dan tidak harus selalu berada di rumah dan sering-sering bertemu Sigi. Selama tinggal di Jakarta itulah, pelan-pelan Mahoni menyadari tentang cinta dan keluarga yang selama ini ia jauhi.

My Review



Memori adalah kisah tentang cinta dan keluarga. Selama ini Mahoni membenci papanya karena telah meninggalkan ia dan ibunya. ia juga tidak bersimpati pada mamanya karena terlalu berlebihan dan lebih suka tenggelam dalam kesedihannya. Ia membenci Grace, perempuan yang mencuri Papa dari sisinya. Namun, sikap Grace yang amat baik padanya, membuat ia tidak pernah bisa benar-benar membencinya. Setelah lulus kuliah, Mahoni memilih meninggalkan mereka untuk membangun kehidupannya sendiri. Namun, sejauh apa pun ia pergi, rumah selalu memanggilnya kembali.


Cukup menyenangkan membaca Memori. Saya yang tidak terlalu tahu seluk beluk dunia arsitektur dan desain, menjadi lebih terbuka terhadap bidang yang satu ini. Sepertinya seru juga mendesain rumah atau menata ruang-ruang publik.


Mengenai alur cerita, penulis menyajikannya dengan cukup baik. Pelan-pelan, pembaca dibawa semakin mengenal dengan tokoh utama, Mahoni. Mulai dari kehidupannya sekarang, sudut pandangnya, masa lalunya, sampai berbagai alasan yang menjadi landasan tindakannya. Ada kisah cinta juga, antara Mahoni dan Simon yang sudah memiliki pacar yang cantik dan baik bernama Sofia. 


Saya sendiri lebih menyukai bagian Mahoni dan Sigi. Perkembangan hubungan mereka, dari yang awalnya tidak saling bicara, disampaikan penulis dengan cara yang lembut, sehingga tidak terkesan terburu-buru atau dipaksakan. Saya paling suka adegan saat Sigi menjemput Mahoni di stasiun.


Membaca Memori adalah kisah yang mengingatkan akan pentingnya sebuah keluarga. Sebenci apa pun kau dengan keluargamu, kau tidak bisa begitu saja melepaskan diri dari hubungan darah yang kekal itu. dan seperti apa pun kondisinya, keluarga adalah tempat paling nyaman untuk kembali pulang.

Jumat, 09 Juni 2017

Resensi Buku: Orange



Penulis: Windry Ramadhina

Penyunting: Christian Simamora dan Ayuning

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2015

Halaman: 305

ISBN: 978-602-291-139-5




Faye Muid, fotografer muda dengan hasil foto yang selalu menakjubkan. Diyan Adnan, pemimpin perusahaan Adnan, muda, tampan, dan terkenal. Tanpa rasa cinta sedikit pun, keduanya setuju dijodohkan oleh orang tua masing-masing.


Faye karena sudah berjanji kepada papanya, Ahmad Muid, untuk mengikuti apa pun kemauan Papa agar permintaannya berkuliah di jurusan fotografi disetujui. Sedangkan Diyan, sebagai anak pertama dan tumpuan harapan keluarga Adnan, tidak pernah bisa menolak permintaan papanya, Tyo Adnan.


Sebenarnya tidak sulit menyukai Diyan. Ia lelaki yang dipuja banyak perempuan karena ketampanan, kekayaan, dan kemampuannya menjalankan perusahaan. Faye juga bukan perempuan biasa-biasa saja. Namun, keduanya terjebak dalam perjodohan tanpa rasa yang semakin lama mendorong mereka mempertanyakan perasaan mereka sendiri. Benarkah keputusan mereka menerima perjodohan tersebut? Bagaimana dengan hati dan cita-cita mereka masing-masing? 

My Review



Orange adalah novel pertama karya Windry Ramadhina yang konon katanya cukup laris di pasaran sehingga diputuskan untuk dicetak ulang dengan berbagai tambahan. Saya sendiri, setelah membaca beberapa karya Windry, merasa penasaran dengan Orange dan punya ekspektasi cukup tinggi dengan novel ini.


It turns out, tidak terlalu mengecewakan tetapi juga tidak terlalu menakjubkan. Bisa dibilang, perjodohan karena bisnis bukanlah barang baru. Profesi fotografer juga bukan profesi langka. Dan tipe cowok seperti Diyan Adnan juga cukup sering muncul di novel-novel romance. Intinya, yah, ceritanya biasa saja.


Saya sendiri malah jatuh kasihan pada Faye. Sebenarnya, diam-diam ia menyukai Diyan Adnan. Tetapi Diyan masih memendam cintanya pada Rera, mantan kekasihnya yang kini tinggal di Paris. Di sisi lain, Zaki Adnan, adik Diyan, diam-diam menyukai Faye. Agak seperti sinetron, ya? Begitulah…


Di dalam novel Orange, saya malah bersimpati dengan Rei. Asisten sekaligus sepupu Diyan yang selama ini bekerja keras menjaga reputasi Diyan. Namun, dihancurkan sendiri oleh Diyan. Dan Diyan juga tampak tidak terlalu peduli dengan Rei. Iya sih, Diyan digambarkan sebagai lelaki yang dingin dan workaholic. Tetapi tetap saja, seharusnya nggak sebegitu cuek dengan asistennya sendiri, dong.


Kemudian, saya sedikit aneh dengan status jeruk di novel ini. Katanya Faye suka sekali dengan buah jeruk, dan hampir ke mana-mana membawa seplastik jeruk. Tetapi sepanjang cerita, hanya beberapa adegan yang menggambarkan hubungan Faye dengan jeruknya. Awalnya, saya membayangkan, banyak filosofi buah jeruk keluar dari sudut pandang Faye. Sayangnya, saya hanya menemukan bahwa jeruk itu berasa asam manis seperti kehidupan, yang sebenarnya juga sudah banyak orang tahu, ya?


Intinya, novel Orange lumayanlah, cukup menghibur. Edisi yang baru dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi cantik karya penulisnya sendiri. Keren ya, sudah pandai menulis, pandai menggambar pula. Saya jadi iri, hehehe….

Sabtu, 03 Juni 2017

Resensi Buku: With or Without You



Penulis: Prisca Primasari

Penyunting: Idha Umamah

Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2016

Halaman: 233

ISBN: 978-979-780-861-7



Tulip sedang sibuk-sibuknya mengurus persiapan pernikahan dengan Gris ketika calon suaminya itu memberi kabar buruk. Gris dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja, sekarang ia pengangguran dan merasa tak yakin mampu membahagiakan Tulip. Namun, Tulip tetap optimis Gris akan segera kembali bekerja dan mereka akan baik-baik saja. 


Saat memberi kabar itu, Gris dan Tulip bertemu di kedai favorit mereka. Saat itu juga, Tulip bertemu dengan pemuda nyentrik yang mengaku bernama Flynn dan memberikan sebuah buku Edgar Allan Poe dengan sebuah kartu nama di dalamnya. Entah dari mana, mungkin menguping pembicaraan mereka berdua, Flynn mengetahui Tulip dan Gris akan menikah dan Gris dipecat.


Tulip merasa amat penasaran dengan Flynn juga sebuah nama yang tercantum di kartu nama tersebut. Wilhelm Beauvoir. Siapakah mereka? Apa maksud Flynn memberi buku dan kartu nama tersebut sekaligu bertanya-tanya tentang hobi Gris menulis cerpen?


Tulip ingin mereka memecahkan misteri pria nyentrik tersebut. Awalnya Gris menyetujui. Namun, lama-kelamaan, Gris merasa semua itu omong kosong dan tidak akan membuatnya mendapat pekerjaan. Terlebih lagi, Mama Tulip memberi tahu Gris tentang kondisi Tulip yang sebenarnya. Yang membuat Gris semakin ragu untuk melanjutkan pernikahan dengan gadis yang dicintainya tersebut. Bagaimana mungkin ia bisa membahagiakan Tulip dengan kondisinya saat ini? Seorang pengangguran dan pelupa akut. Apakah Gris dan Tulip akan melanjutkan rencana pernikahan mereka atau malah mengubur impian itu?

My Review



Satu lagi kisah manis dari Prisca Primasari. Kali ini tokoh utama kita adalah Tulip dan Gris. Tulip, perempuan muda yang suka menjahit quilt dan Gris, pemuda yang bekerja di perusahaan stationery dan akhirnya dipecat. 


Sejak bertemu dengan Flynn, mereka mengalami petualangan aneh tentang sosok Wilhelm Beauvoir. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Flynn dan Wilhelm, baik Tulip maupun Gris tidak bisa menebak. Tetapi Tulip yakin ada sesuatu dibalik misteri itu yang harus mereka pecahkan berdua. 


Kisah Tulip dan Gris mengalir dengan lancar, dan sosok Flynn dan Wilhelm membuat saya terus membaca buku ini sampai habis. Saya suka dengan tokoh Gris di sini. Romantis. Saya juga suka dengan Tulip yang tampak sederhana dan nggak neko-neko. Mereka berdua memang tampak seperti pasangan biasa-biasa saja yang mungkin sekali ada di dunia nyata. 


Sebenarnya saya curiga Flynn adalah salah satu tokoh yang pernah muncul di cerita Prisca yang lain. Dan ternyata benar saja, Flyyn adalah Sena-nya Aline di novel Paris. Ia muncul lagi di cerita ini sebagai tokoh sampingan. Masih tetap dengan gayanya yang khas, syal bertumpuk.


Saya sempat meneteskan air mata di bagian akhir, saat…… (biar nggak spoiler). Intinya, kisah Tulip dan Gris ini menyentuh banget, deh. Saya bisa membayangkan seperti apa pedihnya sedang melakukan persiapan pernikahan, eh tiba-tiba dipecat. Apalagi itu terjadi di pihak laki-laki, kalau jadi Gris, pasti saya sudah stress berat. Syukurlah Gris memiliki Tulip yang selalu optimis dan mencintainya.


Pokoknya, buku ini bagus, saya suka. Sedikit yang agak mengganjal buat saya adalah tentang judul. Entah mengapa, bagi saya judulnya tampak tidak terlalu menarik dan tidak cukup mewakili keindahan kisah cinta Tulip dan Gris. Bagaimanapun juga, saya tetap suka dengan With or Without You dan selalu menanti karya-karya Prisca Primasari selanjutnya.